KOLOM JUMAT CLVI
Jumat, 7 Agustus 2026
Dahulu, ingin meminjam uang atau kasbon ke warung kelontong rasanya seperti hendak bernegosiasi dengan presiden Korea Utara. Perlu mental yang kuat, persiapan dan pertimbangan kata yang tak hanya layak, namun juga bagaimana kata tersebut dapat dipercaya oleh lawan bicara. Tak jarang, kita rela melakukan apa saja yang pemilik toko inginkan hingga akhirnya mereka luluh dan mau menghutangi kita.
Sekarang beda ceritanya. Kapitalisme digital berhasil mengubah praktik “hutang” yang dulunya penuh dengan pertimbangan finansial dan intimidasi psikososial, menjadi gaya hidup yang masif dilakukan oleh Gen Z di era modern ini. Cukup hanya dengan mengklik ponsel, menggeser layar, memasukkan PIN, dan MISSION SUCCESS. Masuklah nominal digit yang kita inginkan ke dalam rekening atau e-wallet kita tanpa harus basa-basi dan perasaan takut atau malu. Bahkan dengan adanya fitur “beli dulu, bayar nanti” atau biasa dibungkus dengan bahasa yang keren, paylater, es Matcha seharga dua puluh ribuan berhasil jatuh ke tangan kita.
OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mencatat jumlah akun yang terdaftar nunggak membayar pada borrower fintech atau pinjol yang berusia di bawah 19 tahun per Agustus 2025 mencapai 22.694 akun, meningkat dari 2.479 akun pada Juni 2024. Kenaikan tersebut mencapai 815,45% hanya dalam satu tahun. Angka yang bukan hanya banyak tapi sangat fantastis, baru akun yang dinyatakan macet atau nunggak, belum akun-akun lain yang menghutang dan mampu melunasinya. Walaupun yang terakhir ini lebih mending dari tipe user akun sebelumnya.
Mengapa Paylater Begitu Candu
Ada asal ada musabab, ada ciptaan ada pencipta, begitu juga problem paylater ini pasti ada penyebabnya. Faktor utamanya adalah masifnya penggunaan dompet digital (e-wallet) dan online marketplace. Tak bisa dipungkiri, pasca Covid-19 sangat banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kehidupan umat manusia. Salah satunya adalah gaya hidup ekonomi. Sekarang kita lebih nyaman dengan penggunaan e-wallet ketimbang menarik uang melalui ATM. Kemudahan akses aplikasi dompet digital inilah yang mendorong para penggunanya untuk melakukan paylater.
Makin menjamurnya jual beli digital juga menjadi faktor lain yang tak kalah penting. Mayoritas platfrom penyedia jasa jual beli online menggunakan narasi seperti bayar kilat (flash sale) atau “awas ketinggalan!” yang memprovokasi konsumen untuk segera membeli produknya. Apalagi mereka juga menyediakan fitur bayar nanti (paylater) yang semakin memancing nafsu konsumen untuk segera membeli. Urusan bayar pikir nanti, yang penting beli dulu.
Kesalahan dalam Lifestyle
Ada akar masalah yang melatar belakangi faktor-faktor sebelumnya, yaitu kecenderungan Gen Z sekarang memilih gaya hidup mereka berdasarkan standar media sosial. Mereka rela hutang bukan karena kebutuhan, melainkan gengsi. Beli makanan viral, beli tiket konser, beli pakaian skena, dan beli-beli lainnya yang mereka lakukan hanya demi video sepersekian detik story Instagram.
Mereka rela mengorbankan “aku masa depan” dan menumbalkan “aku hari ini” dengan dalih self-reward setelah lelahnya aktivitas dan bekerja. Padahal “aku hari ini” bekerja demi menutup hutang pinjol “aku bulan lalu”. Inilah siklus daur hutang paling buruk yang diciptakan oleh peradaban manusia modern.
Dampak Psikologis Penghutang Paylater
Secara psikologis, mereka yang terjerat hutang rentan mengalami gangguan kecemasan (anxiety), rasa malu, dan rasa tidak berdaya (helplessness). Bahkan tak jarang kita jumpai kasus bunuh diri yang disebabkan jeratan hutang korban yang terlalu banyak.
Ironisnya, orang yang memiliki hutang akan dinilai oleh masyarakat sebagai “orang yang buruk” karena tidak mampu mengatur keuangannya sendiri. Inilah yang justru menyebabkan para penghutang lebih menarik diri dari masyarakat dan antisosial. Padahal penilaian tersebut belum sepenuhnya benar.
Melihat dampaknya secara psikososial sangat membahayakan bagi generasi muda, tentunya pemerintah di sini tidak hanya berhenti pada imbauan tentang pentingnya literasi keuangan saja, namun juga membuat sebuah regulasi batasan terkait nominal hutang yang harus diterapkan di setiap platform penyedia layanan hutang. Karena mustahil mereka yang telah terpapar dopamin instan “beli dulu bayar nanti” mendengarkan imbauan tersebut.
Pada akhirnya penyakit hutang paylater ini ibarat gula manis. Sedikit bisa membantu kita menghilangkan rasa ingin kita untuk mengkonsumsinya, tapi kalau dijadikan santapan sehari-hari, siap-siap kita akan didiagnosa dokter terkena penyakit diabetes finansial. Karena, kebebasan finansial sejati tidak terletak pada berapa nominal uang yang kita punya, melainkan bagaimana kita bisa tidur nyenyak tanpa gangguan notifikasi hutang pinjol yang jatuh temponya sudah tiba.
Oleh: Vicky Oktavianto, Redaktur EM-YU.










