Menu

Mode Gelap

Opini Santri · 25 Agu 2026 13:20 WIB ·

Mengenali Bahaya Toxic Relationship


 Mengenali Bahaya Toxic Relationship Perbesar

Pacaran kini dianggap hal biasa bahkan menjadi tren. Padahal banyak hubungan justru berakhir toxic, posesif, menyakiti mental, bahkan menjauhkan diri dari nilai-nilai agama. Dikutip dari website resmi Komnas Perempuan disampaikan bahwa kasus YTR merupakan bentuk KBGtP (Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan) berlapis yang sangat ekstrem, sadis, dan kejam, serta memenuhi unsur penganiayaan berat yang dilakukan oleh pasangan menurut hukum pidana. Adanya kasus seperti ini menjadikan kita sadar bahwa cinta itu mengakibatkan buta dan hilang akal sehingga nilai moral agama yang kita pegang itu tidak berarti apa-apa.

Salah satu masalah yang sering terjadi di kalangan remaja sekarang adalah menganggap cinta  itu sebagai “cinta buta”. Seseorang bisa terlalu larut dalam perasaan sampai lupa diri. Rela mengorbankan prinsip, waktu, bahkan hubungannya dengan Allah Swt hanya demi mempertahankan seseorang. Ada yang jadi malas ibadah karena sibuk memikirkan pasangan. Ada juga yang emosinya naik turun hanya karena chat tidak dibalas. Bahkan ada yang merasa hidupnya hancur ketika cintanya gagal. Sehingga cinta yang seperti itu tidak membuat diri berkembang menjadi lebih baik, tapi malahan memberikan pengaruh negatif yang semakin lama semakin mengikis mental diri. Karena yang dilakukan itu sekedar kesenangan semata, untuk memuaskan nafsunya akan trend-trend yang sedang marak-maraknya. 

Di era digital seperti sekarang, banyak orang tanpa sadar menjadikan konten pasangan di media sosial sebagai tolak ukur kebahagiaan dan keberhasilan sebuah hubungan. Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka dan belum tentu mencerminkan kenyataan. Semua yang mereka scroll itu ibarat seperti tolak ukur mereka berhubungan dengan pasangannya. Sehingga penerapan yang seperti itu bisa menimbulkan banyak pengaruh negatif baik pada diri sendiri maupun lingkungannya . Bahkan ada juga yang mencintai secara berlebihan hanya karena takut kehilangan, sampai terlalu larut dalam perasaan hingga lupa diri dan menjadikan seseorang sebagai pusat dunianya, yang di mana hubungan seperti itu bisa mengarah ke hubungan yang toxic. Jika hubungan seperti itu sudah tumbuh maka bisa berdampak pada mental seseorang karena adanya controlling dari pasangannya, sehingga hubungan yang seperti itu tidak menciptakan ruang aman dan nyaman pada pasangan, tapi justru bisa menciptakan rasa tertekan dan putus asa, sehingga bisa ikut berdampak pada hubungannya dengan sang Khaliq hanya demi mempertahankan seseorang dan biasanya pihak yang dirugikan adalah perempuan. 

Dampak Hubungan Yang Tidak Sehat

Hubungan yang tidak sehat yang terus-menerus dijalani tanpa melakukan perbaikan menuju hubungan yang sehat dapat menyebabkan dampak negatif bagi korban. Dampak yang terjadi dapat berupa dampak psikologis maupun dampak sosial. Berdasarkan data dari Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan pada tahun 2021, kasus kekerasan dalam berpacaran sebanyak 1.074 kasus. Sedangkan di tahun 2022, kekerasan dalam berpacaran mencapai 3.528 kasus (Pelindungan & Pemulihan, 2022), yang artinya terjadi peningkatan sebanyak 2.454 kasus kekerasan dalam berpacaran. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa dengan adanya toxic relationship di dalam suatu hubungan dapat menyebabkan konflik dan permasalahan yang baru. Dampaknya dapat merugikan individu seperti muncul beberapa penyakit misalnya insomnia, obesitas, asam lambung dan luka fisik (Nadia Nurul Saskia et al., 2023), pihak yang dirugikan menjadi pribadi yang pesimis, penuh dengan emosi negatif dan dapat menimbulkan konflik batin yang kemudian mengarah pada kecemasan, stress dan depresi (Forth et al., 2022).

Salah satu hal yang menjadikan hubungan tidak sehat adalah penggunaan budaya patriarki di masyarakat yang masih dinormalisasikan. Karena adanya anggapan bahwa laki-laki harus lebih dominan dari pada perempuan dalam segala hal. Sehingga ketika perempuan menolak atau lebih unggul dari pasangannya dapat menimbulkan ketimpangan dalam hubungan. Oleh karena itu, ketika terjadi suatu kekerasan dalam hubungan seperti itu dianggap wajar oleh masyarakat karena adanya ketidak patuhan perempuan pada pihak laki-laki. Padahal hubungan yang sehat seharusnya dibangun dari rasa menghargai, menghormati dan saling percaya bukan diukur dari siapa yang seharusnya lebih dominan atau yang lebih unggul. 

Cinta Dalam Islam

Cinta adalah salah satu perasaan paling mendalam yang dapat dirasakan oleh manusia. Namun, dalam perspektif Islam, cinta bukan hanya tentang perasaan yang menggebu-gebu atau romansa semata. Cinta adalah sebuah tanggung jawab besar yang melibatkan komitmen, pengorbanan, dan saling memberi. Cinta adalah tanggung jawab yang harus dijalani dengan  penuh kesadaran  dan komitmen.

Dalam Al-Quran, Allah berfirman : “Dan di  manusia ada orang yang menyembah selain Allah sebagai tandingan-tandingan bagi-Nya. Mereka mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai Allah. Orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165) 

Dalam hubungan cinta, baik itu cinta kepada Allah, Rasulullah, keluarga, atau sesama manusia, kita tidak hanya dituntut untuk merasakan cinta tersebut tetapi juga untuk menunaikan kewajiban dan tanggung jawab yang ada. Sehingga cinta menurut prespektif Islam adalah cinta yang dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan hubungan yang harmonis terhadap sesama dan dapat memberikan keberkahan.

Karena itu, sebelum menyelami indahnya cinta, sudah semestinya kita memahami terlebih dahulu bagaimana Islam mengajarkan cara mencintai yang benar. Sebab, cinta yang dibimbing oleh iman tidak akan membawa seseorang kepada kehancuran, melainkan menuju kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat. Wallahu ‘alam.

Penulis: Siti Ririn Ramadhani, Santri Mansajul Ulum.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

Transformasi Digital di Pesantren

18 Agustus 2026 - 14:21 WIB

Dampak Negatif Media Sosial pada Gen Z

11 Agustus 2026 - 14:42 WIB

Tantangan Relevansi dan Kelayakan Pesantren Salaf 

4 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Mengendalikan Invasif, Menjaga Etika: Tinjauan Fikih atas Pengendalian Ikan Sapu-Sapu

28 Juli 2026 - 14:21 WIB

Hari Bhakti Adhyaksa: Refleksi Kritis atas Integritas Kejaksaan

21 Juli 2026 - 13:33 WIB

Pentingnya Membangun Pertemanan yang Positif

14 Juli 2026 - 11:09 WIB

Trending di Opini Santri