Menu

Mode Gelap

Opini Santri · 22 Sep 2026 14:21 WIB ·

Diabetes Melitus: Mulai Merampas Keceriaan Masa Kecil


 Diabetes Melitus: Mulai Merampas Keceriaan Masa Kecil Perbesar

Seringkali tidak kita sadari, di balik tawaran kesegaran instan dalam sachet warna-warni yang akrab di jemari anak-anak, tersimpan bom waktu yang siap meledak menjadi vonis diabetes melitus. Bagi sebagian besar orang tua, diabetes adalah penyakit orang dewasa. Namun di bangsal rumah sakit hari ini, seorang anak kecil harus kehilangan masa kecilnya yang manis, dan  terjebak dalam komplikasi mematikan akibat akumulasi zat pemanis buatan yang mereka konsumsi 

Seperti yang kita ketahui, Diabetes Melitus adalah gangguan kesehatan kronis yang ditandai dengan melonjaknya kadar gula darah di atas batas normal. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Kasus diabetes pada anak di Indonesia pada kurun waktu 2010-2023 mengalami peningkatan tajam hingga 70 kali lipat dalam satu dekade terakhir, berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Penderita didominasi oleh anak-anak usia sekolah, dengan kelompok usia 10–14 tahun, mencakup porsi terbesar (46,23%), disusul usia 5–9 tahun (31,05%).

Bagian paling memilukan bukan sekadar angka lonjakan kasusnya, melainkan fakta bahwa 71% diabetes anak di Indonesia baru terdeteksi setelah jatuh dalam kondisi kritis (Ketoasidosis Diabetikum). Anak-anak ini terpaksa dilarikan ke rumah sakit saat sudah mengalami sesak napas akut, muntah hebat, hingga koma.

Lonjakan kasus ini tidak terjadi begitu saja, melainkan akibat dari kepungan industri makanan dan minuman manis yang sangat agresif menyasar anak-anak. Di sisi lain, pergeseran gaya hidup modern turut memperparah keadaan. Paparan screen time gadget yang tinggi membuat anak-anak betah duduk berjam-jam dan kurang bergerak (minim aktivitas fisik). 

Berdasarkan panduan dari Perpustakaan Kesehatan UMM Health (UMass Memorial Health) yang bertajuk Diabetes and Your Child: Understanding Type 2 Diabetes, kalori tinggi dari minuman sachet dan camilan olahan terus menumpuk tanpa pernah dibakar menjadi energi, memicu terjadinya obesitas dini. Jika berat badan anak tidak diturunkan, pankreas akan mengalami kelelahan ekstrem (burnout) dan akhirnya rusak, sehingga tidak mampu lagi memproduksi insulin yang cukup. Ketika produksi insulin di dalam tubuh berkurang atau bahkan berhenti sama sekali, tubuh akan kehilangan kemampuan utama untuk mengolah makanan menjadi energi. Akibatnya tubuh akan terasa sering lelah karena kekurangan energi. 

Siapa sangka bahwa Istilah medis “Diabetes Melitus” ini sebenarnya merupakan sebuah nama payung besar, karena di dalamnya kondisi ini terbagi lagi menjadi beberapa jenis yang berbeda berdasarkan penyebab utamanya. Seperti yang dilansir oleh laman resmi world health organization, jenis yang pertama adalah Diabetes Melitus Tipe 1, sebuah kondisi yang terjadi akibat adanya gangguan sistem kekebalan tubuh atau autoimun. Pada tipe ini, imun tubuh keliru menyerang sel-sel di dalam pankreas, sehingga organ tersebut sama sekali tidak mampu lagi memproduksi hormon insulin yang berfungsi menyerap gula darah. Karena biasanya terdeteksi sejak usia anak-anak atau remaja, penderita tipe ini mutlak membutuhkan terapi suntik insulin seumur hidup agar tubuhnya bisa berfungsi dengan normal.

Selanjutnya, terdapat Diabetes Melitus Tipe 2 yang menjadi jenis paling umum karena mendominasi hingga lebih dari sembilan puluh persen kasus di seluruh dunia. Berbeda dengan tipe pertama, tubuh penderita tipe dua sebenarnya masih menghasilkan insulin, namun sel-sel tubuh mereka telah menjadi kebal atau mengalami resistensi, sehingga insulin tidak dapat bekerja secara efektif untuk mengubah gula menjadi energi. Kondisi ini sangat erat kaitannya dengan faktor keturunan yang dipicu oleh gaya hidup kurang sehat, seperti kebiasaan malas bergerak, pola makan tinggi kalori, dan berat badan berlebih.

Selain kedua tipe utama tersebut, ada pula yang disebut Diabetes Melitus Gestasional. Jenis ini tergolong unik karena hanya muncul dan berkembang selama masa kehamilan akibat adanya perubahan hormon pada ibu hamil yang memicu resistensi insulin. Meskipun kadar gula darah umumnya akan kembali normal setelah bayi lahir, kondisi ini tetap memerlukan pengawasan karena dapat meningkatkan risiko diabetes jangka panjang bagi ibu dan anak di masa depan.

Terakhir, dunia medis juga mengelompokkan beberapa kasus langka ke dalam kategori Diabetes Melitus Tipe Lain. Jenis ini mencakup diabetes yang dipicu oleh penyebab yang sangat spesifik, contohnya seperti mutasi genetik tunggal yang diturunkan dalam keluarga, kerusakan jaringan pankreas akibat penyakit lain, hingga efek samping dari penggunaan obat-obatan medis tertentu dalam jangka panjang. Kita tidak boleh membiarkan lonjakan kasus semakin tinggi, maka dari itu mulailah cegah dari diri sendiri untuk menghindari komplikasi lebih serius, seperti penyakit ginjal, kebutaan, amputasi ekstremitas bawah, dan penyakit kardiovaskular.

Tanpa kita sadari, diabetes tipe tertentu berkaitan erat dengan faktor genetik dan autoimun yang tidak bisa dihindari, jenis yang paling umum seperti tipe 2 sangat bisa dicegah. Pencegahan tersebut dapat dimulai dari langkah kecil sehari-hari, seperti menjaga pola makan sehat dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan membatasi asupan gula. Namun demikian, menjaga pola makan yang sehat bukan berarti mengonsumsi makanan sebanyak-banyaknya. Islam mengajarkan keseimbangan dan melarang sikap berlebihan, karena apa pun yang melampaui batas akan mendatangkan mudharat bagi tubuh.

Dalam kitab kitab Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Syekh Wahbah az-Zuhaili berkata:

وَمَا عَدَا قَدْرَ الضَّرُورَةِ يُبَاحُ تَنَاوُلُهُ مَا لَمْ يَصِلْ إِلَى قَدْرِ الْإِسْرَافِ، فَالْإِسْرَافُ فِي الْأَكْلِ وَالشَّرَبِ فَوْقَ الطَّاقَةِ الْجِسْمِيَّةِ ضَرَرٌ وَخَطَرٌ وَحَرَامٌ، وَالِاعْتِدَالُ مَطْلُوبٌ

Artinya: “Makan dan minum melebihi kadar kebutuhan masih diperbolehkan selama tidak sampai pada tingkat berlebihan (israf). Sebab, berlebihan dalam makan dan minum hingga melampaui kemampuan tubuh akan mendatangkan bahaya dan risiko, bahkan hukumnya haram. Oleh karena itu, sikap yang seimbang dan moderat sangat dianjurkan.” 

Keterangan ini semakin menegaskan bahwa Islam mengajarkan prinsip wasathiyah (jalan tengah) dalam segala hal, termasuk dalam urusan makan dan minum. Tubuh memiliki batas kemampuan yang harus dijaga. Ketika seseorang terbiasa makan secara berlebihan, bukan kesehatan yang diperoleh, melainkan berbagai penyakit yang mengancam, seperti obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan metabolisme lainnya. Selain itu, rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu sangat membantu agar sel tubuh lebih peka merespons insulin, yang pada akhirnya mempermudah kita dalam mengontrol berat badan tetap ideal.

Langkah ini juga harus didukung dengan menghindari gaya hidup sedentari melalui kebiasaan aktif bergerak di sela kesibukan, serta mengelola stres dengan baik agar tidak memicu lonjakan hormon penolak insulin. Terakhir, menghindari merokok dan membatasi konsumsi alkohol menjadi benteng penutup yang penting untuk melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan metabolik jangka panjang. Krisis ini menjadi tamparan keras bahwa penyakit yang dahulu identik dengan usia tua, kini secara agresif sedang merampas masa depan generasi muda akibat kelalaian kita dalam mengenali gejalanya sejak dini. Wallahu ‘alam.

Oleh: Nuriya Izdyana, Santri Mansajul Ulum. 

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 30 kali

Baca Lainnya

Comfort Zone: Efek dan Solusi Mengatasinya

15 September 2026 - 12:37 WIB

Mengenal Lebih Dalam Kesehatan Mental

8 September 2026 - 14:09 WIB

Jerat Perang AS-Iran Bagi Konsumen Lokal

1 September 2026 - 12:46 WIB

Mengenali Bahaya Toxic Relationship

25 Agustus 2026 - 13:20 WIB

Transformasi Digital di Pesantren

18 Agustus 2026 - 14:21 WIB

Dampak Negatif Media Sosial pada Gen Z

11 Agustus 2026 - 14:42 WIB

Trending di Opini Santri