Anak-anak generasi sekarang sangatlah berbeda dengan generasi terdahulu. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang pesat. Akses internet dan media sosial menjadi kebiasaan rutin sehari-hari, scroll tiktok, nonton short youtube, dan bermain game online. Tidak kita temukan lagi permainan tradisional zaman dahulu yang mengisi waktu luang anak-anak , seperti congklak, gobak sodor, egrang, petak umpet, lompat tali, kelereng, gasing, dan layang-layang. Layar yang mereka pegang lebih menarik daripada permainan tradisional tersebut.
Mereka adalah generasi native. Generasi digital native adalah generasi milenial atau yang lahir pada tahun 1981-1995 dan generasi Z yang lahir pada tahun 1996-2010. Generasi yang sejak mulai belajar menulis atau membaca, beraktivitas, dan berinteraksi sudah mengenal sekaligus memanfaatkan teknologi internet dan media sosial. Semua kehidupan sosialnya kemungkinan besar juga ditiru dari dunia maya. Mereka tumbuh akrab dengan perkembangan teknologi
Mereka juga mempunyai karakteristik unik yang tidak dimiliki oleh generasi sebelumnya. Mereka fasih dalam teknologi, multitasking, berpikir cepat dan instan, lebih suka belajar sendiri, senang berkolaborasi, ekspresif dan kreatif, dan menuntut kebebasan dan fleksibilitas. Jika dikembangkan dan diarahkan dengan tepat, mereka akan tumbuh menjadi aset bangsa.
Namun perlu digaris bawahi bahwa generasi ini walaupun sangat akrab dengan teknologi digital, tetapi mereka tidak begitu mengenal sistem dan kinerja di dalamnya. Bahkan mungkin tidak mengetahui bagaimana menggunakan teknologi dengan baik dan bijak. Sehingga alih-alih mendapat manfaat, justru terjerumus ke dalam banyak aspek negatif yang menyerang anak-anak sekarang. Mereka hanya fokus pada penggunaan saja tanpa mengetahui aspek negatifnya.
Aset Negara atau Ancaman Mengerikan?
Di satu sisi banyak pemuda bangsa yang membanggakan melalui media sosial yang digunakan dengan baik dan bijak. Salah satu anak muda yang cerdas dan membanggakan adalah Jerome Polin, konten kreator edukasi dan mahasiswa matematika di Jepang. Ia membuat channel youtube ”Nihongo Mantappu” yang mengedukasi matematika, budaya Jepang, dan semangat belajar. Jerome menunjukan bahwa kreativitas digital dan edukasi adalah aset negara. Ada juga Nadhira Afifa, dokter dan perwakilan Indonesia di Harvard, dan ada Naura Ayu, penyanyi dan aktivis anak. Mereka adalah bukti bahwa generasi-generasi native dapat bersinar dan menjadi aset negara di kancah nasional dan internasional.
Namun, banyak juga dari mereka yang meresahkan banyak pihak, terutama negara. Maraknya penyebaran hoax dan ujaran kebencian oleh generasi muda, terlibat dalam tindakan radikalisme digital, ketergantungan parah pada game dan media sosial, cyberbullying dan kekerasan digital. Akhir-akhir ini, kasus-kasus ini meresahkan banyak pihak.
Informasi dan konten-konten di media sosial telah berpengaruh nyata dalam mengubah pola perilaku masyarakat sesuai konten-konten yang disuguhkan oleh media-media internet tersebut. Bahkan, sebagian orang beranggapan bahwa media adalah cerminan nyata dan objektif dari kehidupan manusia itu sendiri. Kebanyakan anak akan meniru apapun yang mereka tonton dari media sosial. Cara berbicara mereka, berinteraksi mereka, dan cara mereka menghadapi masalah pun dipengaruhi oleh konten-konten yang mereka tonton.
Seperti tontonan yang menampilkan adegan kejahatan, atau yang menggunakan bahasa-bahasa yang tidak seharusnya di dengar oleh anak-anak, atau menampilkan orang dewasa yang melakukan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Hal ini akan ditiru dan dianggap sebagai perbuatan yang benar oleh anak. Hal ini akan menjadi ancaman serius terhadap perkembangan anak.
Kekerasan Anak Berbasis Teknologi
Akibatnya beredar kejahatan berbasis teknologi yang menyerang anak usia dini. Cyberbullying, pelecehan seksual online, dan eksploitasi seksual. Dalam perayaan Hari Anak Nasional Juli lalu, Indonesia dinilai dalam kondisi darurat kasus kekerasan terhadap anak.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam laporan tahunannya juga mencatat bahwa sepanjang tahun 2024, mereka menerima 2.057 pengaduan kasus perlindungan anak di mana 954 kasus telah ditindaklanjuti hingga tahap terminasi. Dari jumlah tersebut, 41 kasus merupakan anak korban pornografi dan kejahatan dunia maya (cybercrime), sementara 265 kasus lainnya adalah kekerasan seksual terhadap anak.
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga mencatat bahwa pada tahun 2021-2023 terdapat 900 kasus anak korban eksploitasi seksual dan pornografi (children sexual abuse material). Bahkan, data dari National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) di tahun 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga terbesar ditemukannya insiden kejahatan seksual anak melalui internet (cybertipeline), dengan total 1.450.403 kasus yang dilaporkan melalui platform digital dan laporan masyarakat.
Fenomena ini sangat mengejutkan dan mengerikan. Anak yang seharusnya menjadi tonggak masa depan sebuah bangsa dan mendapatkan perlindungan, nyatanya menjadi korban kejahatan, terutama di lingkup media sosial. Kasus-kasus yang beredar telah menggambarkan betapa krusialnya posisi anak. Mereka bisa menjadi korban dan juga menjadi pelaku kejahatan di media social.
Pentingnya Literasi Digital Sejak Dini
Kondisi ini tidak pernah bisa kita tampik. Sebanyak apapun kasus kejahatan yang dialami anak di media sosial, mereka akan tetap berteman dan berinteraksi di media sosial tersebut. Yang harus kita sisati dan dengungkan adalah pengetahuan literasi digital pada anak usia dini, agar mereka mendapatkan pengarahan pertama dalam menggunakan sosial media dengan baik dan bijak.
Mengetahui bentuk-bentuk kekerasan di media maya, bisa menjadi alarm bahaya bagi sang anak ketika suatu saat mereka mengalami kasus yang sama dan paling tidak mengetahui cara mengatasinya. Upaya ini dapat meminimalisir kasus-kasus kejahatan yang dialami oleh anak karena mereka sudah mendapatkan pendidikan awal literasi digital. Sehingga mereka lebih paham dan awas dalam menggunakan teknologi digital.
Literasi digital pada anak sangat penting untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis, mengakses informasi yang akurat,menjaga keamanan digital, dan mengembangkan kreativitas di era digital. Literasi digital juga mendukung perkembangan holistic anak, termasuk aspek kognitif, fisik, sosial emosional dan moral.
SmartPhone dan Smart Mom
Disinilah peran Smart Mom dibutuhkan, ibu cerdas yang tidak hanya bisa menggunakan smartphone, tapi mengendalikan dan memanfaatkan untuk kebaikan keluarga. Peran ibu sebagai pendidik bagi anak-anak sangat krusial. Di tangan ibulah karakter anak dibentuk, nilai ditanamkan, dan Batasan ditetapkan. Maka, ketika ketika teknologi menjadi bagian dari ruang tumbuh anak, maka ibu tidak boleh ketinggalan. Ia harus melek digital, bahkan menjadi pemimpin dalam lingkungan rumah tangga.
Sayangnya, tak sedikit orang tua yang menjadikan smartphone sebagai pengasuhan digital. Anak menangis diberi video. Anak bosan, diberi game. Padahal, tanpa control dan pendampingan, smartphone bisa membuka pintu pada konten tidak layak, kecanduan, hoaks,hingga predator digital.
Inilah pentingnya menjadi Smart Mom, ibu yang tidak sekedar bisa mengoperasikan aplikasi, tapi bijak dalam memilih dan memilah konten, serta aktif dalam mendampingi anak berselancar di dunia maya. Smart Mom adalah mereka yang tahu kapan gadget dibutuhkan, kapan harus disimpan. Ia tahu bagaimana menjadikan youtube sebagai sarana belajar, bukan semata hiburan. Ia tahu bahwa anak-anak harus dikenalkan dengan literasi digital sejak dini,agar tak tersesat di dunia maya yang bebas nilai. SmartMom harus mengarahkan anak-anaknya perihal tontonan, tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh serta mendiskusikan hal-hal yang layak didiskusikan dengan mereka.
Di tengah dunia yang berubah dengan cepat, ibu tidak bisa tinggal diam. Dunia anak-anak hari ini adalah dunia digital. Maka mari pastikan mereka tidak berjalan sendiri. Hadirlah Bersama mereka sebagai smartmom, ibu cerdas yang tidak hanya melahirkan generasi penerus, tetapi juga membesarkan mereka dengan cinta, nilai, dan kecakapan digital yang kuat.
Oleh: Putri Nadillah, Redaktur EM-YU.










