Salat bukan sekedar kewajiban ritual bagi umat muslim, melainkan sebuah aktivitas komprehensif yang melibatkan keterpaduan antara fisik, mental, dan spiritual. Setiap transisi gerakan terdapat presisi mekanis yang berdampak langsung pada anatomi tubuh.
Di dalam salat, semestinya mempunyai gerakan-gerakan terkhusus, mulai dari takbiratul ihram sampai salam. Gerakan-gerakan tersebut menjadi identik tersendiri di dalam salat yang membedakan dari ibadah agama lain. Tiap gerakan ini memiliki aturan dan tata cara tertentu yang tidak dapat di ubah-ubah.
Gerakan dalam salat menjadi kerangka utama untuk transisi rukun ke rukun setelahnya. Tak hanya itu, dengan adanya gerakan ini kita dapat berkomunikasi dengan sang khaliq melalui paduan gerakan fisik dan spiritual secara harmonis. Yang tak kalah penting disini adalah ibadah yang dilakukan tidak secara tergesa-gesa tetapi membutuhkan jeda sejenak untuk mencari ketenangan yang disebut thuma’ninah.
Hikmah Gerakan Salat dalam Perspektif Kesehatan
Dalam dunia kesehatan, salat menjadi sarana optimalisasi fungsi otak dan tubuh, yang setiap gerakan melibatkan keterpaduan komprehensif, seperti halnya olahraga ringan yang melatih jasmani dan rohani, selain itu gerakan ini juga berperan untuk menyeimbangkan dan menyehatkan anggota tubuh, seperti meregangkan otot, melancarkan aliran darah, hingga relaksasi sistem saraf.
Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Industrial Ergonomics (2016) menunjukkan bahwa posisi rukuk dan sujud yang dilakukan dengan sudut yang tepat dapat mengurangi nyeri punggung bawah secara signifikan dan meningkatkan elastisitas otot tulang belakang. Dari berbagai penelitian, setiap gerakan dalam salat mempunyai manfaat tersendiri, diantara manfaat tersebut adalah: Pertama, Takbiratul ihram. Mengangkat kedua telapak tangan hingga sejajar bahu dan telinga dalam takbiratul ihram memiliki sisi positif dalam tinjauan medis, yaitu dapat memperlancar aliran oksigen dan melatih persendian lengan serta bahu.
Kedua, Rukuk. Dengan membungkukkan badan hingga punggung dan kepala secara horizontal dapat melatih sistem saraf otonom dan menjaga keseimbangan tubuh sehingga dapat menjaga kelenturan tulang belakang. Ketiga, Sujud. Sujud di dalam salat menjadi puncak kedekatan seorang hamba terhadap sang khaliq. Dalam hal ini terdapat juga dampak positif bagi kesehatan, yaitu dapat meningkatkan aliran darah ke otak dan terjadinya sirkulasi darah ke otak sehingga bisa menenangkan pikiran.
Pentingnya Tuma’ninah Disela Gerakan Salat
Di dalam salat tidak boleh tergesa-gesa dan harus ada penjeda yang disebut tuma’ninah. Rasulullah saw pernah menegur seseorang yang salatnya terburu-buru dengan bersabda, “Kembalilah dan salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat” (HR. Bukhari & Muslim). Dari hadits ini dapat dipahami bahwasannya salat yang dilakukan seseorang harus memenuhi syarat tidak hanya sekedar rutinitas tanpa aturan tertentu.
Dalam hal ini, tuma’ninah (berdiam sejenak atau tenang dalam gerakan salat – rukuk, i’tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud – hingga seluruh anggota badan tenang) menjadi pokok utama untuk menghadir ruang kedekatan seorang hamba terhadap sang pencipta sehingga kita lebih khusyuk dalam salat. Tuma’ninah dalam salat ibarat seperti sinyal dari langit yang menciptakan ketenangan mendalam saat salat. Dalam tinjauan Neuroscience, tuma’ninah dapat mentraksasi gelombang otak beta (Stres) menuju Gelombang otak alpha (Relaks), tentu dengan hal ini dapat mengontrol diri seseorang dan fokus lebih tajam. Selain itu thuma’ninah dapat mengaktifkan Nervus Vagus, yakni saraf yang mengirimkan sinyal relaksi ke seluruh organ tubuh.
Menurut tinjauan medis, tuma’ninah juga memiliki banyak manfaat di antaranya, dapat meningkatkan daya ingat dan kreativitas, mengurangi tergesa-gesa, me-recharge mental, dan masih banyak lainnya. Hubungan antara tuma’ninah di setiap gerakan salat dengan peningkatan fokus dan konsentrasi sangatlah erat. Namun, banyak orang yang beranggapan tuma’ninah dalam salat merupakan hal yang sepele, padahal hal ini dapat menentukan keabsahan salat orang tersebut karena tuma’ninah merupakan salah satu dari rukun salat. Sehingga jika ada seseorang salat tanpa melakukan tuma’ninah, salat orang tersebut bisa jadi tidak sah. Jika hal itu dilihat dari segi medis dapat mengurangi nilai kesehatan dan hanya sebagai rutinitas semata.
Oleh karena itu, salat tidak hanya sebagai ibadah wajib umat islam, melainkan rutinitas yang bermanfaat bagi mental, fisik, dan spiritual. Meskipun begitu, kita harus menghayati makna tersembunyi di dalamnya. Di sini bukan sekedar ritual keagamaan biasa, tetapi juga memiliki landasan ilmiah yang sangat kuat. Demikian pula, tuma’ninah di setiap gerakan salat menjadi pondasi utama bagi seorang muslim, di dalam tuma’ninah seorang hamba berhenti sejenak dan menyerukan kelemahannya terhadap sang pencipta. Dengan adanya tuma’ninah ini seorang muslim juga dapat mencari lingkup yang tenang dan fokus untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta, tanpa ada thuma’ninahnya seorang muslim di dalam salat dapat membatalkan keabsahan salat secara syariat dan dapat mengurangi nilai kesehatan.
Penulis : Abdullah Najih, Santri Pondok Pesantren Mansajul Ulum.










