Menu

Mode Gelap

Opini Santri · 8 Sep 2026 14:09 WIB ·

Mengenal Lebih Dalam Kesehatan Mental


 Mengenal Lebih Dalam Kesehatan Mental Perbesar

Akhir akhir ini media massa Indonesia sedang gencar-gencarnya pemberitaan terkait masalah yang jarang disadari oleh masyarakat, yakni mengenai kesehatan mental terutama depresi, perlu diketahui kesehatan mental merupakan kondisi yang dialami oleh seseorang yang mencakup tentang emosional, psikologis, dan interaksi  sosial. Dalam hal ini kesehatan mental dapat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang melakukan proses  berpikir, merasa, dan bertindak, serta mengatasi stres, bersosial dengan orang lain, dan membuat keputusan. Sebagai bagian dari kesehatan secara keseluruhan, kesehatan mental memiliki peran yang sangat besar dalam kualitas hidup seseorang. Dalam hal ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan terkait  kesehatan mental sebagai keadaan di mana individu dapat menyadari potensi diri mereka, menghadapi tekanan hidup normal, bekerja secara produktif, dan berkontribusi kepada komunitas mereka. Lantas bagaimana depresi dapat terjadi di Indonesia, apa yang menyebabkan hal itu terjadi dan bagaimana cara kita menyembuhkan depresi tersebut? 

Pengertian Depresi

Salah satu penyakit yang masih dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia adalah penyakit mental dimana seseorang yang mengidap penyakit tersebut  dianggap sebagai orang yang jarang ibadah, kurang bersyukur bahkan terkena ilmu sihir, santet maupun guna-guna. Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa jenis masalah kesehatan mental yang paling umum terjadi yaitu: stress, gangguan kecemasan dan depresi. Menurut kementrian kesehatan Depresi merupakan gangguan suasana hati yang menyebabkan penderitanya terus-menerus merasa sedih. Hal ini menjadi perbedaan antara seseorang yang sedih biasa dengan seseorang yang mengalami depresi, seseorang yang mengalami kesedihan biasa umumnya berlangsung selama beberapa hari, sedangkan seseorang mengalami depresi bisanya berlangsung hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Sedangkan menurut menurut Atkinson yang dikutip oleh Indah Rizki dkk, mengungkapkan bahwa  depresi merupakan suatu gangguan mood yang dapat dilihat dari seseorang yang sudah tidak ada harapan dan patah hati, mengalami ketidakberdayaan yang berlebihan, mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan ketika memulai sesuatu kegiatan, sulit untuk berkonsentrasi, tidak memiliki semangat hidup, selalu tegang, bahkan selalu ingin melakukan percobaan bunuh diri.

Berdasarkan kasus yang diberitakan oleh media mengenai depresi akhir-akhir ini seperti halnya seorang dokter yang mendapatkan intimidasi dari 3 anggota DPR sehingga dia melakukan bunuh diri akibat depresi dan bahkan berdasarkan pemaparan Menteri Kesehatan Budi Gunadi memperkirakan masyarakat Indonesia yang mengalami gangguan mental sebanyak 28 juta jiwa. Kondisi ini mencakup kecemasan, gangguan jiwa dan depresi. Sedangkan Hasil penelitian non-random pada populasi di Surabaya menunjukkan proporsi depresi pada remaja sebesar 3,9%, pada dewasa 6,2% dan geriatri 7,7%. Pada populasi berisiko tinggi cukup besar seperti pengguna Napza sebesar 12,5%, pekerja seks sebesar 12,8% dan individu tahanan sebesar 18,9%. Secara umum, prevalensi pada populasi umum sebesar 9,5%. Pada populasi tidak berisiko sebesar 5,1%, sedangkan prevalensi pada kelompok berisiko sebesar 15,4%. Dengan demikian dapat menyadarkan kita bahwa kondisi kelompok berisiko mengalami beban ganda dalam kehidupan mereka, beban kondisi kehidupannya dan beban gangguan depresinya. Lantas apa gejala seseorang yang mengalami depresi?

Gejala depresi

Ketika seseorang mengalami depresi, dapat kita lihat dari berbagai cara seperti pola pikir, gerak tubuh, dan perilaku. Depresi pada tahap yang masih ringan, sebagian besar orang tidak begitu merasakan gejalanya. Namun yang perlu diingat, setiap orang memiliki perbedaan yang mendasar yang memungkinkan suatu peristiwa atau perilaku yang sedang dihadapi dan memberikan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. 

Berikut Gejala-gejala depresi dapat kita lihat dari tiga segi yaitu gejala dilihat dari segi fisik psikis dan sosial. 

  1. Gejala Fisik 

Gejala depresi menurut beberapa ahli dapat dilihat dari berat maupun ringannya depresi yang dialami seseorang tergantung rentangan dan variasinya. Namun dalam gejala fisik secara garis besar terdapat beberapa gejala yang relatif mudah untuk dideteksi, seperti:

  1. Pola tidur yang terganggu . Misalnya, susah tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur
  2. Aktivitas yang dilakukan mengalami penurunan. seseorang yang sedang mengalami depresi pada umumnya menunjukkan perilaku yang pasif seperti melakukan kegiatan yang tidak melibatkan orang lain yaitu menonton TV, makan, dan tidur secara terus menerus 
  3. Menurunnya efisiensi kerja. Umumnya seseorang yang mengalami depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada suatu hal atau pekerjaan. Sehingga, mereka juga akan sulit memfokuskan energi pada sesuatu hal yang prioritas. Kebanyakan perbuatan yang dilakukan tidak efisien dan tidak berguna seperti mabuk, melamun, merokok berlebihan dan sering menelepon seseorang tanpa adanya keperluan. 
  4. Menurunnya produktivitas dalam pekerjaan. Seseorang yang mengalami depresi cenderung memiliki motivasi kerja yang rendah. Sehingga, ia tidak dapat menikmati dan merasakan rasa puas terhadap hal-hal yang telah dia lakukan. 
  5. Mudah merasa letih dan sakit. Depresi merupakan sebuah perasaan negatif, maka tak heran apabila seseorang yang mengalaminya menjadi cepat letih karena beban pikiran dan perasaannya ia pikul dimanapun dan kapanpun tanpa adanya istirahat.

2. Gejala Psikis.

Adapun beberapa gejala depresi secara psikis sebagai berikut: 

  1. Kehilangan rasa percaya diri, penyebabnya seseorang yang mengalami depresi cenderung memandang segala sesuatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri 
  2. Sensitif, orang yang mengalami depresi senang kali mengaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Perasaannya sensitif sekali sehingga sering peristiwa yang netral jadi dipandang dari sudut pandang yang berbeda oleh mereka, bahkan disalah artikan. Akibatnya, mereka mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga akan maksud orang lain, mudah sedih, murung, dan lebih suka menyendiri 
  3. Merasa diri tidak berguna. Perasaan tidak berguna ini muncul karena mereka merasa menjadi orang yang gagal terutama di bidang atau lingkungan yang seharusnya mereka kuasai.
  4. Perasaan bersalah. perasaan bersalah terkadang timbul dalam pemikiran orang yang mengalami depresi. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan
  5. Perasaan terbebani. Banyak orang yang menyalahkan orang lain atas kesusahan yang dialaminya. Mereka merasa terbeban berat karena merasa terlalu dibebani tanggung jawab yang berat.

3. Gejala Sosial

Problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan rekan kerja atasan atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk masalah ini tidak hanya berbentuk konflik, namun masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada diantara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal. Mereka merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Gejala utama bagi orang yang mengalami depresi adalah kurangnya antusiasme dari seseorang, kesedihan yang berlarut-larut, perasaan bersalah yang berlebihan, merasa rendah diri dan gangguan tidur yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Cara penyembuhan depresi

Perlu diketahui bila anda telah mengalami tanda-tanda yang telah disebutkan diatas maka anda harus melakukan hal sebagai berikut:

  1. Olahraga. Salah satu cara dalam menyembuhkan penyakit mental seperti depresi adalah dengan sering-sering berolahraga karena pada saat kita berolahraga maka tubuh akan mengeluarkan beberapa hormon seperti: hormon endorfin, dopamin, serotonin dll, sehingga dengan berolahraga dapat memperbaiki suasana hati, meningkatkan energi, dan menjaga kesehatan mental. Hal ini diperkuat dengan berbagai penelitian yang dikutip oleh dr.Soeklola Muliady SpKJ dengan penelitian yang dilakukan oleh kohort terhadap 33.908 orang dewasa tanpa gangguan mental, yang diikuti selama 11 tahun untuk menilai hubungan olahraga dan angka kejadian depresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa olahraga secara teratur berhubungan dengan penurunan insiden depresi, yaitu sekitar 12% kasus depresi dapat dicegah dengan 1 jam low intensity exercise, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang santai setiap minggunya.
  2. Berbagi cerita pada orang lain, seseorang yang mengalami depresi seringkali memendam masalah sendirian tanpa menceritakan kepada orang lain sehingga masalah yang dialaminya bukan malah semakin berkurang tetapi akan terus menerus bertambah sehingga disarankan kepada seseorang yang mengalami depresi untuk berbagi cerita kepada orang-orang yang dapat dipercaya untuk mengurangi depresi yang dialaminya.
  3. Pergi liburan atau lakukan hal-hal yang Anda suka di saat waktu luang. Pergi liburan atau melakukan hal-hal yang kita sukai merupakan cara efektif dalam mengurangi tingkat stres dan depresi karena aktivitas traveling dapat memberikan kesenangan, memberikan istirahat kepada tubuh, dan menjaga kesehatan mental yang dapat mengubah suasana hati menjadi lebih positif.
  4. Menulis jurnal. Menulis jurnal merupakan salah satu cara dalam menurunkan tingkat depresi yang dialami karena dengan menulis seseorang mengungkapkan perasaan yang dialami tanpa ada batasan maupun takut disebarkan oleh orang lain, selain menurunkan tingkat depresi menulis juga dapat mengasah kemampuan otak dan meningkatkan kognitifnya. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurul hikmah yang dilakukan terhadap siswa SMP yang telah mengikuti terapi menulis ekspresif merasa lega karena telah mampu mengeluarkan perasaan-perasaan negatif terhadap peristiwa masa lalunya yang selama ini lebih dipendam. Para  partisipan  juga  menjadi  lebih  paham  mengenai  penyebab  dari  perasaan  negatif  yang selama ini dirasakan. Selain itu, para partisipan mulai mampu menemukan cara yang adaptif ketika emosi negatifnya muncul, salah satunya dengan menuliskan pengalaman-pengalaman tersebut ke dalam sebuah buku diary. Wallahu a’lam.

Penulis: Aulia Syifaul Kamila, Santri Mansajul Ulum.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 53 kali

Baca Lainnya

Jerat Perang AS-Iran Bagi Konsumen Lokal

1 September 2026 - 12:46 WIB

Mengenali Bahaya Toxic Relationship

25 Agustus 2026 - 13:20 WIB

Transformasi Digital di Pesantren

18 Agustus 2026 - 14:21 WIB

Dampak Negatif Media Sosial pada Gen Z

11 Agustus 2026 - 14:42 WIB

Tantangan Relevansi dan Kelayakan Pesantren Salaf 

4 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Mengendalikan Invasif, Menjaga Etika: Tinjauan Fikih atas Pengendalian Ikan Sapu-Sapu

28 Juli 2026 - 14:21 WIB

Trending di Opini Santri