KOLOM JUMAT CLVII
Jumat, 21 Agustus 2026
Coba ingat-ingat, makanan apa saja yang masuk ke perut kita. Adakah sayuran? Adakah buah-buahan? Atau isinya frozen food dan camilan kemasan? Dalam kehidupan sehari-hari, manusia membutuhkan energi untuk beraktifitas. Salah satu sumber energi tersebut adalah makanan. Tentu untuk memenuhi energi tersebut dibutuhkan makanan yang berkualitas, yakni makanan bergizi baik dari nabati atau hewani. Sementara dalam Islam sekaligus halal dan thayyib.
Akan tetapi di zaman modern seperti sekarang, kemajuan teknologi di bidang pangan mengubah kebiasaan masyarakat secara signifikan. Mereka mulai meninggalkan makanan segar atau real food dan beralih ke produk-produk industri yang akan kita kenal sebagai Ultra Processed Food (UPF). Hal ini ditunjukkan dalam Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara bahwa hampir setengah (45%) dari total asupan kalori pada tahun 2020 berasal dari UPF. Dalam sebuah studi dalam The Journal of Indonesian Community Nutrition, juga dikatakan bahwa trend konsumsi Ultra Processed Food (UPF) meningkat secara global, termasuk di Indonesia.
Di sinilah penulis mengajak pembaca untuk menyadari eksistensi UPF yang mungkin sudah menemani kita sejak zaman belia. Apakah kehadiran UPF ini datang sebagai kawan kita atau justru menjadi lawan?
Apa itu UPF?
UPF merupakan singkatan dari Ultra Processed Food yang berarti Makanan Ultra Terproses. Adapun UPF didefinisikan dalam The NOVA Food Classification System sebagai formulasi industri yang sebagian besar atau seluruhnya dibuat dari zat-zat yang diambil dari makanan (seperti lemak, gula, pati, dan protein) atau disintesis di laboratorium. Di antaranya seperti Frozen Food, Chiki, Mie Instan, dan Minuman Sachet dan lain-lain.
Pengertian mudahnya, UPF jauh dari bahan yang dekat dengan alam seperti buah atau sayuran segar. Berbagai bahan kimia -yang tidak biasa ditemukan di dapur rumah- berbaur erat dengan makanan ini. Mulai dari pengawet, pewarna hingga perisa sintetik yang meniru kualitas sensorik makanan asli. Maka tak heran, di zaman sekarang makanan ini semakin diandalkan masyarakat lantaran terjangkau, praktis, menarik, memanjakan lidah, dan memiliki masa simpan yang relatif lama.
Berbeda dengan real food yang tidak melewati proses pabrikasi yang rumit. Ciri-cirinya adalah bentuknya yang masih dekat dengan wujud aslinya dari alam, tanpa bahan tambahan seperti pengawet, pewarna, atau perisa buatan, dan diproses sederhana seperti direbus, dikukus, ditumis, dan lainnya.
Di sisi lain, rasanya mengherankan melihat harganya yang begitu murah. Masih sering kita jumpai camilan kemasan harga gopek. Jika di toko kecil saja kita mendapat harga murah, berapa harga asli di grosir bahkan pabrik aslinya? Sebenarnya dengan bahan seperti apa mereka membuatnya? Itulah yang harus kita renungkan. Menurut Costa Louzada et al. (2015), pengembangan teknologi pengolahan industri yang memungkinkan produk makanan diproduksi dalam jumlah besar dengan biaya yang lebih rendah telah memperkenalkan konsep makanan cepat saji dan makanan siap saji yang lebih banyak mengandung bahan tambahan kimia.
Seberapa Besar Bahaya UPF?
Secara umum konsumsi UPF mempertontonkan tren yang mengkhawatirkan. Berbagai kalangan usia terutama anak-anak menjadi sasaran empuk roda industri pangan karena minimnya kesadaran akan pangan yang sehat dan lebih mengorientasikan pada packaging menarik, kepraktisan, bahkan tren viral semata. Atau yang marak saat ini dikemas dengan kata-kata “self reward”. Padahal self reward tidak selalu tentang jajanan favorit yang justru membuat diri kita tambah sakit.
Jika hal ini diteruskan, transformasi konsumsi pangan ini akan semakin mengakar dan membuat ketergantungan. Sebuah studi longitudinal yang dilakukan oleh Canhada et al. (2020) menunjukkan bahwa individu yang lebih sering mengonsumsi UPF cenderung memiliki pola makan yang buruk dalam jangka panjang, dengan kecenderungan mengabaikan makanan yang kaya akan mikronutrien. Tak hanya itu, UPF juga menanggung konsekuensi kesehatan yang serius. Halodoc, mengatakan bahwa konsumsi UPF berlebihan mempunyai side effect atau efek samping terhadap kesehatan. Mulai dari diabetes, kerusakan sistem kardiovaskular, hingga obesitas.
Di sisi lain, rantai pasok panjang dan kemasan plastik sekali pakai yang melekat pada industri UPF dapat meningkatkan limbah padat global, memperburuk pencemaran lingkungan, serta berkontribusi pada pemanasan global. Hal ini menunjukkan bahwa UPF memiliki implikasi yang tidak sekedar berdampak individual tetapi justru multidimensional. Sedangkan real food di sisi lingkungan dapat kembali ke alam dengan meninggalkan sampah organik yang justru dapat menjadi pupuk bagi tanaman
Tentu saja setiap individu mempunyai PR besar mengubah kebiasaan mereka dan mewaspadai UPF yang merajalela. Oleh karena itu, kesadaran akan kandungan makanan yang dikonsumsi adalah langkah penting guna mengurangi makanan yang tidak sehat. Meskipun hal tersebut tidak secara langsung menekan angka konsumsinya secara global. Karena faktanya meskipun seseorang tahu dampak pendek hingga jangka panjangnya, tidak mudah untuk terlepas dari konsumsi UPF setiap harinya.
Menukil Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, di beberapa negara seperti Chili, Peru, Israel, Meksiko, Uruguay, Argentina, Brasil, Kolombia, dan Kanada, telah menerapkan label peringatan nutrisi yang membantu konsumen untuk mengenali makanan tidak sehat dan membuat pilihan diet yang lebih sehat. Sedangkan menurut Halodoc, jika kita melihat label komposisi di balik kemasan dan menemukan istilah-istilah kimia yang sulit diucapkan atau bahan yang tidak pernah kita beli di supermarket untuk memasak sendiri, kemungkinan besar produk tersebut termasuk kategori UPF.
UPF dalam Kacamata Islam
Dalam ajaran Islam, makanan haruslah halal baik dari segi zatnya, cara memperolehnya, hingga proses pengolahannya. Di negara yang mayoritas penduduknya muslim ini, makanan halal mudah untuk ditemukan. Sertifikat halal dapat resmi dikeluarkan oleh Badan Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal (BPJPH) di bawah Kementerian Agama. Penerbitan ini didasarkan pada ketetapan atau fatwa halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) (atau Komite Fatwa Produk Halal) setelah melalui pemeriksaan bahan dan proses produk oleh Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).
Namun, halal saja tidak cukup. Sudah termaktub dalam Al-Qur’an bahwa Allah berfirman:
فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّاشْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
Artinya: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (Q.S. Al-Anfal: 114)
Ayat tersebut jelas-jelas menyebutkan bahwa makanan tidak hanya halal tetapi juga thayyib, yaitu baik, suci, dan bergizi. Lantas apakah UPF otomatis makanan yang tidak thayyib? Belum tentu. Beberapa produk UPF bahkan dapat menyelamatkan jiwa. Dilansir dari Kompas. Com, sekitar sepertiga dari semua makanan bayi yang dijual di Inggris adalah UPF, termasuk susu formula. Produk ini terdiri dari protein susu bubuk, minyak nabati, laktosa, gula tambahan, vitamin, mineral, dan bahan tambahan lainnya. Lewat makanan tersebut bayi dapat terbantu kelengkapan nutrisinya.
Namun kembali lagi, UPF akan hilang thayyibnya jika dikonsumsi berlebihan serta dalam jangka panjang. Hal ini juga tidak selaras dengan ajaran Islam yang mencegah untuk israf dan merusak diri sendiri. Kendati UPF menawarkan berbagai kemudahan dan efisiensi waktu, alangkah baiknya self health dijaga sepanjang waktu. Di sinilah pentingnya real food hadir sebagai penyeimbang kadar gizi di tubuh kita, yang mungkin saja “sakit” akibat UPF yang berjejalan di tubuh kita.
Oleh: Dyasahrin Khaszahra, Redaktur EM-YU.










