Memasuki dekade ketiga abad ke 21, teknologi digital telah merubah peta sosialisasi manusia, tak terkecuali bagi kalangan santri. Media sosial kini menjadi ruang baru yang menawarkan manfaat sekaligus tantangan baru dalam menjaga muru’ah dan adab. Merespon hal tersebut, Pengurus Pesantren Mansajul Ulum Putri sukses adakan seminar etika berkomunikasi di media sosial, yang diselenggarakan pada 24 April 2026, lalu. Acara yang digelar di Aula Pondok Pesantren Mansajul Ulum Putri tersebut menghadirkan seorang pakar dalam bidang komunikasi, Ibu Siti Asiyah, M.Sos. selaku narasumber utama.
Anik Himmatur Rofiah, ketua panitia menyoroti perilaku santri yang belum bisa bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial. “Banyak santri yang belum bisa bertanggung jawab atas apa yang mereka ketik di media sosial. Seperti mengomentari hal-hal yang tidak perlu, membuat ujaran kebencian, dan penyebaran hoax”, ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Pengasuh PP. Mansajul Ulum putri, Ibu Nyai Umdatul Baroroh menyampaikan bahwa penting membekali para santri tentang etika komunikasi dalam menggunakan media sosial, terlebih dalam komunikasi di WhatsApp, Instagram, dan platform-platform lainnya. Beliau juga menyoroti resiko kesalahpahaman akibat kesalahan tata bahasa dan tanda baca yang keliru.
“Seringkali anak-anak tidak faham cara berkomunikasi yang baik. Bagaimana cara menyampaikan pesan yang baik dengan menggunakan tata bahasa dan tanda baca yang benar agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Terutama ketika sudah menggunakan platform media sosial yang riskan menimbulkan kekerasan atau pelecehan seksual. Seringkali kasus-kasus ini terjadi pada anak-anak remaja yang tidak pandai bermedsos.” Tegas Ibu Nyai Umdah.
Dalam pemaparannya, Ibu Asiyah membagikan beberapa poin penting mengenai etika komunikasi santri. Pertama, niatkan sebagai dakwah. Setiap konten yang diunggah sebaiknya diniatkan sebagai sarana dakwah dengan memegang prinsip “Falyaqul khairan aw liyasmut”, berkatalah yang baik atau diam. Kedua, menjaga adab digital dengan menggunakan bahasa yang santun, komentar bijak, dan menjaga kehormatan diri. Terakhir, tabayun atau saring sebelum sharing, waspada fitnah dan berita hoax.
Sesi dialog berlangsung interaktif saat para santri mengajukan beberapa pertanyaan. Mulai dari teknik public speaking di media sosial hingga cara menyikapi interaksi dengan lawan jenis secara bijak. Di zaman dimana banyaknya informasi yang bisa diakses, teknologi bukan hanya menyajikan informasi positif. Adapula informasi hoax, ujaran kebencian atau berita yang mengandung unsur provokasi. Oleh karena itu, sebagai pengguna media sosial harus lebih bijak dalam menggali informasi. Jangan sampai terbawa arus, terlebih seorang santri. “Dalam berdakwah jangan sampai seorang santri terbawa arus. Ibarat tisu, ketika dimasukkan ke dalam air yang berwarna merah tanpa penghalang otomatis akan ikut berubah menjadi merah. Begitu juga seorang santri yang tidak memiliki pondasi yang kuat. Dadi santri ojo gumunan, ojo kagetan.” Jelas beliau.
Terakhir, Ibu Asiyah mengajak santri untuk ikut berkontribusi dalam dunia digital, sebab di zaman sekarang banyak masyarakat yang belajar agama melalui media sosial. Jangan sampai media sosial didominasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Reporter: Manggar Eka Rahayu, Redaktur EM-YU










