Lima kali sehari, bahkan mungkin lebih kita membasuh wajah, tangan, kepala dan kaki melalui ritual wudu. Ritual yang dilakukan umat Islam sebelum menunaikan ibadah salat. Tapi pernahkah kita membasuh hati dari kesombongan sebelum menghadap Tuhan?
Islam adalah agama yang unik dan terkadang ajaran-ajarannya tidak bisa kita logika. Salah satunya adalah bersuci sebelum beribadah; wudu. Wudu tidak hanya sekedar membersihkan tubuh secara fisik tetapi juga menyucikan ruhani. Di setiap wudu terdapat makna yang mendalam, bukan hanya membasuh tubuh tapi juga menenangkan pikiran dan hati sebelum menghadap pencipta.
Para ulama menganjurkan untuk memperbaharui wudu, bahkan ketika wudu pertama belum batal. Kegiatan spiritual ini biasa disebut dengan Tajdidul Wudu atau meperbarui wudu. Mayoritas Fuqaha berpendapat bahwa hukum Tajdidul Wudu adalah sunnah. Dalil yang menjadi landasan kesunahan wudu adalah sebagaimaa berikut:
من توضأ على طهر كتب له عشر حسنات
Artinya: “Siapa yang berwudu dalam keadaan masih suci, Allah akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan” HR At.Tirmidzi
Imam Nawawi menyatakan bahwa semua kalangan syafi’iyyah telah bersepakat bahwa orang yang mempunyai wudu pertama sunnah melakukan wudu kembali tanpa menunggu wudu pertama batal.
اتفق الفقهاء على استحباب تجديد الوضوء لمن كان على وضوء ثم يتوضأ مرة أخرى دون أن يحدث
Artinya: “Kalangan Syafi’iyah telah sepakat atas kesunahan memperbaharui wudu. Yaitu ketika ada orang yang masih dalam kondisi punya wudu kemudian wudu lagi tanpa menunggu berhadats.”
Menurut perspektif Spiritual, wudu adalah cara orang muslim menjaga dirinya dalam keadaan suci. Baik secara fisik maupun batin. Dalam Islam, wudu bukan hanya tindakan pembersihan tetapi juga bentuk penyerahan diri kepada Allah. Dalam menjaga wudu sehari hari, seorang hamba diingatkan untuk selalu menjaga diri dari perbuatan buruk dan tetap berada dalam kesadaran bahwa kita selalu diawasi Allah.
Adapun pada dimensi psikologis, manfaat wudu memberikan ketenangan jiwa sehingga menimbulkan efek rileks dan menyegarkan pikiran, dapat mengurangi stres dan gelisah, bahkan saat kita tidak bisa mengontrol emosi kita dianjurkan untuk berwudu. Kemudian dalam dimensi kehidupan santri, wudu merupakan sebuah adab dalam bentuk memuliakan ilmu. Di dalam kitab Ta’limul Muta’allim yang dikarang oleh Imam Az Zarnuji dijelaskan bahwa:
و من تعظيم العلم تعظيم الكتاب. فينبغي لطالب العلم أن لا يأخذ الكتاب إلا بطهارة
Artinya: “Salah satu ujud penghormatan terhadap ilmu adalah memuliakan kitab, karena itu di anjurkan bagi penuntut ilmu agar tidak mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci”
Dalam salah satu Hikayat Syaikh Syamsul Aimmah Al-Hulbani RA, beliau berkata : “Sesungguhnya saya berhasil mendapatkan ilmu ini adalah dengan penghormatan, karena saya tidak pernah menyentuh kertas belajar selain dalam keadaan suci.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa wudu tidak hanya bermakna sebagai cara untuk menghilangkan hadats saat akan melakukan ibadah salat, akan tetapi wudu juga mempunyai manfaat psikologis, yaitu mengurangi stress dan gelisah. Selain itu, dalam konteks kehidupan sehari-hari wudu atau bersuci menjadi salah satu bagian dalam etika keilmuan.
Penulis: Khilyatun Nafisah, Santri Mansajul Ulum.










