Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Mansajul Ulum kembali menggelar forum musyawarah santri untuk Cawu II pada Selasa, 17 Desember 2025. Namun, berbeda dengan kegiatan sebelumnya, forum kali ini mencuri perhatian berkat perubahan format delegasi yang dinilai jauh lebih efektif dalam membedah persoalan fikih.
Jika pada Cawu I delegasi dikirim berdasarkan perwakilan kelas, kali ini pengurus menerapkan skema pengelompokan khusus. Setiap kelompok terdiri dari tiga orang, dengan komposisi dua santri junior dan satu santri senior yang bertindak sebagai pendamping sekaligus mentor. Uniknya, bukannya dengan tingkatan kelas, melainkan setiap kelompok dinamai dengan nama-nama kitab klasik yang masyhur menjadi rujukan utama di pesantren.
Perubahan ini merupakan hasil evaluasi dari kegiatan serupa di Cawu I. Menurut Ketua Pengurus, pendampingan dari santri senior diperlukan untuk menjembatani santri junior dalam memahami alur diskusi bahtsul masail yang kompleks. “Kami memilih model pengelompokan ini sebagai langkah evaluasi. Dengan adanya satu santri senior di antara dua junior, proses pencarian ibaroh hingga penyusunan argumen menjadi lebih terarah. Senior berperan membimbing, bukan menggantikan peran junior,” ungkap Ketua Pengurus di sela-sela acara.
Strategi ini terbukti ampuh. Suasana forum diskusi yang dimoderatori oleh saudara Vicky Oktavianto tersebut berlangsung hangat dan dinamis. Para delegasi junior tampak lebih percaya diri dan kritis dalam mengutarakan pendapat. Hadirnya dewan mushohih, Romo K.H. Muhammad Liwauddin Najib, efektivitas format baru ini terlihat nyata saat forum berhasil menuntaskan seluruh rumusan masalah hanya dalam satu kali pertemuan (jalsatul ula).
Kemajuan signifikan ini mendapat apresiasi dari jajaran asatidz. Ustadz Saib Abdillah, salah satu guru Madin sekaligus Dewan Muharrir mengaku terkejut dengan peningkatan kualitas diskusi para santri. “Saya melihat ada lompatan besar. Santri yang pada musyawarah sebelumnya masih ragu, kini tampil sangat berani dan teguh dalam mempertahankan argumennya. Pendampingan senior di tiap kelompok benar-benar merangsang pemikiran kritis mereka,” ujar Ustadz Saib Abdillah.
Ia berharap, format delegasi “Dua Junior Satu Senior” ini dapat terus dipertahankan dan dikembangkan. Dengan berakhirnya forum tersebut, para santri diharapkan tidak hanya pandai dalam membaca kitab, tetapi juga mampu dalam menjawab tantangan problematika hukum Islam di masyarakat.
Reporter: Muhammad Izza Ajib Sulthony, Santri Mansajul Ulum










