Tepat tanggal 14 Ramadan 1447 H/4 Maret 2026, Ngaji Posonan Kitab Risalatul Mustahadhah yang diampu oleh Ibu Nyai Umdatul Baroroh berhasil khatam. Kitab yang dikarang oleh Syekh Ahmad Ustuhkriy Irysad As-Saroni ini menerangkan seputar haid, istihadoh, hingga nifas secara detail dengan dilengkapi jadwal penghitungan siklus bagi perempuan pemula, hingga perempuan yang sudah biasa mengalami haid maupun nifas.
Kitab ini memang sangat dibutuhkan bagi perempuan. Mengingat masih banyak perempuan yang masih bingung dalam penghitungan masa haid dan sebagainya. Pembacaan Ibu Umdah dalam mengkaji ini cukup jelas, santai tidak terburu-buru. Beliau tidak jarang membuka dialog kepada santri, untuk meninjau apakah yang disampaikan sudah memahamkan atau belum.
“Seneng banget. Cara menjelaskannya Ibuk itu jelas dan detail. Pembawaan beliau mampu menyita fokus, apa yang beliau sampaikan masuk ke dalam pikiran. Setelah mengkaji kitab ini aku bisa lebih memahami masalah seputar perempuan” terang Mbak Yunisa, Santri Putri Mansajul Ulum.
Menariknya lagi dari pengajian ini, Ibu Umdah tidak hanya mengajarkan pada santri putri saja, tetapi juga santri putra. Dengan tujuan agar yang memahami hukum ini bukan hanya perempuan saja. Laki-laki juga berhak untuk memahaminya, sebab laki-laki juga memiliki peran di masyarakat nanti. Melalui kajian kitab Risalatul Mustahadhah ini Ibu Umdah mengajarkan perspektif yang adil terhadap perempuan. Berbagai catatan kritis beliau sampaikan kepada para santri supaya mereka terdorong untuk mengubah cara pandang mereka menjadi lebih baik.
“Perempuan itu secara biologis lebih rumit dibanding laki-laki. Mengkaji babakan haid, istihadhoh, nifas tidak cukup dengan mengkaji fiqh saja, tetapi juga perlu pemahaman secara biologis atau medis dan persperktif yang adil bagi perempuan. Hal ini penting, sebab jika teks dipahami secara leterlek, justru menyulitkan dan menyudutkan perempuan. Jadi, penting memahami fiqh, medis, dan persepektif yang adil gender secara holistik. Saya sengaja mengajak santri putra untuk mengaji Risalatul Mustahadhah agar sama-sama belajar, sebab seringkali yang mengajar fiqh adalah laki-laki”, terang Ibu Umdah.
Pandangan ini pun disetujui oleh salah satu santri putra, Vicky Oktavianto. Menurutnya, laki-laki sangat perlu memahami pengalaman biologis perempuan. Sebab ketidakpahaman laki-laki atas realitas tersebut seringkali berdampak pada biasnya hukum. “Mujtahid zaman dulu hampir semuanya laki. Jadi kalo beliau-beliau para ulama ngga tau apapun itu yg kaitannya dengan perempuan kan susah dalam istinbath hukumnya. Hukum yang dihasilkan bisa kurang maslahat dan terjebak dalam hegemoni”, jelasnya.
Selain itu, bagi Vicky, pengetahuan ini tidak sekadar untuk menggali hukum semata, melainkan alat untuk menciptakan keadilan dalam keluarga hingga pencegahan diskriminasi. Jika laki-laki dan perempuan saling memahami, maka tidak ada yang namanya KDRT maupun pelecehan terhadap perempuan.
Kitab ini dipungkasi dengan nadzom berbahar Kamil yang dinukil mushannif dari kitab Fathul Malikil Majid. Nadzom ini berisi tentang doa istighotsah bagi seseorang yang memiliki hajat dan ingin disembuhkan dari penyakit atas izin Allah.
Dalam menutup pengajian ini Ibu Umdah mengajak santri untuk melantunkan nadhom tersebut dan dilanjut doa. Melalui kajian kitab ini, semoga menjadi wasilah dalam meraih keberkahan bulan Ramadhan ini.
Reporter: Manggar Eka Rahayu, Redaktur EM-YU










