Di tengah derasnya arus inovasi teknologi serta sistem pendidikan yang terus berubah setiap tahunnya, dunia pendidikan selalu dihadapkan pada berbagai tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif, melainkan juga pembentukan karakter dan moral siswa. Berbagai fenomena seperti menurunnya etika dalam proses belajar, berkurangnya penghormatan kepada guru, serta kecenderungan pendidikan yang berfokus pada aspek materi menjadi masalah yang sering dijumpai di banyak institusi pendidikan. Dalam kondisi ini, nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Ta’lim al-Muta’allim semakin penting untuk diterapkan kembali sebagai pedoman dalam membangun budaya belajar yang tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga mengedepankan akhlak dan makna pendidikan yang sebenarnya.
Kitab yang ditulis oleh Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji tersebut tidak hanya menguraikan tata cara dan strategi dalam menuntut ilmu, tetapi juga menekankan pentingnya memiliki niat yang tulus, menjaga adab, bersungguh-sungguh dalam belajar, menghormati ilmu dan guru, serta menghindari sifat angkuh dan merasa diri lebih unggul dari orang lain. (Husna, Fahmi, 2025) Nilai-nilai tersebut dapat menjadi solusi alternatif bagi sistem pendidikan modern yang kerap lebih menekankan pada pencapaian akademis. Oleh karena itu, penting untuk melakukan kajian mendalam tentang penerapan ajaran yang terkandung dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim di lingkungan pendidikan saat ini sebagai upaya untuk menciptakan generasi yang tidak hanya unggul dalam aspek intelektual, tetapi juga memiliki karakter, moral, dan spiritual yang kuat.
Untuk memahami signifikansi kitab Ta’limul Muta’allim dalam konteks pendidikan zaman sekarang, penting untuk mengerti terlebih dahulu definisi serta isi utama yang ada di dalamnya. Di dunia pendidikan Islam, terutama di pesantren, kitab ini sudah lama dikenal dan dijadikan acuan dalam pembentukan karakter serta moral peserta didik dalam proses belajar. Kitab Ta’limul Muta’allim disusun oleh Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji, seorang ulama fikih bermazhab Hanafi yang hidup pada abad ke-13. Melalui karya ini, beliau memberikan pedoman bagi para pelajar dan pengajar tentang tata cara memperoleh ilmu yang tepat dan bermanfaat. Buku ini mengulas sejumlah prinsip fundamental dalam dunia pendidikan, termasuk betapa pentingnya memperbaiki niat saat belajar, memilih lingkungan bersosialisasi yang konstruktif, menghargai pengajar serta pengetahuan, dan membangun dedikasi dalam proses pembelajaran. Selain menjelaskan teknik belajar yang efisien, buku ini juga menyoroti pentingnya penerapan ilmu dengan tepat agar bisa memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Beragam nilai yang terkandung di dalamnya membuat Ta’limul Muta’allim tetap relevan dan pantas dijadikan salah satu acuan dalam pengembangan pendidikan di era sekarang.(Liza, 2024)
Berlangsungnya perkembangan teknologi yang sangat pesat sekarang ini, mampu memberikan dampak dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu dampak dari perkembangan teknologi yang sangat ketara adalah pada jenjang pendidikan. Hadirnya teknologi memberikan perubahan yang cukup signifikan dalam proses pembelajaran. Kesempatan untuk memperoleh informasi secara luas, mengakses berbagai sumber secara cepat dan mudah dengan hanya melalui pemanfaatan teknologi yang penggunaannya bisa kapan saja dalam artian tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (Susanti, 2025)
Walaupun kemajuan teknologi menawarkan banyak manfaat yang berarti, tak dapat disangkal bahwa perkembangan ini juga menghadirkan efek negatif yang memicu berbagai tantangan dalam dunia pendidikan. Saat ini, sistem pembelajaran lebih menekankan pada pencapaian akademis dan kemampuan intelektual. Kedua aspek ini sering kali dihargai sebagai alat untuk mendapatkan pekerjaan, status sosial (prestise), serta kemakmuran finansial. Akibatnya, pengembangan karakter, etika, dan akhlak peserta didik sering kali diabaikan dalam ranah pendidikan.
Salah satu persoalan dalam dunia pendidikan saat ini adalah berkurangnya moral dan etika peserta didik yang kian hari semakin menyedihkan. Ketawadhu’an, konsistensi dalam belajar, dan keta’atan terhadap pengajar serta pengetahuan yang menjadi fondasi utama dalam dorongan belajar tidak lagi menjadi prioritas bagi para siswa. Sebagian besar dari mereka lebih terfokus pada hasil akhir—seperti ijazah dan nilai laporan—dan menganggapnya sebagai bentuk puncak keberhasilan.
Di samping itu, telah terjadi perubahan hubungan antara pengajar dan peserta didik, di mana peran guru seringkali dipandang hanya sebagai penyebar informasi. Sosok guru sebagai panutan yang dihormati dan ditirukan semakin memudar. Apabila figur guru tersebut telah memudar, maka secara otomatis nilai-nilai mulia yang terkandung dalam proses pembelajaran seperti sikap tawadhu’ (rendah hati), penghormatan kepada pengajar dan ilmu, serta etika belajar yang sopan dan berakhlak juga akan ikut pudar.
Berdasarkan berbagai fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini, kitab Ta’limul Muta’allim masih memiliki relevansi yang kuat untuk diterapkan dalam sistem pendidikan modern. Materi yang terkandung dalam kitab tersebut menggarisbawahi urgensi meluruskan motivasi dalam belajar, menghormati pengajar, serta membentuk ekosistem pendidikan yang menjunjung tinggi etika dan budi pekerti. Nilai-nilai tersebut menjadi semakin krusial untuk diterapkan ditengah dinamika pendidikan saat ini, yang cenderung mengutamakan aspek akademik dibandingkan pembentukan karakter.
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa penanaman nilai-nilai etika dan budi pekerti dalam pendidikan masa kini sangatlah penting. Keadaan moral sebagian siswa yang menurun menunjukkan bahwa penguatan karakter sejak usia dini sangat diperlukan. Selain berfungsi untuk mengasah kecerdasan akademis, pendidikan juga harus mampu membentuk karakter yang berakhlak baik. Di tengah derasnya gelombang globalisasi dan kemajuan teknologi, pendidikan tidak boleh hanya terfokus pada pencapaian prestasi akademis, tetapi juga harus menanamkan prinsip-prinsip moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keterpaduan antara penguasaan intelektual dan perkembangan moralitas menjadi visi utama yang dijunjung dalam ajaran kitab Ta’limul Muta’allim.
Menumbuhkan sikap hormat kepada guru menjadi salah satu pengimplementasian dari nilai yang diajarkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim. Dalam proses pembelajaran (baik formal/non formal), peran guru tidak hanya sebagai penyampai materi belaka melainkan juga pembimbing, pendamping dan panutan. Oleh karena itu, setiap pelajar perlu menunjukkan penghormatan kepada gurunya melalui perilaku yang sopan, kesediaan mendengarkan dengan penuh perhatian, serta menjaga etika baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Sikap-sikap tersebut dapat menciptakan suasana belajar yang harmonis, nyaman, dan penuh keberkahan sehingga proses pendidikan dapat berlangsung secara optimal.
Di samping penghargaan kepada pendidik, kitab Ta’limul Muta’allim juga menekankan betapa krusialnya niat yang tepat dalam mengejar ilmu. Proses pembelajaran seharusnya tidak hanya sekadar untuk meraih keuntungan finansial, jabatan, atau kesuksesan di dunia, melainkan juga harus diarahkan untuk memperoleh keridhaan Allah, memperluas pengetahuan, serta memberikan manfaat kepada diri sendiri dan masyarakat. Nilai ini sangat relevan untuk diterapkan dalam sistem pendidikan saat ini agar para pelajar tidak terjebak dalam orientasi belajar yang pragmatis dan materialistik. Dengan niat yang tulus, ilmu yang diperoleh tidak hanya akan menjadi alat untuk mencapai kesuksesan pribadi, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial dan kemajuan bangsa.
Oleh: Siti Ma’rifah, Santri Mansajul Ulum.










