Niat tulus untuk istifadah (mengambil faedah) kembali mengantarkan Vicky Oktavianto meraih prestasi membanggakan. Ia berhasil menyabet Juara Harapan 2 pada cabang lomba Kitab Jauharul Maknun dalam ajang MQK (Musabaqah Qira’atil Kutub) Tingkat Provinsi Jawa Tengah, pada hari senin tanggal 19 Oktober 2026.
Kompetisi ini diselenggarakan oleh pengurus RMI PWNU Jawa Tengah yang berlangsung di Pondok Pesantren Roudloh At-Thohiriyyah, Kajen, Margoyoso, Pati. MQK tahun ini diikuti oleh 124 peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah dengan empat cabang perlombaan yaitu, Kitab Alfiyah Ibnu Malik, Fathul Wahhab, Jauharul Maknun, dan Faraidul Bahiyyah.
Menurut Vicky, keikutsertaannya sejak awal bukanlah semata-mata mengejar juara. Ia mengaku lebih fokus memaksimalkan proses belajar, menyerap pengalaman selama lomba, dan mengambil manfaat dari setiap koreksi yang diberikan oleh dewan juri.
“Sebagai bentuk pengamalan kitab Ta’limul Muta’allim, kita sebagai santri harus selalu istifadah kapan pun dan di mana pun berada. Lomba bukanlah ajang untuk mencari juara dan rivalitas, melainkan ruang bagi kita untuk istifadah seluas-luasnya,” ungkap Vicky saat menceritakan motivasi awalnya mengikuti kompetisi tersebut.
Prinsip itu benar-benar ia pegang sejak masa persiapan hingga hari pelaksanaan. Menurutnya, kesempatan bertemu dengan rekan-rekan santri dari berbagai penjuru daerah serta menyimak langsung arahan para masyayikh dan juga dewan juri adalah ilmu yang tak ternilai harganya.
Terkait pelaksanaan lomba tersebut, Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, KH. Ahmad Fadlullah Turmudzi, menjelaskan bahwa MQK ini memang digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional. Namun yang lebih utama ialah untuk meningkatkan kualitas santri dalam mengkaji kitab kuning.
“Di era sekarang, kecanggihan teknologi berkembang begitu pesat. Maka, kita sebagai santri harus meningkatkan proses pembelajaran kitab kuning untuk menghadapi fenomena saat ini,” tutur Kiai Fadlullah dalam sambutannya.
Melalui ajang MQK seperti ini, para santri diharapkan tidak hanya semakin matang dalam memahami isi kitab kuning, tetapi juga terus mengasah kreativitas agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman ini.
Reporter: Muhammad Alif, santri Mansajul Ulum










