Menu

Mode Gelap

Opini Santri · 31 Mar 2026 14:14 WIB ·

Budaya Literasi Modern untuk Keharmonisan Alam Semesta


 Budaya Literasi Modern untuk Keharmonisan Alam Semesta Perbesar

Akhir-akhir ini kita menyaksikan banyak bencana alam yang sering terjadi di bumi pertiwi. Salah satu contoh adalah, banjir; bencana yang masih menjadi problem yang belum terselesaikan sampai sekarang, ditambah perubahan cuaca yang sekarang tidak menentu. Beberapa bencana dan musim yang tidak menentu ini menandakan kondisi alam yang tidak baik-baik saja. Hal ini bukan hanya karena usia bumi kita yang semakin tua, tetapi juga  peran tangan-tangan jahil manusia. Manusia mengeksploitasi alam dengan menebang hutan sembarangan, mengambil hasil laut secara ilegal, dan membuka lahan-lahan pertambangan yang dapat merusak alam sekitarnya. Manusia menjadikan bumi sebagai alat untuk mengeksploitasi kebutuhan dirinya sendiri.

Perjalan Manusia Melintasi Zaman

Manusia telah melintasi perkembangan zaman yang sangat panjang di bumi. Jauh sebelum manusia memasuki abad globalisasi, para pengamat membagi sejarah perkembangan pemikiran umat manusia dengan pembagian tiga abad besar. Yang pertama adalah abad-abad mitos atau takhayul. Dalam abad ini, ketika manusia menjumpai gempa bumi, banjir besar, tsunami, gunung meletus, kebakaran hutan, dan berbagai peristiwa alam lainnya, mereka menyelesaikan masalah itu dengan mitos. Mereka berpandangan bahwa peristiwa-peristiwa itu terjadi karena dewa sedang marah. Supaya dewa tidak marah, dibuatlah suguhan-suguhan berupa buah dan sayuran, hewan-hewan bahkan sampai manusia yang dipersembahkan untuk dewa-dewa. Pada abad ini, Manusia selalu melibatkan alam dalam menyelesaikan masalah kehidupan mereka. 

Setelah abad takhayul berakhir, manusia memasuki abad ke dua yaitu abad-abad agama. Menurut para pengamat, dalam abad-abad ini, manusia menyelesaikan berbagai permasalahannya dengan mengembalikannya pada agama-agama. Abad ini berlangsung cukup lama. Pada tahap berikutnya (yang ketiga), manusia memasuki abad-abad sains dan teknologi. Dalam abad ini, manusia menyelesaikan berbagai permasalahannya dengan sains dan teknologi. Menguatnya sains dan teknologi dalam kehidupan mereka sehingga ada sebagian masyarakat yang mendewa-dewakannya. Dalam abad-abad ini, kata pengamat, agama akan ditinggalkan oleh para pemeluknya dan peran agama akan semakin mengendur.

Sains dan Teknologi atau Manusia yang Merusak Alam?

Sains dan teknologi telah memberi umat manusia kekuatan luar biasa dan energi yang pada dasarnya tidak terbatas. Tatanan sosial telah berubah sepenuhnya, demikian pula politik, kehidupan sehari-hari, dan psikologi manusia. Manusia menjadi lebih mendewakan sains dan teknologi serta melupakan atau tidak terpengaruh lagi dengan alam. Salah satu contohnya pertanian tradisional yang masih dekat sekali dengan alam. Mempekerjakan manusia untuk menanam dan memanen padi, menggunakan hewan untuk membajak sawah, menggunakan pupuk-pupuk organik untuk merawat padi, dan ritme pertanian yang bergantung pada siklus alami dan pertumbuhan organik. 

Berbeda dari pertanian zaman sekarang yang tugas-tugas di atas digantikan oleh mesin dan penemuan-penemuan canggih. Matahari atau musim sudah tidak lagi diperhatikan. Prioritas pertama mereka adalah menghasilkan produk sebanyak-banyaknya tanpa melihat alam yang semakin rusak dan tertekan. Perubahan siklus pertanian tersebut hanya salah satu contoh kecil. Masih banyak revolusi sains dan industri yang semakin menjauh dan merusak alam semesta.

Pada zaman ini manusia membebaskan diri dari ketergantungannya akan ekosistem di sekelilingnya. Revolusi ini membuka cara-cara baru untuk mengubah energi dan menghasilkan barang. Planet kita yang dahulu hijau dan biru berubah menjadi pusat perbelanjaan dari semen-semen dan plastik. Manusia menebangi hutan, mengeringkan rawa-rawa, membendung sungai, membanjiri dataran, memasang puluhan ribu kilometer rel kereta, dan membangun metropolis-metropolis ber pencakar langit.

Teknologi yang diciptakan manusia pelan-pelan menjadi bumerang untuk bumi kita. Rasa ketidakpuasan manusia dalam mengeksploitasi alam sangat berdampak buruk pada keseimbangan bumi kita. Padahal pembaruan sains dan teknologi tersebut berasal dari pengamatan dan kekaguman manusia kepada alam. Lalu, setelah rasa puas mereka terpenuhi, mengapa mereka dengan teganya melupakan alam dan merusaknya? Nyaris 7 miliar manusia memenuhi benua-benua di bumi. Kontras sekali dengan makhluk hidup lain yang keberadaannya hampir punah. Spesies hewan hanya tersisa sekitar 250.000 di bumi. Umat manusia betul-betul telah mengambil alih dunia. 

Kembali Lagi kepada Alam

Saat terjadi banjir, kita pasti hanya berpikir bahwa bencana ini memang lumrah terjadi, karena cuaca yang buruk dan curah hujan yang tinggi. Ketika tsunami datang, mereka terguncang. Tetapi berpikir kalau ini memang bencana alam dari Allah yang sudah seharusnya terjadi. Atau ketika gunung meletus. Manusia juga pasti terguncang. Tetapi, lagi-lagi mereka menyalahkan Sang Pencipta dan kondisi alam atas bencana yang mereka alami.  Ketika wabah penyakit datang, cuaca yang tidak menentu,  pemanasan global, semua ini selalu dikembalikan pada alam dan Tuhan. Secara tidak sadar, mereka menyalahkan alam dan Tuhan atas bencana-bencana yang mereka alami. 

Memang benar kita harus menerima semua takdir yang Allah berikan, tetapi apakah kita pernah berpikir bahwa bencana-bencana tersebut terjadi karena ulah kita sendiri? Pasti kita tidak akan berpikir seperti itu dan lebih memilih menutup mata. Pada kenyataannya, manusialah yang harus bertanggungjawab atas sebagian bencana yang melanda alam semesta. Bisa jadi, Allah menurunkan bencana untuk menegur manusia karena telah melampaui batasannya sebagai Khalifah di bumi. Dalam hal ini, sains dan teknologi tidak bisa mengatasi permasalahan ini. Bahkan berpotensi memperkeruh kondisi saat ini.  

Dalam kitab al-Hikmah fî Makhlûqȃtillȃh, Imam Al- Ghazali pernah menyinggung  tentang penciptaan matahari, bintang, bulan, bumi, tumbuhan, binatang, laut, sungai, gunung, air, udara bahkan binatang-binatang serangga seperti lebah dan lalat. Semua makhluk Tuhan tersebut harus selaras, seirama sehingga menghadirkan harmonisasi lingkungan. Manusia hendaknya mensyukuri nikmat Tuhan dengan cara menjaga dan merawatnya. Hal ini perlu diperhatikan oleh manusia modern, supaya bisa memperhatikan dan menjaga bumi di atas segalanya. Adanya teknologi bisa menjadi wasilah manusia untuk tetap menjaga alam semesta kita. 

Urgensi Literasi dalam Menggunakan Teknologi yang ramah Lingkungan

Saya sedikit tercengang ketika membaca story WhatsApp  salah satu teman yang me-repost data dari KOMINFO, mengatakan bahwa UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,0001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Jika melihat data ini, miris sekali membayangkannya, padahal minimnya literasi rakyat menjadi hambatan paling berat bagi sebuah negara untuk maju dan menguasai teknologi.  

Melihat data tersebut, saya sempat tidak percaya. Pasalnya, saya melihat banyak kegiatan-kegiatan dan komunitas-komunitas di kalangan pemuda Indonesia yang gencar menggabungkan pentingnya membaca. Salah satu contohnya, Indonesia Book Party; komunitas ini adalah tempat dan wadah para bookmats (sebutan untuk para pengikut) untuk dapat berbagi, diskusi, dan ngobrolin hal-hal lain terkait buku dan literasi. Komunitas ini mempunyai kegiatan rutinan piknik sambil baca buku di akhir pekan (Sabtu/Ahad) dan PUSRENG- Perpustakaan Bareng (Rabu/Kamis). Komunitas yang awalnya hanya berada di Jakarta, sekarang telah meluas ke berbagai daerah di Indonesia dengan lebih dari seribu pengikut. 

Toko-toko buku dan pasar-pasar literasi banyak diadakan di beberapa wilayah Indonesia dan menarik banyak pengunjung. Tempat-tempat tersebut bukannya sepi tetapi selalu ramai pengunjung, dan buku-bukunya ludes terjual. Event-event, diskusi, seminar literasi juga sering diadakan oleh, sekolah, pesantren, kampus, dan penggiat-penggiat literasi lainnya. Melihat hal-hal tersebut, seharusnya data minat baca Indonesia tidak serendah itu. 

Namun, ditelisik semakin dalam makna literasi, ternyata tingkat literasi Indonesia memang sangatlah rendah. Dalam konteks perilaku dan kebiasaan sehari-hari, seseorang atau suatu masyarakat bisa dikatakan literate (yang terpelajar; generasi berbudaya literasi) jika mereka sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang terdapat dalam bacaan dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya berdasarkan isi bacaan tersebut. Sebagai contoh, ketika menemukan disepanjang jalan tanda dilarang membuang sampah sembarangan, kita akan membacanya dan otomatis akan mematuhinya dengan tidak membuang sampah di sepanjang jalan tersebut. Atau ketika peraturan negara yang mengatakan bahwa dilarang menebang pohon sembarangan, masyarakat literate juga otomatis akan mematuhinya. Lain halnya dengan masyarakat yang tidak berpendidikan literasi. Dalam kasus ini, mereka tidak menghiraukan peraturan-peraturan tersebut. Mereka baru akan patuh jika ditegur atau dimaki-maki oleh semisal aparat keamanan.

Dalam konteks tradisi intelektual, suatu masyarakat bisa disebut berbudaya literasi ketika masyarakat tersebut sudah memanfaatkan tulisan untuk melakukan komunikasi sosial dan ilmu pengetahuan. Hal ini ditandai dengan munculnya karya-karya sastra dan karya-karya ilmiah. Melihat konteks literasi tersebut, tidak hanya tradisi membaca yang meningkat, tetapi bagaimana suatu masyarakat bisa mengaplikasikan isi dari bacaan tersebut dan munculnya tulisan-tulisan untuk mempertahankan eksistensi peradaban dunia. 

Masyarakat Indonesia belum menjadi masyarakat yang berbudaya literasi. Terbukti banyaknya pelanggaran-pelanggaran masyarakat Indonesia mulai dari yang kecil sampai yang besar. Terutama pelanggaran-pelanggaran yang menyebabkan efek samping berbahaya pada ekosistem alam semesta. Padahal negara dan agama telah mengaturnya dalam undang-undang dan literatur-literatur agama, terutama di dalam kitab rujukan utama umat Islam, yaitu Al-Qur’an. 

Hal inilah yang dilupakan oleh manusia modern. Mereka hanya berfokus dan merujuk pada teknologi tanpa membaca dan memahami kembali literatur-literatur agama Islam yang menjadi pedoman utama manusia dalam menjalani kehidupan di Bumi. Masyarakat Indonesia hanya menjadi konsumen revolusi sains dan teknologi yang hanya mengikuti arus, tanpa adanya sumbangsih nyata dalam memanfaatkan perkembangannya. Kerusakan dan penyalahgunaan alam di Indonesia salah satunya dikarenakan rendahnya budaya literasi masyarakat Indonesia. 

Pesantren, Tonggak Masa Depan Literasi 

Pesantren mempunyai budaya literasi yang sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya karya-karya ulama terdahulu yang masih eksis dipelajari sampai sekarang. Dalam pembelajarannya, pesantren menekankan untuk membaca dan memahami teks-teks agama, seperti kitab dan Al-Qur’an. Hal ini menjadikan pesantren dianggap lebih paham dan mendalami agama Islam daripada masyarakat yang lainnya. Hal ini, merekalah yang mempunyai pemahaman mendalam tentang hubungan manusia, alam dan tuhan. 

Dalam zaman yang modern ini, pesantren juga harus ikut andil dalam  menggaungkan ajaran-ajaran mereka tentang menjaga dan melestarikan alam semesta. Tidak lagi hanya menekuri teks-teks arab dan mempraktekannya di kalangan mereka sendiri, tetapi harus mulai berani menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam tentang alam semesta ke khalayak umum.

Salah satu caranya dengan terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya  menjaga dan merawat alam seisinya, atau dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Memanfaatkan media untuk menyebarkan konten-konten yang ramah lingkungan. 

Peran pesantren dalam membangun budaya literasi di masyarakat, ini sangat penting dalam menyeimbangkan teknologi yang semakin pesat. Membaca kembali literatur-literatur terdahulu, mengembangkannya sesuai permasalah zaman sekarang, dan menyebarkannya menjadi cara ampuh untuk tetap mewaraskan manusia di tengah gemerlapnya teknologi yang memabukkan. 

Masyarakat yang berbudaya literatur menjadi poin penting dalam membentuk manusia yang beretika dalam melihat lingkungan dan alam semesta. Selain itu, juga menjadi jawaban atas permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia. 

Penulis: Putri Nadillah, Redaktur EM-YU.

 

                                    

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 49 kali

Baca Lainnya

Malam Takbir dan Pergulatan Makna di Tengah Euforia Kebisingan

17 Maret 2026 - 14:02 WIB

Bilingualisme dan Diglosia di Pesantren: Dinamika Bahasa antara Keilmuan, Budaya, dan Kebangsaan

17 Februari 2026 - 13:01 WIB

Mengapa Ulama Menganjurkan Memperbarui Wudu Meski Belum Batal?

20 Januari 2026 - 15:13 WIB

Pejabat Pelayan Rakyat: Mengingat Kembali Hakikat Demokrasi

21 Oktober 2025 - 14:38 WIB

Peran Santri di Era Teknologi

7 Oktober 2025 - 13:24 WIB

Degradasi Norma Sosial di Era Digital

30 September 2025 - 14:12 WIB

Trending di Opini Santri