Menu

Mode Gelap

Opini Santri · 16 Des 2025 15:03 WIB ·

Blockchain: Benteng Privasi atau Surga Kriminalitas?


 Blockchain: Benteng Privasi atau Surga Kriminalitas? Perbesar

Blockchain, teknologi di balik kehebatan cryptocurrency seperti Bitcoin yang meledak di masyarakat, telah mengubah sudut pandang para pakar terhadap transaksi digital, komunikasi, finansial, maupun manajemen data, dengan menjajakan keunggulan berupa sifatnya yang tidak dapat dikontrol, transparan dan kebal terhadap serangan siber sekelas komputer kuantum. Blockchain disebut-sebut sebagai revolusi teknologi di abad ini, sejajar dengan artificial intelligence yang dampaknya kini telah terasa. Tapi, di balik segudang kehebatan yang overpower, muncul sebuah pertanyaan penting, apakah blockchain memang benar-benar hanya menjadi benteng privasi yang aman atau justru membuka gerbang surga kriminalitas yang lebih besar dan tidak terkendali? Di sini, saya akan membedah sisi tergelap blockchain di balik sisi terangnya sebagai teknologi super revolusioner. 

Benteng Privasi & Kebebasan Individu

Hal yang paling sering dilirik dari blockchain adalah keunggulannya di privasi yang kuat, dalam sistem blockchain, sebuah transaksi dicatat dalam buku besar yang tidak dikontrol oleh pemerintah, bank, atau perusahaan raksasa. Pengguna seringkali menyembunyikan identitasnya dalam bentuk nama fiktif sehingga membuat pengguna tersebut sulit untuk dilacak atau ditujukan ke salah satu individu tertentu.

Bagi banyak kalangan, hal ini merupakan sebuah terobosan besar atau revolusi di era dimana kejahatan siber bertebaran di mana-mana . Teknologi ini memberikan solusi berupa perlindungan privasi atas ketakutan masyarakat terhadap peretasan dan penyadapan. Misalnya, jika kita masih menggunakan Whatsapp atau SMS sebagai alat komunikasi, percakapan kita masih bisa disadap entah oleh peretas, pemerintah, atau pemilik teknologi itu sendiri. Sebaliknya, jika kita beralih ke Bitchat, salah satu aplikasi komunikasi berteknologi blockchain, kita dapat melindungi privasi secara penuh tanpa dapat disadap oleh siapapun. Hal ini menjadi sangat berarti jika berada di negara otoriter atau sebagai figur publik yang kerap menjadi incaran para peretas.

Selain menjadi benteng privasi, blockchain juga memungkinkan pengguna untuk bebas menggunakan hal yang sifatnya pribadi sesuai dengan keinginan tanpa terpengaruh pihak ketiga. Seperti jika kita saat ini ingin mentransfer uang, yang kita lakukan bukan mentransfernya secara langsung, melainkan melalui perantara pihak ketiga terlebih dulu atau yang disebut bank, tapi jika kita beralih ke USDT atau USDC, cryptocurrency dari US Dollar, kita dapat mengirimnya secara peer-to-peer tanpa bantuan pihak ketiga. Ini adalah langkah besar dimana masyarakat sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap institusi pemerintah atau perusahaan raksasa. Namun, apakah privasi dan kebebasan ini selalu menjadi sesuatu yang baik?

Sisi Gelap Anonimitas

Keunggulan blockchain dalam melindungi privasi serta menawarkan kebebasan juga dapat menjadi pedang bermata dua bagi masyarakat. Penggunaan nama fiktif seringkali dimanfaatkan oleh para kriminal untuk aktivitas ilegal, black market di dark web atau deep web seringkali memanfaatkan cryptocurrency sebagai alat transaksi benda haram atau kegiatan money laundry, juga dalam segi komunikasi dan koordinasi, kriminal dapat menggunakan Bitchat sebagai alat komunikasi karena karakteristik blockchain yang menyamarkan pengguna dan tidak dapat dilacak. Contohnya, ransomware telah menjadi ancaman global yang semakin meresahkan, penjahat siber seringkali menuntut korban untuk melakukan pembayaran dalam bentuk bitcoin atau cryptocurrency yang lain, hal itu dibuktikan pada 2023, di mana Chain Analysis mengungkapkan bahwa ada lebih dari satu milliar USD yang digunakan untuk pembayaran ransomware dalam bentuk cryptocurrency.

Dengan membandingkan dua perkara diatas, kita menjadi tahu bahwa blockchain adalah revolusi yang membawa harapan sekaligus tantangan. Privasi tingkat tinggi dan kebebasan individu yang ditawarkan adalah anugerah yang seakan-akan utopis bagi masyarakat di situasi krisis kepercayaan, tapi juga membuka pintu surga kriminalitas jika tidak dikontrol dengan semestinya. Untuk memastikan revolusi ini berada di jalur benar, pemangku kebijakan sebaiknya tidak hanya memberi ruang inovasi tapi juga membuat regulasi sehingga teknologi ini tidak menjadi momok bagi masyarakat di masa depan.

 

Oleh: Arul Efansah, Redaktur EM-YU.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 159 kali

Baca Lainnya

Mengapa Pesantren Disalahpahami?

13 Januari 2026 - 16:49 WIB

Mengikis Akar Kekerasan Seksual di Lingkungan Pesantren melalui Transformasi Kurikulum Pendidikan Pesantren

6 Januari 2026 - 14:37 WIB

Mimpi Indonesia Emas di Tengah Retaknya Kesejahteraan Pendidik

30 Desember 2025 - 16:36 WIB

Evaluasi Kritis TKA 2025: Minim Sosialisasi, Maksimal Keresahan

23 Desember 2025 - 14:15 WIB

People Pleaser dan Krisis Identitas

9 Desember 2025 - 13:10 WIB

Begadang: Antara Risiko dan ‎Keutamaan

2 Desember 2025 - 14:12 WIB

Trending di Opini Santri