Momentum hari raya Idul Adha tidak hanya identik dengan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, namun tentang keimanan, pengorbanan, perjuangan, keikhlasan, dll. Di balik kisah tersebut ada hadirnya figur perempuan yang senantiasa berkorban dan berjuang dalam memperjuangkan Islam, yaitu Siti Sarah dan Siti Hajar (yang perjuangannya diabadikan dalam Sa’i). Peran perempuan dalam hari raya Idul Adha ini bukan hanya tentang di dapur untuk memasak daging atau melakukan pekerjaan domestik lainnya, sedangkan laki-laki menyembelih hewan kurban atau melakukan pekerjaan publik. Adanya peran tersebut bukan untuk dibandingkan mana yang lebih unggul dan mana yang rendah, tapi bagaimana pekerjaan bisa dijalankan bersama supaya berjalan harmonis dan baik.
Siapa Siti Sarah dan Siti Hajar?
Siti Sarah lahir dengan nama Sarai yang dalam bahasa Ibrani berarti “putriku” kemudian berubah menjadi nama “sarah”. Beliau lahir di Ur Kasdim, Mesopotamia Selatan yang sekarang menjadi wilayah Irak. Ia dikenal muslimah cantik yang kuat, teguh pendirian, tidak lemah, menguasai banyak hal, tekun dalam beribadah, menjaga kehormatannya, serta sangat berbakti kepada suaminya. (Hakim, Ade Griyarman. Peran Perempuan dalam Kisah Sarah dan Hajar Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Tesis, Program Studi Magister (S2) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2025).
Siti Sarah dan Nabi Ibrahim tumbuh bersama sejak kecil. Saat Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah untuk dakwah kepada para penyembah berhala Siti Sarah merupakan orang yang pertama kali iman kepadanya, hingga tiba masa Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan tanah kelahirannya untuk berhijrah dan melakukan perjalanan dakwah selanjutnya, Sarah tetap menjadi teman setia dalam menemani suaminya Nabi Ibrahim berhijrah mulai dari Babilonia, Syam hingga ke Mesir. Tak hanya itu, sarah juga ikut berjuang melawan masa paceklik, hampir saja dijadikan selir oleh raja Fir’aun dan menghadapi beberapa ujian lainnya.
Di tengah keharmonisan rumah tangganya Sarah diuji dengan kemandulan hingga di umur 90-91 tahun baru dikarunia seorang anak yang bernama Nabi Ishaq. Dalam penantian selama puluhan tahun, Sarah dengan ikhlas menawarkan dan memberikan Hajar kepada Nabi Ibrahim untuk dinikahi agar suaminya dapat memperoleh anak, hal tersebut dikarenakan sarah meyakini bahwa dirinya tidak dapat lagi mengandung di usia yang saat itu mencapai sekitar 90 tahun. Setelah melahirkan Nabi Ishaq Sarah pun tetap bertahan di Kanaan untuk membesarkannya, kemudian diuji lagi saat mendapatkan perintah penyembelihan putra mereka dan terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa putra yang akan dikorbankan (Ishaq atau Ismail).
Sementara itu, Siti Hajar atau biasa disebut Hajar al-Qibtiyah al-Mishriyah berasal dari daerah Mesir. Ia merupakan seorang hamba sahaya perempuan yang diberikan oleh raja Fir’aun kepada Siti Sarah sebagai bentuk penghormatan karena gagal menyentuhnya. Setelah Hajar menjadi istri kedua Nabi Ibrahim, ia berhasil memberikan keturunan laki-laki dengan nama Ismail yang nantinya menjadi penerus Nabi Ibrahim. Setelah itu, datanglah perintah Allah SWT Siti Hajar dan Nabi Ismail ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim dengan perbekalan sedikit di lembah tandus yang sekarang kita kenal dengan kota Makkah. Ibu Ismail tampak kebingungan melihat sekitarnya, tanah gersang tak ada kehidupan, tumbuh-tumbuhan maupun perairan.
Saat perbekalannya habis, bayi Ismail menangis kencang karena kehausan, Hajar pun semakin bingung tak tau harus berbuat apa ia berlari-lari mengitari dua bukit (Bukit Shofa-Bukit Marwa) sebanyak tujuh kali dengan harapan menemukan air dan meminta pertolongan. Ketika Hajar hampir putus asa tak ada yang diharapkan ia kembali menghampiri sang buah hati, dan saat itulah Allah menurunkan pertolongan lewat malaikat Jibril untuk menghentakkan tanah sampai muncul sumber Air Zam-Zam sampai sekarang.
Betapa takjubnya Hajar melihat kekuasaan Allah, dan saking senangnya Hajar langsung mengambil air tersebut untuk Ismail dan seketika bayi mungil tersebut langsung terdiam. Karena perjuangan Hajar yang luar biasa dalam memperjuangkan Ismail, hal tersebut diabadikan oleh Allah di dalam salah satu Rukun Haji (Sa’i) guna untuk mengenang dan mengingat perjuangan yang dilakukan Siti Hajar. Selain itu, Air zam zam juga membawa keberkahan hidup dalam kota Makkah yang menarik perhatian banyak untuk datang berbondong-bondong hingga menjadi pemukiman dan salah satu kota yang menjadi tujuan seluruh umat muslim.
Setelah menemukan air zam-zam, Siti Hajar tetap tinggal di lembah tersebut dan membesarkan Ismail dengan penuh kesabaran, keteguhan, didikan yang penuh kasih sayang. Setelah Ismail tumbuh dewasa datanglah perintah Allah lewat Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, datang perasaan sedih bercampur khawatir seorang ibu ketika menyaksikan anaknya Ismail yang akhirnya dikorbankan untuk disembelih, berkat keikhlasan dan keteguhan iman dalam menjalankan perintah Allah akhirnya datanglah seekor kambing sebagai pengganti Ismail. Oleh karena itu, Hewan kurban menjadi pengingat simbolik dari adanya momentum Idul Adha.
Dengan demikian, Idul Adha dapat dipahami sebagai sejarah spiritual yang dibangun bersama antara laki-laki dan perempuan secara setara, bukan dipahami bahwa pembagian laki-laki berada di ruang pengorbanan besar sementara perempuan hanya di balik layar. Semangat Idul Adha ini seharusnya tidak membuat peran perempuan hanya diposisikan sebagai pelengkap kerja domestik saja, melainkan mampu berperan di ruang sosial, intelektual, berkarya, dan mampu menjalankan banyak peran dalam hal apapun. Wallahu a’lam.
Oleh: Fika Nurun Tajalla, Santri Ponpes Mansajul Ulum.










