Penolakan beasiswa hingga tujuh kali tak menghentikan langkah Ulil Albab. Rangkaian kegagalan tersebut justru yang mengantarkannya berhasil menembus pendidikan magister di Universitas Melbourne. Kisah pantang menyerah ini Ulil bagikan kepada para santri dalam acara Seminar Pasca Aliyah yang digelar di Aula Atas Pondok Pesantren Mansajul Ulum pada Ahad, 27 September 2026.
Di hadapan seluruh santri kelas 3 aliyah dan pasca aliyah , Pimpinan Redaksi EM-YU tersebut menyampaikan dilema kebanyakan santri setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Antara memilih berkhidmah, lanjut studi atau langsung bekerja. Alih-alih mendikte pilihan, Ulil mencoba merombak mindset mereka dalam merespon tantangan dan kegagalan.
Melalui kisahnya dalam mengejar beasiswa, ia menekankan bahwa kegagalan merupakan bagian dari sebuah pembelajaran. Menurutnya, seseorang perlu memiliki mindset untuk terus berproses dan meningkatkan kapasitas diri, termasuk ketika harus berhadapan dengan kegagalan.
Dalam membangun mindset pembelajar, ia menyampaikan enam hal yang perlu dimiliki seorang santri, yaitu tawadu’, kejujuran, fokus, mindset, hirsh (semangat), dan disiplin. Kejujuran menjadi salah satu hal yang ditekankan agar seseorang mampu mengenali kemampuan dan kekurangannya. “Selama kita belum bisa jujur pada diri kita sendiri, maka kita belum bisa melihat dunia secara akurat,” jelasnya.
Antusiasme peserta terlihat dari hangatnya sesi diskusi. Mereka menanyakan hal-hal krusial yang mereka alami sebagai santri, mulai dari strategi keluar dari zona nyaman, cara meyakinkan orang tua untuk meneruskan studi, hingga membentengi diri dari lingkungan pergaulan yang buruk.
Dwi Erza Arasta dalam sesi diskusi menanyakan bagaimana cara keluar dari zona nyaman untuk meningkatkan kapasitas diri. Menanggapi hal tersebut, Ulil mengingatkan bahwa kehidupan merupakan pilihan yang memiliki konsekuensi. Seseorang perlu menyadari bahwa kesulitan pasti akan dihadapi dalam kehidupan tergantung kita menentukan kapan bersedia menghadapi kesulitan tersebut. “Kita akan menghabiskan masa susah sekarang atau di masa depan,” ujarnya.

Menjelang akhir materi, peraih Awardee BIB LPDP 2026 di Universitas Melbourne tersebut mengajak para santri untuk membiasakan diri membaca dan menulis serta mengingatkan agar pilihan setelah lulus tidak membuat santri melepaskan identitas kesantriannya. “Apa pun pilihan kita, kita jangan pernah melepaskan status santri kita di manapun kita berada,” tegas Ulil.
Seminar Pasca Aliyah pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan pilihan setelah lulus. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa apa pun jalan yang dipilih, seorang santri tetap membutuhkan mindset untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Reporter: Muhammad Hanuun Adrian, Redaktur EM-YU.










