Menu

Mode Gelap

Liputan · 29 Mar 2025 09:53 WIB ·

Berhasil Tembus Luar Negeri, Begini Proses Pembuatan Keripik Tempe Akza


 Berhasil Tembus Luar Negeri, Begini Proses Pembuatan Keripik Tempe Akza Perbesar

Selepas peresmian Akza Mart, Pondok Pesantren Mansajul Ulum  melaunching produk UMKM berupa Keripik Tempe sejak Desember lalu. Keripik tempe ini diproduksi oleh Al-Mansaj Group yang terdiri dari para santri dan alumni. Adapun bagian produksi dikepalai oleh Sri Surtiari dan dibantu suaminya, Munoto. Kegiatan produksi dilakukan di kediaman mereka yang terletak di Desa Waturoyo Dukuh Pejaten Rt 01 Rw 03, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati.

Dengan mengusung konsep sehat, lezat, dan bergizi, keripik ini mempunyai value tersendiri. Hal ini lantaran keripik Tempe Akza tidak dibuat dengan perasa sintetik seperti MSG ataupun pewarna makanan. Namun murni dengan bumbu-bumbu alami saja. Terlebih, seluruh proses pembuatan keripik ini juga merupakan produksi mandiri. Hal ini berdasarkan observasi langsung tim redaksi Em-Yu di tempat produksi pada Kamis, 27 Maret 2025.

Diketahui bahwa pembuatan keripik tempe tersebut melalui berberapa proses. Mekanismenya dimulai dari perebusan bahan baku mentah, yaitu kedelai, kemudian peragian dan fermentasi, hingga berakhir di proses frying (penggorengan). Mbak Surti, sapaan akrabnya, juga mengungkapkan, sudah lama memakai tempe buatan sendiri untuk dibuat keripik. “Awalnya mencoba memakai tempe dari luar, tapi ternyata gagal. Akhirnya, kita membuat tempe sendiri dengan mencampur tepung tapioka di proses peragian.”, tutur alumni Mansajul Ulum tersebut.

Manager produksi tersebut juga mengaku, mulanya terdapat kendala dalam pemasaran. Ia memaparkan, tempe adalah barang konsumsi sehari-hari masyarakat sehingga kurang menarik perhatian konsumen. Meski begitu, tidak tanggung-tanggung, keripik Tempe Akza ini sudah dipercaya para konsumen, bahkan hingga dibawa ke luar negeri.

“Sebagian besar faktornya adalah karena luasnya jaringan yang dimiliki oleh Pesantren Mansajul Ulum, terutama pengasuh, Bapak KH. Muhammad Liwauddin Najib dan Ibu Nyai Umdatul Baroroh,” terangnya.

Terlepas dari itu, Mbak Surti berpesan kepada para santri “Di manapun dan apapun passion kita, janganlah melepas ‘baju santri’ kita. Terutama ketika kita di jalur berdagang. Tetaplah selalu menebar maslahah untuk sesama. Jangan hanya karena ingin memburu cuan, rela melakukan kerusakan.” pungkasnya.

Reporter: Dyasahrin Khaszahra, Redaktur EM-YU.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 339 kali

Baca Lainnya

Bedah Polemik Poligami Lewat Tafsir Rawai’ul Bayan

6 September 2026 - 10:30 WIB

Ngaji Buku Edisi 5 : Bedah Novel “Janji” Tereliye

30 Agustus 2026 - 15:00 WIB

Haflah Maulid Nabi: Minimalisir Generasi Krisis Sejarah Nabi

27 Agustus 2026 - 10:38 WIB

Tingkatkan Kesehatan Mental, Mansajul Ulum Putri Datangkan Alumni Psikologi UNNES

25 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Upgrade Skill Organisasi, Pengurus Putri Mansajul Ulum Adakan TOO

19 Agustus 2026 - 09:48 WIB

Counter Narasi Negatif, Mansajul Ulum Latih Penulis Muda

18 Agustus 2026 - 14:43 WIB

Trending di Liputan