“Komandan divisi kepada seluruh anggota diharap berhati-hati terhadap gravitasi black hole gaia BH-1, yang kemungkinan bisa menarik kalian jika berada dalam horizon peristiwa.”
“Komandan divisi satu dimengerti, kami juga menyadarinya.”
“Kapten divisi lima kepada komandan divisi, kami melacak adanya sebuah planet yang masuk kategori layak huni.”
“Kecepatan penuh menuju lokasi yang ditargetkan.”
“Roger,”
“Roger.”
Komunikasi ditutup. Kecepatan ditambahkan, menuju ke – 320.000 km/s. Stabilizer diaktifkan. Radar diaktifkan. Menuju planet yang termasuk dalam daftar.
***
Tahun 2102
Matahari masih belum terbit dari bawah Cakrawala. Tapi sinarnya telah berbaur dengan kegelapan malam, memberikan langit warna jingga kuning yang indah. Bintang-bintang yang tampak mulai menghilang satu persatu. Namun suhu terasa panas padahal waktu masih pagi buta, ada yang tidak beres dengan kondisi semesta.
Bangunan-bangunan tinggi yang terbuat dari beton berdiri gagah menghiasi kota. Salah satu dari bangunan tersebut terkena sinar matahari pagi. Di dalamnya beberapa ilmuwan dari belahan dunia terlihat memiliki masalah yang serius. Suara yang keras dan berisik telah menggambarkan bagaimana kondisi aula pertemuan itu.
“Semuanya mohon tenang.” ucap lantang seorang dengan postur tubuh tinggi tegap yang memimpin berjalannya rapat.
“Bagaimana kita semua bisa tenang, sedangkan kondisi bumi saat ini sangat memprihatinkan.” timpal salah seorang sambil menghentakkan tangannya ke atas meja.
“Betul, Pak. Melihat kondisi matahari yang sekarang sedang memasuki masa-masa keruntuhan, suhu permukaan bumi semakin meningkat tiap harinya, bagaimana kita bisa tenang?” lanjut seseorang dari bangku paling belakang.
Seluruh aula yang tadinya senyap kemudian riuh kembali.
“Saya tahu, saya juga menyadarinya, memang matahari sudah menampakkan keruntuhan dengan hilangnya Merkurius dan membesarnya matahari yang tidak normal.” ucap pemimpin rapat yang mulai terlihat kelelahan karena rapat telah dimulai sejak malam.
“Bagaimana jika kita melakukan perpindahan dengan rumus Newton the Principia?” kata seseorang berambut pirang yang kemungkinan berasal dari Amerika.
“Tetapi tidak ada jaminan kita berhasil melakukannya mengingat kondisi matahari yang sekarang.” timpal seseorang lagi, para hadirin kembali riuh.
“Kita tidak tahu jika kita belum mencobanya, makanya organisasi ini kita dirikan.” ucap tegas pemimpin rapat tersebut, dengan nama Paul Ehrenfest yang tertera di dada kanannya dan teks yang bertuliskan “PMBM” di lengan kirinya yang berarti Persiapan Menanggulangi Bencana Matahari. Hadirin pun berdiri serempak dengan tepuk tangan memenuhi seisi aula pertemuan.
***
Udara yang panas memenuhi ruangan, AC yang sudah menyala tidak memberikan pengaruh apa-apa, air yang keluar dari keran akhir-akhir ini sedikit sekali, hanya tetes demi tetes.
“Ini bagaimana, Mah?” ucap seorang pemuda yang sedang memegang sebuah piring, air tidak keluar dari keran ketika ia akan membilasnya.
“Pakai air desalinasi aja.” jawab wanita yang berada tidak jauh dari pemuda tersebut.
“Ya, Mah.” sahut pemuda tadi, terdengar suara deritan pintu yang menandakan bahwa ada seorang yang masuk ke dalam rumah.
“Oh, Ayah sudah pulang, kukira rapatnya akan sampai malam lagi.” ucap pemuda itu.
“Rapatnya sudah mencapai keputusan akhir, jadi lebih cepat dari perkiraan, John di mana adikmu?” jawab ayah yang baru datang sambil melontarkan pertanyaan kepada anaknya.
“Amel? Dia bermain dengan tetangga sebelah.” kata John.
“Mas Paul, mau minum dulu?” tawar ibu dengan lembut dari dapur.
“Boleh.” jawab ayah sambil melepas sepatu lalu duduk di kursi ruang tamu.
“John, ke sinilah, Nak”
“Ya, Yah.” Disusul dengan suara langkah kaki yang semakin dekat.
“Berapa umurmu sekarang?” tanya ayah sambil memejamkan mata.
“21 tahun, 3 bulan, memangnya kenapa?” ucap John sambil mengernyitkan dahi.
“Aku ingin….”
“Ini tehnya, Mas.” Ibu datang membawa teh, lalu menaruhnya di meja, dan ibu kembali ke dapur lagi. Ayah mengambil teh lalu meminumnya.
“Aku ingin kamu ikut menjadi pilot dalam misi perpindahan umat manusia.” ucap Ayah sambil meletakkan kembali tehnya, dan menghadap ke arah John.
“Bagaimana kamu mau kan?”
John terbelalak kaget mendengar penuturan ayahnya, dia bingung sebentar sebelum kembali tenang.
“Aku akan mencobanya.” ucap John dengan penuh percaya diri. Ayah tersenyum dan kembali meminum tehnya.
***
Ruangan itu dipenuhi dengan atmosfer yang berbeda, beberapa tentara berdiri menjaga pintu dengan ketat, senjata laras panjang yang tersampir di pundak mereka menunjukkan bahwa mereka tidak main-main seandainya ada orang yang menerobos masuk ke dalam. Beberapa orang berpengaruh di dunia dikumpulkan dalam satu meja panjang yang sama, termasuk Paul Ehrenfes yang menjabat sebagai pemimpin PMBM.
“Ini sudah memasuki masa kritis bumi, aku akan menjaga kestabilan suhu bumi dengan meluncurkan matahari buatanku, bagaimana ada pertanyaan?” ucap presiden China Xi Jinping IV dengan bangga.
“Persentase keberhasilan dalam misi ini berapa, Pak?” tanya seseorang yang di dadanya terdapat lambang PBB.
“Meninjau dari kondisi saat ini kemungkinan 70% berhasil.” timpal seorang ilmuwan dari AS, kemudian mulai menampilkan data grafik dalam proyeksi 3D.
“Mohon perhatian semuanya, untuk menyelamatkan berlangsungnya kehidupan umat manusia, mari kita bahas sekali lagi misi yang akan kita lakukan dua minggu lagi.” Seketika semuanya diam oleh penuturan seseorang yang berasal dari negara Sakura tersebut, dan secara serempak mulai fokus pada dokumen di depan mereka.
“Pemimpin PMBM, Paul Ehrenfes silahkan dijelaskan.” lanjutnya.
“Oke.” Paul berdiri dan mulai menjelaskan rencana misi perpindahan besar-besaran ini.
“Pertama yang perlu kita lakukan karena ini menyangkut nyawa orang banyak, jadi kita mulai membuat pesawat antariksa dengan tipe 3.1 yang bisa melaju secepat kecepatan cahaya, dengan lebar 13 km, panjang 28 km, dan tinggi 231 km, dengan bahan bakar dari gelombang spektrum bintang yang dikompres dalam mesin generator pesawat dan bisa menjadi listrik dinamis dalam jumlah yang sangat besar, begitu ya, Pak.” Paul menoleh ke arah para ilmuwan yang dijawab dengan anggukan kepala, Paul melanjutkan,
“Satu pesawat dihuni sekitar 160 juta jiwa dengan prototipe 4 radar, dengan perincian 1 radar pendeteksi gelombang sinar X, 2 radar pencari planet yang mengorbit bintang, 1 radar lagi pendeteksi bahaya, dengan kecepatan rendah 8.000 m/s – 730.000 km/s dilanjutkan 4 meriam pertahanan diri dan 2 rudal di setiap sisi, sekian.”
“Pertanda akan terjadinya supernova pada matahari sudah dirasakan oleh beberapa ilmuwan astronomi, mereka memprediksi akan terjadi 2 tahun lagi sehingga matahari buatan RRC sangat dibutuhkan mengingat kondisi suhu bumi yang terus menurun akibat hilangnya matahari. Dalam waktu 8 menit, dimulai dari meledaknya matahari karena supernova, RRC sudah harus meluncurkan matahari buatan dan seluruh umat manusia harus sudah meninggalkan bumi.” ucap Antonio melanjutkan penuturan Paul.
“Bagaimana jika kita tidak meluncurkan matahari buatan itu? Maaf izin bicara, Pak.” tanya penasaran salah satu tentara yang dari tadi berdiri di depan pintu sambil mendengarkan jalannya rapat .
“Namamu siapa?” tanya Xi Jinping IV.
“Thomas Addington, Pak” jawab tentara tersebut dengan raut muka yang agak takut.
“Jadi begini, Thomas, ketika matahari meledak, medan gravitasi terhadap bumi pun akan ikut lenyap, yang berarti bumi menjadi tidak stabil karena tidak mempunyai bintang yang menahannya. Tetapi cahaya yang dipancarkan akan tetap ada sampai 8 menit, setelah itu bumi akan mendingin dan peluang kita akan selamat sangat kecil, maka sebelum itu terjadi ketika matahari meledak kita harus segera meluncurkan matahari palsu itu untuk menstabilkan suhu bumi, meskipun sebentar,” tutup akhir Xi Jinping IV tentara yang menyebut dirinya sebagai Thomas hanya manggut-manggut.
***
Marcel, instruktur John dan rekan-rekannya berbicara ketika dia berdiri di depan pesawat-pesawat yang memenuhi sisi kanan dan kirinya yang berada pada hangar super raksasa. Para pilot dan CO pilot yang semuanya berjumlah kurang lebih 1300 orang yang siap menerbangkan pesawat dari masing-masing negara.
“Hangar ini diciptakan hanya untuk hari yang akan datang, hari yang diperkirakan para ilmuwan, yaitu akhir dari planet yang kita tinggali tiba, sekarang aku akan bertanya kepada kalian semua. Apakah kalian sanggup dengan tanggung jawab yang akan kalian emban?”
“Siap, Pak.” jawab mereka serentak.
“Nyawa para penduduk berada pada tangan kalian, aku ulangi, apakah kalian siap?”
“Iya, Pak, siap!” jawab mereka yakin. Marcell tersenyum yang kemudian berjalan menyusuri hangar, sambil berkata,
“Ikuti aku.”
Di sepanjang jalan menyusuri hangar yang terlihat hanyalah pesawat-pesawat, dan pesawat. Ukuran pesawat yang tidak pernah mereka pikirkan selama ini, karena pesawat yang biasanya mereka lihat adalah pesawat terbang yang membawa penumpang.
“Untuk memudahkan pengelompokan, semua akan dibagi pada setiap negara dan memiloti pesawat, satu pesawat dipiloti 7 orang, 5 orang sebagai CO pilot.” ujar Marcel dengan lantang.
“Untuk latihan mulai hari ini kalian akan berlatih dengan kapsul simulasi penerbangan, jangan salah anggap! Meskipun ini hanyalah sebuah simulasi, tetapi guncangan akurasi bidik dan manuvernya disesuaikan dengan pesawat yang asli, ada pertanyaan?”
Semuanya diam mendengarkan penuturan instruktur mereka yang sangat jelas kecuali satu orang.
“Untuk nama pesawat ini apa, Pak.” tanya John yang kemudian mendapat lirikan tajam dan cibiran dari rekannya.
“Nama, ya…”
“Kalau tidak salah….”
“Fraxinus” ucap Marcel yang diikuti sebuah lengkungan di bibirnya.
***
Fraxinus – mode on.
Mengaktifkan mesin pertama dan kedua.
Memasuki mode terbang.
Meriam mode siaga, radar diaktifkan.
Kanopi dilepas menuju – 50.000 km/s.
Tulisan beruntun di layar menampilkan berjalannya sistem pesawat di ruang simulasi, membuat John memegangi panel kemudi dengan erat.
John bersandar pada kursi kemudi, sambil mengingat-ingat perkataan instruktur kepadanya dan rekan-rekannya,
‘Nyawa para penduduk berada pada tangan kalian’
“Hei John, fokus sebentar lagi sampai bulan.” ujar Alex.
“Eh, Oke.” John tersentak kaget dan melirik teman yang berada di sampingnya itu. Jumlah orang yang berada di dalam ruangan simulasi itu keseluruhannya ada 12 orang. John mendapat bagian sebagai pilot yang bertugas menerbangkan Fraxinus, sedangkan para CO pilot mengawasi dan mengatur sistem kinerja pesawat. Pilot dan CO pilot berhubungan dengan menggunakan para raid sebagai alternatif komunikasi paling mudah.
Radar mendeteksi bebatuan asteroid mendekati pesawat dengan kecepatan 50 km/s – meminta izin pemusnahan. Sensor radar pesawat memberitahu mereka bahwa ada beberapa batu asteroid di sekitar mereka, kecepatan pesawat melambat, john dan rekan-rekannya saling melirik kemudian mengangguk.
“Izin diberikan” ucap John selaku kapten divisi 1.
Fraxinus mulai mengeluarkan dua meriam di sisi kanan dan kiri. Laser panas dengan kecepatan tinggi bergerak ke sana ke mari mengikuti arah datangnya bebatuan yang datang mendekat, laser melesat meninggalkan moncong meriam yang disusul laser berikutnya. Beberapa batu hancur, meninggalkan kepulan asap yang menutupi pandangan pesawat.
‘Halangan telah dihancurkan – meriam kembali ke mode siaga’
Bebarengan setelah ada pemberitahuan yang ditampilkan di layar, meriam kembali ke posisi semula.
“Untuk permulaan, kalian sudah cukup baik meskipun dibantu auto pilot.” tutur Otto Hahn, pengawas yang memberitahu mereka lewat para raid.
***
Layar mati. Pintu kapsul terbuka. Beberapa orang mulai keluar dan disambut oleh dua orang yang berdiri, terlihat salah satunya memegang sebuah dokumen di tangannya.
“Semuanya mohon berkumpul” Otto Hahn mengawali dengan sebuah teriakan lantang sambil bertepuk tangan meminta perhatian semua orang.
“Ada pemberitahuan mengenai nilai hasil latihan. Jessica, silahkan.” ujar Otto kepada orang di sampingnya. Semua orang diam, fokus mendengar sambil menerka-nerka dia akan mendapat nilai tertinggi.
“Saya Jessica Misella selaku Sekretaris PMBM akan membacakan nilai dari hasil latihan kalian semua. Untuk skuadron divisi satu yang dipimpin oleh Letnan John Smith mendapatkan poin 84.” semua orang berteriak semangat mendengarkan.
“Mohon diam, kalau berisik tidak akan saya lanjutkan.” Semua orang kembali diam, sambil berdoa dalam hati semoga mendapat nilai tertinggi.
“Skuadron divisi dua dipimpin oleh Letnan Berlin mendapat 82, skuadron divisi tiga dipimpin oleh Letnan Kukumila mendapatkan 78, skuadron divisi 4 dipimpin oleh Letnan Arya mendapatkan 83, skuadron divisi lima dipimpin Letnan Rachel mendapat 84.” Jessica mengumumkan hasil dari divisi 1 sampai 108, dengan poin tertinggi diraih oleh skuadron divisi 52 yang dipimpin oleh Mayor Robert Anjalin dengan nilai yang hampir sempurna, yaitu 97 poin.
John, Alex, dan 10 orang lainnya dari divisi 1 sepakat, meskipun hari ini nilai mereka berada pada urutan ke-14, mereka akan memaksimalkannya lagi pada ujian yang sebenarnya, 2 tahun lagi.
“Semuanya jangan berkecil hati, karena ini baru permulaannya saja. Kalian harus berusaha lebih keras lagi pada latihan berikutnya. Karena seandainya kalian gagal di sini, bagaimana kalian akan membawa penduduk negara kalian masing-masing,” ucap Otto tegas.
“Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Karena setelah ini, kalian akan mendapat pelatih yang akan selalu melatih kalian semua untuk menjadi lebih baik.” Otto Hahn mengakhiri pidatonya, semua orang bertepuk tangan meriah. Otto Hahn pergi. Kerumunan menyibak memberikan jalan.
***
Pesawat yang ukurannya hampir sebesar pulau itu sedang meringkuk di depan tim maintenance. Mereka menelan ludah dengan gugup. Selama ini mereka hanya mengendarainya lewat simulasi saja, tidak ada yang tahu sampai kapan mereka akan terus mengendarai burung besi raksasa itu. Fraxinus, pesawat antariksa terbesar di dunia itu menjadi andalan dalam misi kali ini. Rangka badan metalik yang tumpul memiliki komposisi planar yang khas dari proyek besar itu. Bentuk besar yang entah bagaimana memberi kesan seekor elang yang sedang mengincar mangsanya.
***
Bersambung
Karya: Abdullah Umar, Santri Mansajul Ulum.