Menjelang pelaksanaan ujian Caturwulan (Cawu) II, Madrasah Diniyah Mansajul Ulum menggelar acara pengarahan dan motivasi bagi para santri pada Minggu, 18 Oktober 2026 di halaman utama ponpes Mansajul Ulum.
Dalam kegiatan tersebut, KH. M. Liwauddin Najib menyampaikan motivasi dengan memaparkan tiga konsep tholabul ilmi (mencari ilmu) yang dikutip dari maqalah Imam Syafi’i. Pertama, santri harus mampu menahan hawa nafsu. Menurutnya, terus-menerus menuruti hawa nafsu hanya akan menimbulkan rasa malas belajar.
Kedua, beliau menegaskan pentingnya membiasakan diri dengan hidup sederhana. Kebiasaan ini diyakini akan membentuk santri menjadi pribadi yang memiliki tingkat empati tinggi. Beliau mencontohkan, ketika santri kelak terjun ke masyarakat, mereka akan lebih peka dan sigap membantu tetangga yang sedang kesusahan karena sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan.
Ketiga, sebagai seorang pencari ilmu, santri dinilai perlu untuk selalu meminta arahan kepada guru dan masyayikh (ulama). Hal ini dapat diwujudkan melalui tradisi sowan serta meminta doa sebagai bentuk takzim (penghormatan) santri kepada gurunya.
Beliau juga mengingatkan agar santri tidak terlena dengan fasilitas atau keistimewaan yang mereka miliki saat ini. “Di hari ini mungkin kita mendapat harta yang cukup, teman-teman yang mendukung, dan support dari orang tua. Tapi hal itu jangan dijadikan alasan untuk tidak bersungguh-sungguh di dalam belajar. Yakinilah hasil yang maksimal itu sesuai dengan proses yang selama ini kita lakukan,” ujar KH. M. Liwauddin Najib.
Acara pengarahan yang sudah menjadi tradisi pitutur guru kepada muridnya ini kemudian ditutup dengan sesi doa bersama. Melalui doa tersebut, diharapkan seluruh santri dapat menjalankan proses pembelajaran semaksimal mungkin demi menghadapi ujian Cawu II.
Beliau meutup acara tersebut dengan membaca doa bersama dengan harapan para santri bisa menjalankan proses pembelajaran semaksimal mungkin.
Reporter: Miftahus Shofi Kamal, santri Mansajul Ulum










