Menu ✖

Mode Gelap

Opini Santri · 13 Okt 2026 11:17 WIB ·

Degradasi Moral Santri


 Degradasi Moral Santri Perbesar

Berdasarkan laporan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sepanjang tahun 2024 terjadi 573 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan. Dari jumlah ini, sekitar 20% terjadi di pesantren yang seharusnya menjadi tempat seorang santri mempunyai adab dan moral yang baik. Kasus ini memunculkan komentar negatif dari orang luar atau outsider yang sering ditemui di sosial media atau di dunia nyata. Komentar negatif tersebut bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan pada pandangan yang tercermin dari santri di era sekarang. 

Berjalannya waktu, kata “santri” seakan semakin menghilang dari esensinya. Santri adalah seorang tholibul ilmi yang senantiasa mengekspresikan ketekunan dalam belajar dan berperilaku dengan akhlakul karimah. Namun hari ini, moral atau etika santri semakin lama semakin merosot. Bahkan, keilmuannya pun semakin lama semakin memudar. Sehingga, santri seakan sulit dipandang lagi sebagai seseorang yang memiliki akhlakul karimah. Terlebih, komentar orang luar hanya berdasar pada argumen pribadi, tanpa mengetahui dan memahami kehidupan seorang santri di dalam pesantren. Tentu hal ini akan mempengaruhi cara pikir mereka dalam memahami esensi seorang santri. 

Hal ini terjadi karena beberapa faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi degradasi moral santri adalah banyak santri yang belajar di pesantren karena keterpaksaan dari orang tua. Sehingga, setelah lama mondok, santri tersebut tidak kunjung memahami tujuan dirinya belajar di pesantren. Keterpaksaan tersebut akan berdampak kepada tingkat keseriusan santri dalam memahami hakikatnya sebagai santri.

Selain faktor keterpaksaan, berdampingan dengan kecanggihan teknologi, seperti gadget juga mempengaruhi kemerosotan moral santri. Santri yang belum memahami penggunaan smartphone dengan baik, akan menggunakannya untuk hal-hal negatif, alih-alih sebagai penunjang belajar dan memperluas pengetahuan. Santri yang tidak bijak cenderung menggunakan gadget untuk bermain game sepanjang waktu, dan scrolling aplikasi-aplikasi entertainment  yang berisi hal-hal remeh temeh.

Sehingga hal-hal tersebut lambat laun mempengaruhi, dan mengganggu pemikiran seorang santri. Menghabiskan waktu dengan scrolling video reels pendek, mengakibatkan brainrot atau pembusukan otak. Disinilah santri akan mulai melupakan kewajibannya untuk belajar serta membawa hal-hal negatif yang didapat di dunia maya ke dalam dunia nyata santri. Sehingga, santri mulai hilang kesantriannya dan merosot dari esensinya sebagai seorang tholibul ilmi. 

Lantas, bagaimana cara kita selaku seorang santri, agar dapat selalu memahami hakikat diri sebagai seorang santri? Pertama, kita dapat mulai menata niat untuk bersungguh-sungguh belajar di pesantren. Bukan lagi karena paksaan atau dorongan dari orang tua. Melainkan murni keinginan diri sendiri untuk mempelajari ilmu agama di pesantren. 

Kedua, Meninggalkan hal-hal yang dapat mengganggu dunia pesantren kita dan fokus untuk menjadi santri yang senantiasa beramal sholih dan berilmu. Santri dapat melakukanya dengan cara mengangan-angan atau memperbanyak kajian dan mengikuti dawuh para kiai dan guru. Selain itu, kita juga harus mencoba untuk berpikir sebelum bertindak, dan semangat dalam belajar. Itu semua menjadi solusi kita dalam membangun kembali hakikat kita sebagai seorang santri. 

Syekh Az-Zarnuji, pengarang kitab ta’limul muta’allim, menekankan bahwa keberhasilan menuntut ilmu sangat berkaitan dengan keberkahan yang diperoleh melalui adab. Nilai seperti kemurnian niat, sikap ta’dzim terhadap guru, serta sikap wara’ menjadi pilar penting yang tidak boleh tergerus oleh budaya digital yang serba instan.  Wallahu A’lam Bis Shawab.

Penulis: Nur Kholis, Santri Ponpes Mansajul Ulum.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 44 kali

Baca Lainnya

Di Balik Kesunahan Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

6 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Keunggulan Sistem Bandongan dan Sorogan di Pesantren

29 September 2026 - 14:45 WIB

Diabetes Melitus: Mulai Merampas Keceriaan Masa Kecil

22 September 2026 - 14:21 WIB

Comfort Zone: Efek dan Solusi Mengatasinya

15 September 2026 - 12:37 WIB

Mengenal Lebih Dalam Kesehatan Mental

8 September 2026 - 14:09 WIB

Jerat Perang AS-Iran Bagi Konsumen Lokal

1 September 2026 - 12:46 WIB

Trending di Opini Santri