Menu

Mode Gelap

Liputan · 19 Apr 2026 10:37 WIB ·

Wisuda Madin Ke-4 PP Mansajul Ulum: Meneguhkan Pentingnya Guru dalam Proses Belajar Santri


 Wisuda Madin Ke-4 PP Mansajul Ulum: Meneguhkan Pentingnya Guru dalam Proses Belajar Santri Perbesar

Madrasah Diniyah Mansajul Ulum gelar acara wisuda yang ke 4 pada Sabtu, 18 April 2026, kemarin. Wisuda kali ini diselenggarakan bersamaan dengan haul KH. Abdullah Rifa’i yang ke-23. Prosesi wisuda yang dihelat di halaman PP. Mansajul Ulum Komplek 1 tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan santri. Turut hadir dalam acara wali  para  wisudawan, para tokoh agama desa Cebolek Kidul dan sekitarnya, dan KH. Ahmad Nadhif Abdul Mujib sebagai pengisi mauidloh.

Menurut laporan kepala Madin, Ustadz Moh. Fackri Bashri, terdapat 45 santri yang tahun ini di wisuda. Dengan total 38 santri wisudawan aliyah, 4 santri wisudawan ulya dan 3 santri wisudawati ulya. Dari 7 santri yang diwisuda oleh madrasah diniyah mansajul ulum, terdapat satu santri yang mendapatkan predikat mumtaz, yaitu Alaika Shilahuddin Fatwa

Sebagai wisudawan terbaik, Alaika Shilahudin Fatwa dalam sambutannya menjelaskan betapa pentingnya peran guru dalam proses kita belajar. “Terima kasih kami ucapkan kepada para dewan guru Madrasah Diniyah Mansajul Ulum, karena ilmu saja tidak cukup tanpa adanya irsyadu ustadzin. Tanpa guru kita bagaikan perahu yang terombang ambing di atas luasnya samudra keilmuan”, tuturnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Mansajul Ulum, KH. Muhammad Liwauddin juga turut memberikan semangat kepada para wisudawan 3 aliyah agar mereka bisa melanjutkan belajar di pondok pesantren meskipun dengan kuliah. “Saya berharap, wisudawan kelas 3 aliyah setelah ini bisa melanjutkan mondok, tidak harus di pondok ini. Setelah kalian lulus dan masuk jenjang kuliah, saya harap tetap mondok sambil kuliah,” ungkapnya.

KH. Ahmad Nadhif Abdul Mujib dalam sesi mauidhoh juga menjelaskan kriteria-kriteria ilmu yang kita dapatkan bisa bermanfaat  bagi diri kita sendiri. “Ilmu yang kita punya dianggap bermanfaat jika memenuhi kriteria-kriteria ini; pertama, khosyah, yaitu rasa takut kepada Allah. Kedua, tawadhu’, merasa rendah diri. Ketiga, nashihah, yaitu mengharapkan kebaikan dari orang lain. Dan yang keempat, syafaqoh, yaitu berbelas kasih kepada orang lain,” terangnya.

Yang membedakan wisuda kali ini dengan wisuda tahun-tahun sebelumnya adalah adanya penampilan muhafadhoh lalaran kitab Imrithi oleh perwakilan santri  Mansajul Ulum. Terlihat para santri antusias dalam melantunkan bait-bait imrithi dengan kompak dan penuh semangat.

Muwadaah ke-4 ini bukan sekadar seremonial perpisahan, melainkan pengukuhan komitmen bahwa dimanapun kaki berpijak, jiwa santri harus tetap melekat. Karena sejatinya, keberkahan ilmu bukan terletak pada selembar ijazah, melainkan pada ridho guru yang terus mengalir.

Reporter: Vicky Oktavianto, Redaktur EM-YU

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 189 kali

Baca Lainnya

Kawal Syiar Digital, Tim Redaksi Em-Yu Ikuti Temu Media Pesantren se-Jateng di Semarang.

17 Mei 2026 - 09:04 WIB

Kunjungan Komisioner KPAI, Edukasi Santri Cara Proteksi Diri dari Bahaya Internet

10 Mei 2026 - 16:25 WIB

Pelantikan Pengurus: Kuatkan Kerjasama Antar Pengurus Baru

5 Mei 2026 - 15:15 WIB

Sidang LPJ Dipersingkat, Upaya Efisiensi Waktu di Tengah Antusiasme Santri

29 April 2026 - 13:19 WIB

Seminar Etika Komunikasi: Upaya Pesantren Mansajul Ulum Cetak Santri Bijak Bermedsos

26 April 2026 - 16:46 WIB

Kiai Aniq: Kualitas Keilmuan Syarat Mutlak Memimpin Pesantren

26 April 2026 - 09:16 WIB

Trending di Liputan