Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pati gelar acara Halal Bihalal dan rapat koordinasi di Pondok Pesantren Mansajul Ulum Komplek II pada Jumat, 24 April. Kegiatan ini menjadi salah satu momentum untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkuat komitmen dalam pengembangan pondok pesantren di tengah masyarakat.
Dalam mauidzah yang disampaikan oleh Romo KH. Aniq Muhammadun, beliau menegaskan pentingnya menguasai ilmu alat sebagai fondasi dalam membantu memahami agama islam. “Utamakan nahwu shorof yang nantinya kita perlukan saat terjun di masyarakat,” tutur beliau.
Menurutnya, upaya tafaqquh fi ad–din tidak bisa dipisahkan dari penguasaan ilmu alat, mengingat seluruh sumber ajaran Islam menggunakan bahasa arab. “Kalau kita ingin tafaqquh fi ad- din, kita harus punya ilmu alat, karena sumber-sumbernya ada dalam Al-Qur’an, hadis, dan kitab-kitab yang semuanya berbahasa Arab. Kita tidak akan bisa memahaminya kalau tidak punya alat untuk memahaminya, terutama nahwu shorof.”
Lebih lanjut, penguasaan nahwu dan shorof saja belum cukup tanpa didukung ilmu lain.“Kadang orang hanya paham nahwu shorof, tapi tidak memahami ilmu lain. Padahal kalau ingin tafaqquh fiddin, kita juga harus memahami ushul fiqh, tafsir, ulumul hadis, dan lainnya. Ilmu itu saling terkait.”
Selain itu, keterbatasan dalam memahami ilmu-ilmu pendukung dapat berdampak pada kesalahan dalam pengambilan hukum.“Sebab kadang orang paham nahwu, tapi tidak memahami ilmu lain, bisa salah dalam istinbat ahkam.”

Terakhir, beliau mengingatkan pentingnya tanggung jawab dalam setiap amanah yang diemban, khususnya bagi para kyai dan pengasuh pondok pesantren. “ Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi” (Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya),” pungkasnya.
Reporter : Muhammad Hanuun Adrian, Redaktur EM-YU










