Menu

Mode Gelap

Kolom Jum'at · 26 Jun 2026 16:37 WIB ·

Menemukan Tradisi Ulama di Negeri Tirai Bambu 


 Sumber: www.farisyuda.com Perbesar

Sumber: www.farisyuda.com

KOLOM JUMAT CXLXIII
Jumat, 26 Juni  2026 

Dalam salah satu plot khazanah keislaman, di sebuah perpustakaan, penulis pernah menjumpai kitab berjudul Qimatuzzaman Indal Ulama’ yang kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi urgensi waktu menurut para ulama’. Kitab ini dikarang oleh salah satu ulama besar Suriah yang dikenal dengan nama Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Dalam karangan tersebut dijelaskan dan diceritakan secara rinci bagaimana para ulama terdahulu sangat menghargai waktu dan memanajemennya secara baik agar waktu tidak terbuang secara cuma-cuma. Dari penjelasan dalam kitab tersebut, saya  menjadi sadar akan adanya ikatan kuat budaya menghargai waktu dalam diri orang-orang Islam. Terkhusus para orang-orang Islam terdahulu. 

Di sisi lain dalam keseharian umat Islam, secara implisit sadar atau tidak sebenarnya umat Islam sudah diajarkan oleh syara’ untuk selalu menghargai waktu dengan baik. Hal ini dimanifestasikan dalam bentuk ibadah muaqqot. Terkhusus dalam ibadah sholat maktubah yang hanya bisa ditunaikan di waktu-waktu tertentu. Sehingga dalam keseharian umat Islam, kita diajari bagaimana hidup serta berjibaku dengan waktu yang baik. Ini yang penulis maksud bukti keterkaitan budaya menghargai waktu.

Walaupun demikian, relasi umat Islam, terhusus muslim kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dengan budaya menghargai waktu kian hari kian memudar. Kehawatiran ini bisa kita buktikan dalam acara-acara formal, di mana Ketika undangan terketik jam tujuh pagi, tetapi acaranya baru akan dimulai pada jam delapan. Ketika jam tujuh merupakan waktu opening, kita pada jam tersebut baru beranjak pergi ke lokasi acara. Dalam masyarakat sendiri hal ini seakan sudah menjadi rahasia umum. Fenomena ini populer dengan istilah budaya “jam karet”.

Dikutip dari NU online, dikisahkan bahwa KH. Bisyri Syamsuri, Kakek Gus Dur, suatu saat pernah meminta Gus Dur untuk mengantarkan beliau ke suatu kumpulan NU, namun Gus Dur memberi tanggapan bahwa saat itu masih terlalu dini, bahkan Gus Dur sempat bilang ke kakeknya kemungkinan juga belum ada yang datang. Dan benar saja Ketika kedua ulama itu sampai di lokasi sesuai jadwal acara, disana belum ada tamu undangan sama sekali.

Tetapi tidak semua orang muslim demikian, ada juga orang yang sangat menghargai waktu dan menyadari akan pentingnya manajemen waktu semasa hidupnya. Di antaranya adalah KH. M.A Sahal Mahfudz yang dikenal akan kisah kedisiplinanya dalam menghargai waktu. 

Akan tetapi dalam komunitas muslim tertentu, budaya “jam karet” merupakan hal yang tidak bisa dinafikan. Artian dalam masyarakat tersebut, kejadian ini sudah dianggap biasa dan memang sedemikian rupa. Sehingga kisah-kisah umat Islam yang ditulis oleh Syeckh Abdul Fattah seakan menjadi langka untuk kita temukan di hari ini.

Tradisi Islam yang Ada dalam Diri Orang China.

Beberapa bulan yang lalu, saya berkesempatan belajar dengan orang-orang native China secara langsung. Saat ini China merupakan salah satu negara adidaya yang bersanding dengan USA dalam bidang teknologi, politik dan ekonomi dunia. Saat itu penulis sempat begitu penasaran dengan orang-orang China, apa alasan yang menjadikan negara China bisa semaju demikian. Besitan itu yang selalu ada dalam benak.

Sebulan penuh berjalan, saya tidak menemukan hal yang istemewa dengan orang-orang China. Tetapi ada satu hal yang membuat penulis terpukau. Yaitu bagaimana orang China begitu antusias dalam menghargai waktu, dan bagaimana mereka benar-benar memanfaatkan waktunya dengan baik. Ini hampir mirip dengan salah satu kisah yang pernah penulis baca dalam kitab Qimatuzzaman Indal Ulama’. Karya Syekh Abdul Fattah Ghuddah. Namun yang berbeda di sini subjeknya adalah orang China yang mayoritas beragama non muslim.

Dalam salah satu keseharian guru bahasa Mandarin saya, beliau sering dipanggil dengan nama Li Jianni Laoshi (laoshi dalam Bahasa mandarin memiliki arti yang setara dengan guru) dalam draft jadwal kegiatan mengajar yang beliau punya, sepanjang penulis tahu eksekusi beliau hampir tidak pernah ada yang meleset. Seperti contoh saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) terjadwal jam delapan, maka beliau sudah ada di kelas sebelum jam delapan, dan memulai KBM tepat pada jam yang telah ditentukan. Hal ini tentu terlihat sederhana, tetapi pada nyatanya untuk melakukan disiplin waktu secara konsisten seperti beliau tentu tidak mudah. Bahkan terkadang saya sedikit kewalahan untuk mengimbangi budaya mereka. Terutama dalam hal melakukan segala kegiatan secara on time dan konsisten.

Salah satu pendamping saya, yang kebetulan juga merupakan mahasiswa Indonesia lulusan S2 di CCNU (Central China Normal University) beliau juga menjelaskan bahwa kesadaran menghargai waktu dalam diri orang-orang China merupakan sesuatu hal yang sudah biasa. Beliau sendiri yang merasakan fenomena demikian ketika belajar di china. Hampir semua orang selalu tepat dalam melakukan suatu hal serta sesuai dengan jadwal waktu yang ada di draft daily life mereka. Tidak ada yang meleset kecuali kalau ada halangan tertentu. Tutur beliau.

Pengalaman pribadi yang penulis alami ini seketika mengingatkan penulis kepada buku Qimatuzzaman Indal Ulama’ yang pernah penulis baca di perpustakaan. Moment ini seakan membawa penulis ke dimensi kisah-kisah yang ditulis oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam karyanya. Di mana banyak ulama yang sadar betul akan pentingnya menghargai waktu, hingga hasilnya membuahkan muslim muslimah yang berkualitas dan berkeilmuan. Hal ini juga demikian dengan kesadaran orang-orang China yang saya temui, di mana mereka begitu menghargai waktu, hingga akhirnya penulis menjadi sama sekali tidak heran mengapa China saat ini menjadi negara yang maju. 

Hemat saya, tulisan ini ditujukan sebagai pengingat bahwa secara historis, dahulu orang-orang Islam merupakan orang-orang yang sangat menghargai akan pentingnya manajemen waktu. Serta orang-orang yang begitu memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar waktu tidak terbuang sia-sia. Hingga sampai menghasilkan generasi muslim yang berkualitas dan berkeilmuan. 

Hal demikian ini juga dibuktikan dengan budaya orang-orang China yang juga begitu menghargai waktu, hingga dampaknya kebiasaan tersebut menghasilkan generasi yang berkualitas. Di sisi lain orang-orang Islam sekarang seharusnya juga memiliki budaya yang demikian. Karena pada dasarnya budaya menghargai waktu merupakan ajaran Islam, agar generasi muslim bisa lebih berkualitas secara keilmuan seperti halnya ulama-ulama yang ada dalam kisah kitab Qimatuzzaman Indal Ulama’. Wallahu a’lam.

Oleh: Ahmad Ainun Niam, Redaktur EM-YU.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 45 kali

Baca Lainnya

Benarkah Sholat Dapat Mencegah Perbuatan Mungkar?

10 Juli 2026 - 13:01 WIB

Jejak Kiai Sahal Mahfudh: Menghidupkan Ijtihad di Tengah Kompleksitas Zaman

12 Juni 2026 - 12:37 WIB

Siapa yang Sebenarnya Berkorban? Menilik Jejak Bias Gender di Hari Raya Kurban

29 Mei 2026 - 13:10 WIB

Qunut Nazilah, Hukum dan Sejarah Lahirnya

15 Mei 2026 - 13:19 WIB

Negara Gagal, Rakyat Bertindak: Fenomena ‘Beli Hutan’ sebagai Kritik Sosial

1 Mei 2026 - 13:39 WIB

Santri di Pusaran Birokrasi: Mampukah Menjadi Penawar Krisis Integritas? 

17 April 2026 - 13:28 WIB

Trending di Kolom Jum'at