Menu

Mode Gelap

Kolom Jum'at · 29 Agu 2025 16:09 WIB ·

Peringatan Maulid Nabi dan Teladan Akhlak Kenabian


 Sumber: pondokpesantrensahid.sch.id Perbesar

Sumber: pondokpesantrensahid.sch.id

KOLOM JUM’AT CXXXI
Jum’at, 29 Agustus 2025

Datangnya bulan Rabi’ul Awal disambut oleh masyarakat dengan penuh suka cita. Lantaran pada bulan ini terdapat ulang tahun baginda Rasulullah Muhammad Saw. Anak-anak, remaja, dan orang tua berbondong-bondong melantunkan shalawat di setiap sudut surau, masjid kampung dan perkotaan. Di desa-desa, anak-anak bersuka ria merasakan kebahagiaan itu, karena bisa menikmati aneka jajanan dan makanan yang dibagikan cuma-cuma di setiap majlis dzibaan. Masyarakat beramai-ramai membaca manaqib atau sejarah beliau dari kitab al-Barzanji. Sebuah risalah kecil yang dikarang oleh Imam Zainal Abidin Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Husaini al-Syahzuri al-Barzanji yang menjelaskan tentang biografi Nabi. Kegiatan ini menjadi tradisi yang sangat diagungkan oleh orang muslim di Indonesia.

Tetapi pertanyaannya, apakah memang benar memperingati hari lahir Nabi cukup kita lakukan dengan cara seperti itu? Apakah dengan peringatan seperti itu kita sudah merasa menjadi umat baginda Nabi yang baik? Rasanya ironis sekali jika di negeri ini majlis shalawat Nabi selalu penuh diminati massa. Ribuan umat memadati lapangan, surau, masjid dengan khusyuk melantunkan shalawat. Para pejabat dengan baju putih dan sarung rapi merasa menjadi sangat relegius ketika menghadiri majlis pengajian dan shalawatan. Mereka duduk di panggung dan deretan paling depan. Bergeleng-geleng seperti khusyuk meresapi dzikir.

Tetapi anehnya setelah itu mereka tidak malu mempertontonkan sikap arogansi dengan menggunakan kewenangan jabatan mereka. Uang negara dikeruk tanpa malu. Rakyat miskin diminta membiayai mereka yang berfoya-foya. Kewenangan diubah menjadi kesewenang-wenangan. Di bagian lain kita juga disuguhi sikap agamawan yang sangat menjijikkan. Agamawan yang dengan menggunakan dalih agama melakukan pelecehan, melakukan kekerasan, dan menjadi budak selangkangan.

Rasanya malu dan sedih melihat penampakan negeri ini. Kita memperingati maulid Nabi di mana-mana. Kita dikenal sebagai negeri mayoritas muslim. Tetapi kita gagal dalam meneladani perjuangan Nabi yang sesungguhnya. Shalawat kita lantunkan, tetapi ternyata kita belum mampu meresapi dan merefleksikan akhlak yang dicontohkan Nabi.

Nabi adalah pemimpin negara sekaligus pemimpin agama. Beliau menjalankan dua amanah itu dengan akhlak mulia. Salah satu akhlak utama Nabi adalah pembelaannya terhadap masyarakat yang tertindas, para mustadh’afin, baik laki-laki maupun perempuan. Karena itu adalah esensi ajaran ketauhidan yang beliau bawa. Akhlak-akhlak beliau itu bisa dibaca dari hadis-hadis yang beliau tuturkan. Beliau meneladankan kepedulian kepada anak yatim seperti dalam hadis:

عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم”: أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا”، وأشار بالسبَّابة والوسطى، وفرَّج بينهما. رواه البخاري

Artinya: “Dari Sahl bin Sa’d Ra, berkata: Nabi Saw besabda: “Saya dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini.” Beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya sambil agak merenggangkannya.” (HR. Bukhari, Hadis No. 5304).

Dalam hadis lain juga terdapat kisah teladan Nabi yang mengingatkan Abu Dzar ketika memperlakukan perempuan dari kalangan orang ajam (non-Arab) secara diskriminatif:

مَرَرْنَا بِأَبِي ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ وَعَلَى غُلَامِهِ مِثْلُهُ فَقُلْنَا يَا أَبَا ذَرٍّ لَوْ جَمَعْتَ بَيْنَهُمَا كَانَتْ حُلَّةً فَقَالَ إِنَّهُ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَانِي كَلَامٌ وَكَانَتْ أُمُّهُ أَعْجَمِيَّةً فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَشَكَانِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَقِيتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ سَبَّ الرِّجَالَ سَبُّوا أَبَاهُ وَأُمَّهُ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ هُمْ إِخْوَانُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَأَطْعِمُوهُمْ مِمَّا تَأْكُلُونَ وَأَلْبِسُوهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ. رواه مسلم

Artinya: “Kami pernah melewati Abu Dzar di Rabdzah, saat itu dia mengenakan kain burdah, budaknya pun mengenakan pakainan yang sama dengan dirinya. Kami lalu bertanya: “Wahai Abu Dzar! Sekiranya engkau menggabungkan dua kain burdah itu, tentu akan menjadi pakaian yang lengkap.” Lalu ia berkata: “Dulu saya pernah adu mulut dengan saudaraku seiman yang ibunya adalah orang Ajam (non-Arab). Lalu saya mengejek ibunya hingga ia pun mengadu kepada Rasulullah Saw. Kemudian saat saya berjumpa dengan Nabi, beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar! Sungguh dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah.” Maka aku menjawab: “Wahai Rasul! Barang siapa mencela laki-laki, maka mereka akan mencela ayah dan ibunya.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar! Sungguh dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah. Mereka semua adalah saudara-saudaramu yang dijadikan tunduk di bawah kekuasanmu. Oleh karena itu, berilah mereka makan sebagaimana yang kamu makan. Berilah mereka pakaian sebagaimana pakaian yang kamu kenakan. Janganlah membebani mereka di luar kemampuan mereka. Jika kamu memberi beban mereka, maka bantulah mereka.” (HR. Muslim, Hadis No. 4403)

Dalam hadits lain Rasulullah juga mengatakan bahwa pembantu adalah saudara kita, maka berilah makanan seperti apa yang kita makan dan berilah pakaian seperti apa yang kita pakai.

Kepada perempuan, Nabi berwasiat agar memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang:

عنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَمْرِو بْنِ الأَحْوَصِ حَدَّثَنِى أَبِى أَنَّهُ شَهِدَ حِجَّةَ الْوَدَاعِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَذَكَّرَ وَوَعَظَ ثُمَّ قَالَ: اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٍ. لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ لَكُمْ مِنْ نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ وَلاَ يَأْذَنَّ فِى بُيُوتِكُمُ لِمَنْ تَكْرَهُونَ أَلاَ وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِى كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ. رواه ابن ماجه

Artinya: “Dari ‘Amr bin Ahwash Ra. Ia mengikuti Haji Wada’ bersama Rasulullah Saw. Dalam khutbahnya, Rasul memuja-muji Allah, mengingatkan umatnya dan memberi nasihat-nasihat. Di antaranya Rasul Saw bersabda: “Saling berwasiatlah di antara kalian agar berbuat baik terhadap perempuan, karena mereka berada pada posisi lemah di antara kalian. Kamu tidak berhak apapun dari mereka kecuali untuk kebaikan itu. Kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Kalau mereka melakukan hal itu, maka berpisahlah dari ranjang mereka, dan pukulah mereka dengan pukulan yang tidak mencederai. Kalau mereka sudah taat kepada kamu, maka janganlah cari-cara jalan (untuk menyakiti) mereka. Kamu punya hak atas istri kamu, dan istri kamu juga punya hak atas kamu. Hak kamu atas istri kamu, adalah bahwa ranjang kamu tidak boleh diinjak orang yang kamu benci, rumah kamu juga tidak boleh dimasuki orang yang kamu benci. Hak mereka atas kamu adalah perlakuan baik kamu terhadap mereka, baik terkait pakaian maupun makanan mereka”. (Sunan Ibn Majah, Hadis No. 1851).

Risalah tauhid yang dibawa oleh Nabi tidak hanya mengajarkan tentang keesaan Allah, tetapi juga mengajarkan keadilan, kasih sayang, dan kepedulian kepada semua pihak, terutama kepada kelompok yang lemah, tertindas, dan terpinggirkan. Karena makna pengesaan kepada Allah tidak akan terwujud tanpa adanya sikap egaliter kepada sesama makhluk Allah. Syaikh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab Tafsir al-Wasith, ketika memulai prolog dalam menafsirkan surat al-Qashash menyatakan dengan sangat indah:

   إن رسالة الإسلام الخالدة إنما ركزت في مخططها العام على تحقيق العدل ونشره، ومحاربة الظلم وسدنته، والحدّ من غطرسة أهل الاستكبار والبغي، والعمل على مناصرة المستضعفين المظلومين في كل مكان

Artinya: “Sesungguhnya risalah Islam yang abadi itu, secara umum hadir untuk mewujudkan dan menebar keadilan, memerangi dan menghilangkan kezaliman, menekan kesombongan orang-orang yang angkuh dan aniaya serta berupaya untuk menolong orang-orang yang lemah dan tertindas di setiap tempat.”

Jika membaca hadis-hadis di atas, sudahkah diri kita meneladani akhlak beliau? Sudahkan para pemimpin kita mencerminkan akhlak beliau? Jika belum, mengapa para kaum agamawan yang lebih paham agama tidak berani tegas mengkritik mereka? Mengapa justru orang awam yang rela berpanas-panasan melakukan aksi ke jalan mengkritik kezaliman hingga mati menjadi martir keadilan? Sementara para jamaah pengajian justru mengkritik pendemo yang telah mendakwahkan keadilan.

Mari dengan semangat peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallahu alihi wa sallam kita tingkatkan kepedulian kita kepada saudara-saudara kita yang lemah, tertindas, dan teraniaya sebagai wujud meneladani akhlak Nabi yang mulia. Gunakan jabatanmu untuk memperjuangkan mereka. Gunakan ilmu agamamu untuk menghadirkan pembelaan kepada mereka. Karena itulah sesungguhnya nilai profetik dari risalah kenabian. Shallu alan Nabi Muhammad.

Oleh: Umdah El Baroroh, Pendamping santri Mansajul Ulum.

Sumber:

Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Hadis No. 5304

Imam Muslim, Shahih Muslim, Hadis No. 4403

Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Hadis No. 1851

Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Wasith

https://islam.nu.or.id/tafsir/3-kritik-sosial-dalam-al-qur-an-suara-islam-bagi-kaum-tertindas-Pkl5I

https://kupipedia.id/index.php?title=Ngaji_60_Hadits_Perempuan:_Hadits_ke-49_tentang_Hak_dan_Kewajiban_Pasangan_Suami_Istri&mobileaction=toggle_view_desktop

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 124 kali

Baca Lainnya

Benarkah Indonesia telah Merdeka?

15 Agustus 2025 - 15:19 WIB

Menimbang Ulang Pernikahan Dini: Antara Tren, Risiko, dan Tujuan Syariat

1 Agustus 2025 - 12:36 WIB

Rekonstruksi Fikih dalam Membangun  Kehidupan Berparadigma Kesetaraan Gender Pesantren

18 Juli 2025 - 12:45 WIB

Aktualisasi Fikih dalam Menghadapi  Era Society 5.0

4 Juli 2025 - 11:33 WIB

Sumber: id.pinterest.com.

Kurban di Hari Raya Idul Adha: Ungkapan Cinta Seorang Hamba

20 Juni 2025 - 14:30 WIB

Idul Adha: Refleksi Pengorbanan dan Ketaatan dalam Islam

6 Juni 2025 - 11:48 WIB

Trending di Kolom Jum'at