KOLOM JUMAT CLX
Jumat, 2 Oktober 2026
Allah SWT telah memberikan akal serta banyak panca indra kepada kita sehingga bisa menjadi insan kamil. Semua itu bukan hanya menjadi pajangan semata yang tujuannya hanya untuk memperindah bentuk makhluk ciptaan-Nya saja, tetapi ada banyak sekali manfaat yang didatangkan Allah untuk makhluk yang dikehendaki-Nya.
Tugas kita adalah menjadi agen perubahan yang aktif untuk menguasai ilmu pengetahuan dan mengeksekusi aksi nyata di bumi pertiwi ini. Manusia ditugaskan menjadi khalifah fil ardh yang mengemban tugas dan amanah yang besar lagi berat. Oleh sebab itu, menyelaraskan antara akal pikiran dan berbagai panca indra untuk menghasilkan sebuah pengetahuan yg kritis dan sistematis serta menganalisis suatu masalah adalah suatu kewajiban.
Dalam QS Al isra’ ayat 36, Allah berfirman :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui (tidak memiliki pengetahuan/bukti tentangnya). Sungguh, pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.”
Allah menuntut pada makhluk-Nya yang sudah diberikan anugerah yang sangat besar untuk bisa bertanggung jawab atas semua perbuatannya, terutama dalam hal berpikir. Manusia diwajibkan bisa berpikir secara ilmiah, akurat, dan kausalitas, karena semuanya akan dipertimbangkan kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pada zaman kolonialisme di Indonesia, terdapat penyakit kronis yang dialami dan mendominasi akal masyarakat Indonesia. Penyakit tersebut menggerogoti pikiran yang kritis, rasional, dan ilmiah. Sebuah pola pikir yang menghubungkan semua hal pada unsur ghaib, mistis, dan metafisika lainnya dengan tanpa adanya bukti dan penalaran yang konkrit dan jelas.
Tan malaka dalam mahakarya monumentalnya, yang berjudul Madilog yang ditulis pada tahun 1943, ia memandang bahwa paradigma tersebut populer dengan sebutan “Logika Mistika”. Ketika seseorang telah terjebak pada pola pikir buruk ini, mereka akan cenderung pasrah pada keadaan karena merasa semuanya sudah ditakdirkan dan diatur oleh kekuasaan tak kasat mata, mereka menganggap takdir ghaib roh halus sebagai penyebab tunggal atas semua fenomena yang terjadi.
Isu yang sangat relevan dengan realitas sosial-keagamaan di Indonesia pada saat ini adalah pembacaan istighosah dan doa bersama pada saat terjadinya bencana alam. Jika dinalar dengan logika yang benar, apakah dengan adanya kegiatan tersebut bisa mendatangkan solusi yang jelas untuk bencana tersebut? Tentu tidak, dibutuhkan sebuah aksi nyata dalam mewujudkan bentuk ikhtiar diri dalam mengatasi masalah tersebut.
Masyarakat Indonesia terlalu bertawakal dengan tanpa mau menjalani proses, hanya mengandalkan berserah tanpa mau susah, berpikir semua ada jalannya tanpa ada wujud usaha. Semua mengandalkan kehendak Tuhan tanpa diiringi aksi nyata. Dalam konteks tersebut, yang seharusnya terjadi adalah menggelar aksi peduli lingkungan dan menelusuri penyebab fisiknya serta akar masalah dari tragedi tersebut, bukan semata-mata terjadi hanya karena takdir yang berkehendak. Hal ini akan berdampak pada masyarakat yang akan merasa berkewajiban mengatasi masalah tersebut.
Kita tidak bermaksud meniadakan agama atau Tuhan, melainkan menolak penggunaan argumen mistis untuk menjelaskan hukum-hukum alam dan sosial. Mengikis logika mistika bukan berarti menghapus nilai-nilai spiritual atau agama. Logika mistika bukan sekedar takhayul semata, melainkan penjara pikiran yang mengakibatkan terjajah dan tertinggalnya masyarakat Indonesia dalam segi sosial maupun ekonomi.
Selama masyarakat Indonesia masih dipengaruhi oleh logika mistika, maka pada saat itu pula bangsa Indonesia masih belum merdeka dengan sepenuhnya, dan akan tetap jauh dari kata bangsa yang berperadaban modern. Untuk itu, prinsip kausalitas atau unsur sebab-akibat yang rasional, mengubah cara berpikir menjadi berbudaya riset dan metode ilmiah, menjadi solusi konkrit dan terukur. Dengan diimbangi ikhtiar atau usaha yaitu melakukan aksi fisik yang maksimal sebagai wujud syarat utama, dan diiringi doa sebagai bentuk tawakal. Do’a sebagai penguat mental, dan penyelesaian fisik sebagai alat eksekusi.
Oleh : Muhammad Aqil Muchtar, Alumni Mansajul Ulum Tahun 2025.










