Menu

Mode Gelap

Kolom Jum'at · 17 Mei 2024 13:26 WIB ·

Stop Cinta Monyet!


 Stop Cinta Monyet! Perbesar

KOLOM JUM’AT XLVIII
Jum’at, 17 Mei 2024

Masa remaja menurut banyak orang dianggap sebagai masa terindah dalam hidup. Pada masa ini seseorang akan mulai merasakan ketertarikan dan rasa cinta pada lawan jenisnya. Menaruh perasaan cinta kepada lawan jenis merupakan hal yang wajar dirasakan oleh manusia. Karena cinta adalah fitrah. Ia diciptakan Allah dalam diri setiap makhluk hidup.

Namun, rasa cinta yang dialami, terutama oleh kalangan remaja kebanyakan salah penerapan. Mereka sering terbawa oleh perasaan mabuk kepayang dengan kekasihnya. Tak jarang mereka terlalu asyik dengan gelembung-gelembung cinta hingga melupakan kewajiban-kewajiban yang harus mereka tunaikan. Bahkan ada yang berani melanggar sayri’at agama. Na’udzubillahi min dzalik.

Akibatnya, banyak dari mereka yang mengalami kekerasan dan menjadi korban pelecehan seksual. Kita sering menemui kasus-kasus pencabulan, penganiayaan, bahkan pembunuhan yang berlatarbelakang percintaan. Rasa obsesi, posesi, cemburu, dan sakit hati akibat rasa cinta yang berlebihan menjadi faktor pemicu tingginya kasus-kasus di atas. Hal ini menjadikan semakin sulit tercapainya makna cinta yang sesungguhnya.

Fakta semacam itu, sekarang mulai menjangkiti kalangan santri. Santri yang rata-rata memasuki masa remaja ini, terkadang terjerumus di dalam cinta yang memabukkan. Walaupun interaksi antara santri putra dan putri terbatas, tetapi ada saja cara yang mereka lakukan untuk mengekspresikan rasa cinta. Bahkan hingga berani melanggar peraturan pondok.

Apa Itu Cinta Monyet?

Perasaan cinta yang muncul pada masa remaja ini sering disebut sebagai cinta monyet. Cinta monyet adalah perasaan romantis atau perasaan cinta yang muncul saat kematangan usia seseorang masih belum sempurna. Sebagian besar, cinta monyet ini tidak mengarah pada komitmen jangka panjang. Cinta itu muncul sekonyong-konyong dan bisa saja hilang begitu saja tanpa ada tanggung jawab. Maka dari itu, anak remaja tidak boleh terjebak di dalam cinta monyet yang hanya menumbuhkan rasa senang sementara.

Istilah cinta monyet ini sebenarnya merujuk pada perilaku monyet. Perasaan cinta mereka yang timbul dan hilang sewaktu-waktu itu dianalogikan seperti monyet. Monyet seringkali berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Perilaku inilah yang menjadi analogi cinta di kalangan remaja. Cinta ini tidak berlangsung lama dan mudah berpaling ke lain hati.

Di dalam kumparan.com dijelaskan tentang ciri-ciri cinta monyet yang sering dirasakan oleh kalangan remaja ketika jatuh cinta. Di antara ciri-ciri tersebut adalah:

  1. Adanya obsesi untuk mengungkapkan perasaan pada orang yang dicintai
  2. Sering curi-curi pandang kepada orang yang dicintai
  3. Sering memikirkan orang yang dicintai
  4. Merasa sangat bersemangat ketika bertemu dengan orang yang dicintai
  5. Merasa takut kehilangan yang teramat sangat
  6. Dilakukan untuk bersenang-bersenang

Cinta dalam Pandangan Islam

Islam adalah agama cinta. Ajaran-ajaran Islam mendorong umatnya untuk saling mencintai. Bahkan banyak para ulama yang mengarang kitab tentang cinta, seperti Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah yang mengarang kitab Raudhat al-Muhibbin Wa Nuzhat Al-Musytaqqin (Taman Para Pecinta dan Titah Para Perindu) dan Ibnu Abi Hajlah at-Tilimsani Syihabuddin Ahmad bin Yahya yang mengarang kitab Diwan As-Shababah yang berisi kumpulan sajak-sajak cinta. Ada juga Jalaluddin Rumi; seorang sufi besar yang dikenal dengan berbagai sajak-sajak cintanya.

Menurut Rumi, cinta merupakan kata yang teramat sulit untuk didefinisikan. Banyak perbedaan para pakar cinta dalam mengartikannya. Cinta adalah kerja jiwa atau ruh. Nah, bagaimana cara kita mengartikan kerja jiwa atau ruh? Di dalam Al- Qur’an surat al-Isra ayat 85 dijelaskan bahwa “ruh itu urusan dari Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit”.

Di sisi lain, cinta pada hakikatnya mempunyai objek yang luas. Ada cinta keluarga, cinta tanah air, cinta sesama manusia, cinta rasul, cinta pasangan, dan yang lainnya.

Di dalam surat at-Taubah ayat 24, Allah membicarakan objek-objek cinta dan peringkat-peringkatnya.

قل إن كان آباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدي القوم الفاسقين

“Katakanlah: ‘jika bapak-bapak kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, pasangan-pasangn kamu, sanak keluarga kamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Ayat di atas menjelaskan pandangan Islam tentang tiga peringkat cinta. Peringkat tertinggi adalah cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah Saw, kemudian cinta terhadap manusia dalam berbagai posisinya dan yang terakhir cinta terhadap harta benda.

Cinta dalam Islam mempunyai cakupan yang sangat luas. Karena itu salah, jika kalangan remaja hanya mengartikan cinta sebagai cinta antar lawan jenis semata. Ayat di atas juga mengingatkan kepada kita agar tidak sampai mencintai selain Allah dengan melampaui batas hingga mengesampingkan syari’at agama.

Jatuh cinta itu bukan suatu dosa. Tetapi, cinta yang berlebihan akan mendatangkan suatu dosa. Karena itu jadikan rasa cinta sebagai penghias masa remaja, dan sebagai amunisi semangat dalam belajar. Jangan sampai rasa cinta itu diekspresikan dengan mengesampingkan kewajiban kita sebagai anak muda penerus bangsa dan ulama.

Penulis: Putri Nadillah, santri Mansajul Ulum.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 180 kali

Baca Lainnya

Hikmah Hari Raya Idul Adha

14 Juni 2024 - 08:06 WIB

Berpendidikan Sebagai Karir atau Pola Pikir?

31 Mei 2024 - 10:34 WIB

Aktualisasi Fiqh dalam Merawat Kebangsaan dan Kebhinekaan

3 Mei 2024 - 15:17 WIB

Inovasi Bagi Perempuan Pesantren dalam Meraih Kesetaraan

19 April 2024 - 16:05 WIB

Hikmah di Balik Kewajiban Zakat Fitrah

5 April 2024 - 13:05 WIB

Keutamaan Membaca Al-Qur’an di Malam Nuzulul Qur’an

22 Maret 2024 - 13:16 WIB

Trending di Kolom Jum'at