Menu

Mode Gelap

Opini Santri · 14 Jul 2026 11:09 WIB ·

Pentingnya Membangun Pertemanan yang Positif


 Pentingnya Membangun Pertemanan yang Positif Perbesar

Pertemanan merupakan salah satu hal penting dalam setiap diri individu, terutama bagi para remaja yang sedang berada pada tahap pencarian jati diri. Pertemanan yang positif tidak hanya sekedar memberikan dukungan emosional, tetapi juga memberikan pengaruh bagi perkembangan diri seseorang dan menjadikan seseorang memiliki pandangan yang lebih baik di masa depan. Oleh karena  itu, perlu mengamati terlebih dahulu ketika akan bergaul dengan seseorang. Ketika seseorang bergabung dalam lingkup pertemanan yang positif maka akan muncul sosok individu yang penuh akan motivasi dan inspirasi.

Hubungan pertemanan akan selalu terjadi dimanapun, baik di lingkungan pesantren, masyarakat, sekolah dll. Hal ini dikarenakan sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Tetapi, tidak semua lingkup pertemanan  memberikan energi positif. Adakalanya sebuah pertemanan justru memberikan energi negatif, seperti turunnya minat belajar, menjadi pribadi yang toxic dan masih banyak lagi. Oleh sebab itu, alangkah baiknya kita bangun ekosistem pertemanan yang positif yang dapat membantu dan mendukung dalam mencapai grow up era.

Dijelaskan dalam halodoc bahwa hubungan pertemanan memiliki peran esensial dalam kehidupan seseorang. Kualitas pertemanan seringkali mempengaruhi kesehatan mental dan emosional secara signifikan. Memahami apa itu teman yang baik adalah langkah pertama untuk membangun dan mempertahankan ikatan sosial yang sehat dan saling mendukung. Pertemanan yang baik bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi juga tentang pertumbuhan diri dan dukungan timbal balik yang tulus. Setidaknya terdapat 6 karakteristik utama yang membentuk pondasi pertemanan sehat, yaitu

  1. Saling Mendukung

Teman sejati akan selalu mendorong dan memberi semangat, baik saat kita menghadapi kesulitan maupun merayakan kesuksesan. Namun, dukungan ini bersifat realistis dan tidak terjebak dalam positivitas beracun (toxic positivity) yang mengabaikan perasaan sebenarnya. Misalnya, saat kita sedih, mereka mendengarkan dan memvalidasi perasaan tersebut tanpa menghakimi atau menyuruh untuk selalu “senang”.

  1. Jujur dan Kritis Membangun

Kejujuran adalah pondasi penting dalam pertemanan. Seorang teman yang baik berani mengatakan kebenaran dan menegur kesalahan dengan cara yang baik, bukan untuk menjatuhkan. Mereka memberikan kritik yang membangun agar kita tidak terjerumus lebih jauh, seperti menasihati saat kita salah dan memberikan pandangan objektif.

  1. Menghargai Batasan Diri dan Dapat Diandalkan

Setiap individu memiliki ruang pribadi dan keputusan yang harus dihormati. Teman yang baik mengerti dan menghargai batasan ini tanpa memaksa atau mencoba mengendalikan. Contohnya, mereka tidak akan memaksa kita untuk ikut dalam kegiatan yang tidak disukai, seperti naik wahana ekstrem jika kita takut.

Kehadiran seorang teman yang dapat diandalkan memberikan rasa aman. Mereka menepati janji dan hadir saat dibutuhkan, bukan hanya ketika ada keinginan atau kepentingan pribadi. Konsistensi dalam tindakan dan kata-kata adalah indikator kuat dari kualitas ini.

  1. Pendengar yang Baik

Kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi adalah ciri khas teman yang tulus. Mereka memberi ruang bagi kita untuk berbicara dan mengungkapkan perasaan tanpa interupsi atau penilaian yang merugikan. Ini menciptakan lingkungan di mana kita merasa didengar dan dipahami.

  1. Memberi Pengaruh Positif

Interaksi dengan teman yang baik akan selalu memberikan dampak positif. Mereka membuat kita merasa lebih semangat, percaya diri, dan mendorong kita untuk terus berkembang menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Mereka senang melihat kita sukses dan tidak menunjukkan rasa iri atau berusaha menjatuhkan.

  1. Menerima Apa Adanya

Teman yang baik menerima kita dengan segala kelebihan dan kekurangan. Bersama mereka, kita merasa nyaman menjadi diri sendiri dan tidak merasa buruk atau perlu berpura-pura. Penerimaan ini menumbuhkan rasa aman dan otentisitas dalam hubungan.

Dari pemaparan di atas, mungkin akan lebih memudahkan kita dalam memilih pergaulan yang positif, yaitu pergaulan yang dapat menunjang kehidupan saat ini dan masa yang akan datang. Adapun saat kita sudah menemukan pergaulan yang supportive, maka kita akan merasa salah satu dari kondisi di bawah ini

  1. Tidak Ragu untuk Berbagi

Meski berada dalam satu lingkaran pertemanan, tetapi setiap orang bisa saja  memiliki nilai, keyakinan, tujuan, maupun gaya hidup yang berbeda-beda. Jika sebuah pertemanan bisa mengerti, menerima, dan menghormati perbedaan-perbedaan tersebut, ini merupakan tanda pertama bahwa kita berada dalam lingkaran pertemanan yang sehat. Hal tersebut biasanya tercermin dari tidak adanya perasaan ragu atau takut untuk berbagi mengenai semua hal dengan temanmu, baik hal yang kecil, besar, baik, maupun buruk.

  1. Mendukung Kesuksesanmu

Cara lain yang juga efektif untuk mencari tahu apakah kamu berada dalam lingkungan pertemanan yang sehat atau tidak adalah dengan melihat reaksi teman-temanmu saat kamu berhasil mencapai suatu hal dalam hidupmu. Misalnya, saat kamu mendapat beasiswa maupun menikah dengan orang yang kamu cintai. Bila temanmu ikut merayakan dan dengan tulus memberi selamat atas kesuksesanmu, ini artinya kamu berada dalam lingkup pertemanan yang sehat.

  1. Nyaman Menjadi Diri Sendiri

Tanda lingkaran pertemanan sehat lainnya adalah apabila kamu merasa nyaman untuk menjadi dirimu sendiri saat bersama teman-temanmu. Sebaliknya, bila kamu berada dalam lingkar pertemanan yang tidak sehat, kemungkinan kamu akan menunjukkan banyak kepura-puraan. Ini karena kamu merasa tidak nyaman untuk menunjukkan kepribadian, minat, dan pendapatmu secara jujur.

Mungkin sedikit penjelasan di atas dapat membantumu dalam mengenali green flag pertemanan, agar kamu tidak terjerumus pada ekosistem pertemanan yang merugikan dirimu dan orang orang yang ada di sekitarmu. Bangunlah ekosistem pertemanan yang mampu merubahmu menjadi pribadi yang lebih baik, percaya diri dan tidak takut dalam menghadapi sebuah tantangan. Wallahu a’lam.

Penulis: Azka Maulidia Rahma, Santri Mansajul Ulum.

 

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 68 kali

Baca Lainnya

Tantangan Relevansi dan Kelayakan Pesantren Salaf 

4 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Mengendalikan Invasif, Menjaga Etika: Tinjauan Fikih atas Pengendalian Ikan Sapu-Sapu

28 Juli 2026 - 14:21 WIB

Hari Bhakti Adhyaksa: Refleksi Kritis atas Integritas Kejaksaan

21 Juli 2026 - 13:33 WIB

Bukan Sekadar Game: Manfaat Edukasi di Balik Minecraft 

7 Juli 2026 - 12:49 WIB

Adab di Atas Ilmu: Mengembalikan Makna Pendidikan di Era Teknologi 

30 Juni 2026 - 12:52 WIB

Pendidikan Disabilitas: Menuju Pesantren Inklusif

23 Juni 2026 - 12:33 WIB

Trending di Opini Santri