Persoalan ghasab dan sulitnya membangunkan santri saat subuh adalah dua permasalahan yang sering ditemui di pesantren. Hal ini mendorong Tim Bahtsul Masail (TBM) Pondok Pesantren Mansajul Ulum mengulas problem tersebut dalam kacamata fikih pada Musyawarah Sughra, Kamis, 22 Oktober 2026.
Dua topik ini dipilih pengasuh dari sejumlah persoalan yang sebelumnya dirumuskan oleh Ustaz Aufa Al-Mubarok dan Ustaz Moh. Fackri Basri. Dalam musyawarah tersebut, pembahasan pertama menyoroti kasus seorang santri yang tidak menaruh sandal di rak karena takut digunakan orang lain tanpa izin. Sehingga muncul konsep kezaliman serta pertimbangan dharar dan mafsadah apabila suatu aturan dinilai berpotensi menimbulkan kerugian. Adapun pembahasan kedua, sejumlah pandangan mempertimbangkan kondisi seseorang yang sulit dibangunkan, kemampuan seseorang dalam membangunkan sesama, dan batas tanggung jawab dalam menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar.
Kedua persoalan tersebut menjadi bahan kajian bagi 12 delegasi marhalah Wustho-Ulya untuk menelaah permasalahan sehari-hari melalui perspektif fikih dan referensi turats. Dengan demikian, forum musyawarah menjadi ruang bagi santri untuk memperdalam pemahaman sekaligus melatih kemampuan menghubungkan rujukan kitab dengan persoalan yang dikaji.

Musyawarah yang dimoderatori Vicky Oktavianto tersebut dihelat di musala PP. Mansajul Ulum mulai pukul 20.00 WIB. Saiful Khodam selaku ketua panitia berharap santri tidak hanya memahami referensi turats, tetapi juga mampu mengkaji dan menerapkannya dalam menjawab persoalan. “Tujuan diadakannya acara ini adalah sebagai forum diskusi pengembangan pengetahuan santri serta melatih pemecahan masalah,” ungkapnya.
Aslahul Minan, salah satu peserta musyawarah, menyampaikan apresiasinya kepada panitia. “Terima kasih kepada teman-teman panitia yang telah mengadakan acara musyawarah ini. Melalui forum ini, kita dapat menambah keilmuan dan pemahaman tentang bagaimana cara menerapkan ibarah yang telah kita dapatkan,” ucapnya.
Rangkaian Musyawarah Sughra kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Liwauddin Najib selaku musahih.
Reporter: M. Hanuun Adrian, Redaktur EM-YU










