Di lingkungan pesantren, terutama di kalangan pelajar dan santri, maag sering dianggap sebagai penyakit “biasa saja”. Kalimat seperti “cuma maag kok” terdengar ringan, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Padahal, di balik anggapan sepele itu, maag menyimpan potensi bahaya yang tidak kecil. Kebanyakan pelajar atau para santri seringkali abai dengan pola makan dan cenderung makan makanan sembarangan.
Maag memang sering dianggap ringan, tetapi jika tidak ditangani dengan tepat, maag bisa berkembang menjadi masalah serius seperti gastritis kronis, tukak lambung (luka lambung yaitu luka terbuka pada dinding lambung), hingga kanker lambung. Maag adalah kondisi gangguan pada lambung yang menimbulkan rasa nyeri atau tidak nyaman di perut bagian atas, seperti perih, kembung, atau mual. Kondisi ini biasanya terjadi karena peningkatan asam lambung.
Pemicu maag terutama pola makan yang tidak teratur. Kondisi tersebut jika dilihat lebih dekat, sangat lekat dengan kehidupan santri sehari-hari. Padatnya kegiatan membuat pola makan santri menjadi tidak teratur. Waktu makan sering terpotong oleh jadwal yang ketat, bahkan tidak jarang dilewatkan begitu saja. Ada juga santri yang memilih menunda makan demi mengejar setoran hafalan, ada pula yang makan tergesa-gesa tanpa memperhatikan kualitas makanan. Santri cenderung menyukai makanan yang praktis namun beresiko bagi lambung, seperti makanan pedas asam, gorengan, dan mie instan.
Hasil survei di salah satu pesantren di Samarinda, Kalimantan Timur ditemukan bahwa 32,3% (sekitar 38 santri dari total 117 santri) secara medis dikategorikan mengalami maag/gastritis dan 88% (sekitar 103 santri) mengaku pernah merasakan gejala klinisnya, yaitu sensasi nyeri atau perih di bagian ulu hati/lambung. Angka statistik ini didapatkan dari survei awal (studi pendahuluan) mengenai rekam kesehatan santri dalam jangka waktu enam bulan terakhir sebelum program dimulai. Hasil riset ini kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah pengabdian masyarakat berjudul: “Peran Kader SPG (Stop Penyakit Gastritis) di Pondok Pesantren” yang terbit di Jurnal Pesut: Pengabdian untuk Kesejahteraan Umat (Tahun 2020). Survei dan program ini dijalankan oleh tim dosen dan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Penelitian ini dipimpin oleh Ghozali bersama rekan-rekan akademisinya (Sudirman, Ayu Rizki Amalia, Ferry Setiawan, dkk.). Penyakit ini dapat mengganggu kegiatan dan konsentrasi para santri. Selain itu, jika penyakit ini dibiarkan dalam waktu yang lama (kronis) berpotensi menyebabkan anemia, lemas dan penurunan berat badan.
Kondisi stress dan kecemasan yang tinggi adalah penyebab lain yang dapat memicu maag. Stres dan kecemasan tidak langsung “menyebabkan” semua jenis maag, tetapi sangat bisa memicu atau memperberat keluhan lambung—terutama pada orang yang sudah punya sensitivitas lambung, gastritis, atau refluks asam. Saat cemas, sistem saraf menjadi lebih peka. Asam lambung yang sebenarnya normal bisa terasa jauh lebih sakit dibanding biasanya. Karena kebanyakan orang stres menjadi malas makan, telat makan, minum kopi berlebihan dan kurang tidur.
Oleh karena itu, untuk mencegah maag di masa depan, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan, seperti makan dengan teratur, menghindari makanan pemicu (pedas, asam, berlemak). Makanan jenis ini berhubungan erat dengan penyakit maag karena dapat mengiritasi lambung atau memperberat kondisi asam lambung.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah makan dengan porsi kecil tapi sering. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar lambung tidak kosong. Karena jika lambung dalam kondisi kosong dalam waktu yang lama, asam lambung tetap diproduksi dan dinding lambung mulai teriritasi dan menyebabkan nyeri mual perih hingga bisa menyebabkan stres, cemas meningkat dan gejala maag makin kuat.
Kita sebagai santri selain sibuk menuntut ilmu, santri juga harus menjaga tubuh agar tetap sehat, karena kesehatan adalah bagian dari ibadah menjaga badan, agar bisa menuntut ilmu dengan maksimal. Menjaga kesehatan bagi seorang santri bukan sekadar gaya hidup, melainkan bagian dari adab dan syarat penting dalam menuntut ilmu. Dalam tradisi pesantren, kesehatan fisik adalah “kendaraan” utama untuk bisa istiqomah dalam belajar, menghafal, dan beribadah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ta’limul Muta’allim, kesehatan merupakan salah satu modal utama agar seorang penuntut ilmu bisa meraih keberhasilan. Dengan demikian, ilmu tidak akan mudah diraih jika tubuh dalam kondisi lemah dan rentan karena belajar membutuhkan kekuatan fisik dan konsentrasi, sehingga menjaga kesehatan termasuk bagian dari adab seorang penuntut ilmu.
Tubuh yang sehat membantu santri lebih fokus dalam belajar dan beribadah. Sebaliknya, jika sakit, kegiatan pesantren akan terganggu. Hafalan menjadi sulit, semangat belajar menurun, bahkan ibadah pun tidak maksimal. Oleh sebab itu, menjaga kesehatan bukan hanya kebutuhan pribadi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab seorang santri. Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menjaga kebersihan, makan secukupnya, dan menjaga kekuatan tubuh. Selain itu, ada pepatah yang mengatakan “Mens sana in corpore sano” yang artinya “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.” Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan tubuh yang sehat, santri dapat belajar dengan baik, beribadah dengan khusyuk, dan menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat. Wallahu’alam.
Penulis: Wardah ‘Alawiyyah, Santri Mansajul Ulum.










