Menu ✖

Mode Gelap

Liputan · 4 Nov 2026 10:16 WIB ·

Tradisi Pesantren Bekali Bahrul Raih Wisudawan Terbaik IPMAFA 2026


 Tradisi Pesantren Bekali Bahrul Raih Wisudawan Terbaik IPMAFA 2026 Perbesar

Tradisi keilmuan dan nilai-nilai yang tumbuh di lingkungan pesantren dapat menjadi bekal penting bagi santri untuk mengembangkan kapasitas intelektual di perguruan tinggi. Hal tersebut tercermin dari keberhasilan Moh. Bahrul Ulum, santri Pondok Pesantren Mansajul Ulum, yang berhasil meraih predikat wisudawan terbaik tingkat institut dalam prosesi wisuda Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Baginya, pencapaian tersebut bukan sekadar penghargaan atas proses akademik yang telah dilalui. Ia memandang predikat wisudawan terbaik sebagai tanggung jawab untuk memberikan manfaat lebih luas melalui ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di IPMAFA.

“Alhamdulillah, saya merasa senang karena mendapatkan sebuah penghargaan yang sangat besar. Namun, di sisi lain, ini juga menjadi tanggung jawab yang besar bagi saya. Bagaimana setelah ini saya bisa menebarkan kemanfaatan dari apa yang sudah saya dapatkan selama di IPMAFA,” tutur mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) tersebut.

Dalam menjalani perkuliahan sekaligus menjadi santri, Bahrul mengaku menghadapi tantangan dalam membagi waktu dan tanggung jawab. Ia harus menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa di lingkungan kampus sekaligus memenuhi tanggung jawabnya sebagai santri. Meski demikian, ia tidak memandang keduanya sebagai hal yang saling bertentangan. Menurutnya, pesantren memberikan dasar pembentukan karakter, kedisiplinan, nilai spiritual, serta pemahaman keagamaan. Sementara itu, perguruan tinggi menjadi ruang untuk mengembangkan pengetahuan melalui pembelajaran dan metode akademik.

“Dua hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang bertentangan, justru saling melengkapi. Apa yang saya dapatkan di pesantren bisa dikembangkan melalui pendidikan di perguruan tinggi. Begitu juga sebaliknya, ilmu yang diperoleh di kampus dapat menjadi bekal untuk mengembangkan pengetahuan yang sudah didapatkan di pesantren,” jelasnya.

Untuk menjaga keseimbangan keduanya, Bahrul menerapkan skala prioritas dalam mengatur kegiatan sehari-hari. Ia berusaha memahami tanggung jawab mana yang harus didahulukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang sedang dihadapi.

“Setiap orang pasti memiliki kesibukan masing-masing. Maka, kita harus bisa menentukan prioritas. Ketika memang ada kepentingan akademik yang harus diselesaikan, maka akademik harus didahulukan. Begitu juga ketika ada tanggung jawab di pesantren yang tidak bisa ditinggalkan, maka itu yang harus diprioritaskan,” paparnya.

Lebih jauh, Bahrul menyebut istiqamah dan tradisi diskusi sebagai dua hal dari lingkungan pesantren yang turut memengaruhi proses akademiknya. Baginya, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi dasar untuk mencapai hasil yang lebih besar. Ia mengibaratkan kebiasaan menulis satu paragraf setiap hari yang jika terus dilakukan dapat berkembang menjadi sebuah buku. Karena itu, ia berusaha menjaga rutinitas belajar dengan target-target kecil yang dapat dijalankan secara konsisten.

“Sedikit-sedikit itu lama-lama akan menjadi bukit. Sesuatu yang besar sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah,” ujarnya.

Selain istiqamah, tradisi diskusi di pesantren juga membantunya mengembangkan kemampuan berpikir dan menyampaikan gagasan. Kebiasaan berdiskusi melatihnya untuk menyusun pertanyaan, mengembangkan persoalan, serta mencari solusi dengan memperhatikan dasar referensi yang digunakan. Kemampuan tersebut kemudian ia kembangkan dalam aktivitas akademik di kampus. Bahrul berusaha menyelesaikan tugas perkuliahan sejak awal semester, aktif mengikuti pembelajaran, dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang dapat menunjang pengembangan kapasitas diri.

Alih-alih mengikuti perlombaan, ia lebih memilih mengembangkan kemampuan melalui kepenulisan. Ia pernah menulis artikel bersama mahasiswa dari perguruan tinggi lain serta menyusun karya prosiding yang kemudian dipresentasikan dalam sebuah forum akademik di Malang. Selain itu, ia juga mengasah kemampuan berbicara di depan umum melalui kegiatan moderasi dan keterlibatan dalam forum diskusi.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Bahrul berpesan kepada para santri agar tidak menjadikan status sebagai santri sebagai batas untuk terus berkembang. Menurutnya, pesantren telah memberikan modal penting yang dapat dikembangkan untuk menghadapi berbagai ruang akademik.

“Jangan pernah menjadikan status sebagai santri sebagai batas untuk mengembangkan kapasitas intelektual. Santri memiliki modal yang sangat berharga, yaitu tradisi keilmuan, kedisiplinan, kemandirian, dan pembentukan karakter,” pesannya.

Ia juga mendorong para santri untuk memperluas bacaan, menguasai metodologi penelitian, mengembangkan kemampuan bahasa asing, membangun jejaring akademik, serta berani terlibat dalam berbagai forum intelektual. Bagi Bahrul, keterbatasan fasilitas maupun kondisi yang belum ideal bukan alasan untuk berhenti berkembang. Hal terpenting adalah kemauan untuk memulai, kesungguhan dalam menjalani proses, dan kemampuan memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

Reporter : Muhammad Hanuun Adrian, Redaktur EM-YU

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mansajul Ulum Sabet Predikat Pertama Pesantren Award PCNU Pati 2026

1 November 2026 - 15:41 WIB

Dari Takut Sandal Hilang sampai Susah Bangun Subuh, Musyawarah Sughra Mansajul Ulum Bahas Fikih Keseharian

27 Oktober 2026 - 08:33 WIB

Beri Ruang Suara Santri, RMI PCNU dan FKPP Pati Gelar Bahtsul Masail Putri di Ponpes Mansajul Ulum

23 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Berawal dari Niat Istifadah, Vicky Oktavianto Sabet Juara Harapan 2 MQK Se-Jawa Tengah

21 Oktober 2026 - 09:45 WIB

Bekali Santri Jelang Ujian Cawu II, KH. Liwauddin Najib Tekankan 3 Konsep Imam Syafi’i

21 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Gemakan Literasi Santri, Pengurus Putri Gelar Pelatihan Menulis Resensi

18 Oktober 2026 - 16:12 WIB

Trending di Liputan