Menu

Mode Gelap

Opini Santri · 9 Jun 2026 13:16 WIB ·

Menghidupkan Ibadah dengan Tasawuf 


 Menghidupkan Ibadah dengan Tasawuf  Perbesar

Sebuah kehidupan pada dasarnya adalah perjalanan untuk mencari rida Allah. Maka, dalam beribadah kepada Allah tidak hanya segi syariah yang harus terpenuhi, tetapi ada dimensi spiritual untuk mencari rida Nya. Syariat tanpa tasawuf akan membuat ibadah terasa gersang, hati menjadi keras dan tentunya ketika beribadah pun tidak merasakan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Oleh karena itu, tasawuf melengkapi syariat dengan adab, akhlak, syukur, sabar serta keikhlasan kita dalam beribadah. Thariqat inilah yang dinamakan sebagai jalan atau bentuk konkret pengamalan dalam melakukan beribadah kita kepada Allah Swt.

Dijelaskan dalam kitab Kifayatul Atqiya bahwa

فَشَرِيْعَةٌ كَسَفِيْنَةٍ وَطَرِيْقَةٌ … كَالْبَحْرِ ثُمَّ حَقِيْقَةٌ دُرٌّ غَلَا

Artinya: “Syariat itu bagaikan perahu dan thariqah bagaikan lautan, kemudian hakikat adalah mutiara yang sangat mahal.”

Syi’ir tersebut menjelaskan hubungan antara syariat, thariqat, dan haqiqat. Dalam artian, untuk menuju haqiqat, dibutuhkan 2 tahapan yang harus dilewati oleh seseorang, yaitu syariat dan thariqat. Syariat diibaratkan seperti sebuah kapal yang digunakan di tengah laut yang besar untuk mencari sebuah permata yang mahal. Dalam analogi tersebut, syariat adalah titik awal bagi seorang hamba untuk mencapai tingkatan haqiqat. 

Seringkali ibadah seseorang hanya didasari niat untuk menggugurkan kewajiban padahal tujuan hidup di dunia hanya untuk mencari rida Allah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam surat Ad-Dzariyat ayat 56: 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mau menjadi hamba yang mau menyembahku.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa sejatinya kita hidup di dunia hanya untuk beribadah dan mencari ridho Allah Swt. semata. Di antara cara untuk mencapai ridho Allah adalah dengan melakukan taqarrub ilallah atau mendekatkan diri kepada Allah. Di antara cara yang dapat dilakukan adalah melakukan penyucian diri, seperti:

  1. Dzikir hati 

Dengan dzikir hati atau taqarrub kita bisa membayangkan bahwa kita diawasi setiap saat dan di manapun kita berada. Dengan cara ini masalah yang kita alami pasti menjadi ringan karena  semua berada di kehendak Nya. Dzikir ini juga bisa dilakukan dengan cara berwirid, seperti membaca istighfar, shalawat, tahmid atau tasbih. Bacaan-bacaan tersebut tidak harus diucapkan secara jahr atau keras, melainkan dapat dilakukan di dalam hati.

Sebagaimana dijelaskan dalam NU Online, terdapat tiga tingkatan dalam berdzikir. Pertama adalah dzikir lisan, dzikir ini dilakukan dengan bersuara yang mana tingkatan dzikir ini di tingkatan paling rendah walaupun hati belum sepenuhnya hadir tetapi tetap mendatangkan pahala dan keberkahan. Kedua, Dzikir qolb, dzikir ini sudah di tingkatan tengah-tengah yang mana lebih fokus dan memuji keagungan Allah dari dalam lubuk hati. Ketiga, dzikir sirr, ini merupakan tingkatan dzikir yang tinggi, yang mana ketika kita melakukannya benar benar sirna dari kesadaran duniawi. Bisa dikatakan bahwa yang berdzikir adalah Allah yang mana  semua tingkah laku kita digerakkan oleh Allah.

  1. Akhlakul karimah dan Muhasabah

Melalui penerapan akhlakul karimah, kita diajak untuk selalu menjaga sikap dengan orang lain, khususnya para pendahulu atau guru-guru kita dengan selalu tawadhu dan qanaah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan dan ikhlas dengan apa yang kita perbuat, juga selalu husnudzon dengan Allah dan manusia. Selain itu, kita juga dapat menyucikan diri dengan melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Hal ini dapat kita lakukan saat pikiran kosong atau di waktu senggang. Dari kondisi tersebut, kita dapat mengevaluasi diri kita dan hal yang kita lakukan.

  1. Mengontrol Makanan

Mengonsumsi makanan yang haram atau najis dapat menyebabkan hati menjadi keras bisa menyebabkan hati kita menjadi keras jauh dari petunjuk Allah. Orang yang mengonsumsi barang haram cenderung sekali melakukan kemaksiatan dan amalnya tidak diterima oleh Allah Swt. Hal ini dijelaskan dalam kitab al Mu’jam al Ausath

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

Artinya: “Dan seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima  amal amalnya selama 40 hari. “(HR. At Thabrani).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mencari ridho Allah dan beribadah kepadanya adalah orientasi utama dari diciptakannya manusia. Oleh karena itu, seyogyanya kita berusaha semaksimal mungkin untuk menyucikan diri kita dan menjaga diri dari kemaksiatan. Wallahu a’lam.

Penulis:  Iffah Madania Khamid, Santri Mansajul Ulum

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 103 kali

Baca Lainnya

Hari Bhakti Adhyaksa: Refleksi Kritis atas Integritas Kejaksaan

21 Juli 2026 - 13:33 WIB

Pentingnya Membangun Pertemanan yang Positif

14 Juli 2026 - 11:09 WIB

Bukan Sekadar Game: Manfaat Edukasi di Balik Minecraft 

7 Juli 2026 - 12:49 WIB

Adab di Atas Ilmu: Mengembalikan Makna Pendidikan di Era Teknologi 

30 Juni 2026 - 12:52 WIB

Pendidikan Disabilitas: Menuju Pesantren Inklusif

23 Juni 2026 - 12:33 WIB

Skandal BGN dan Rapuhnya Tata Kelola Program MBG 

16 Juni 2026 - 10:41 WIB

Trending di Opini Santri