Menu

Mode Gelap

Opini Santri · 23 Jun 2026 12:33 WIB ·

Pendidikan Disabilitas: Menuju Pesantren Inklusif


 Pendidikan Disabilitas: Menuju Pesantren Inklusif Perbesar

Pesantren sejak lama dikenal sebagai ruang pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama. Di dalam pesantren hidup berbagai karakter santri dengan latar belakang, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda-beda. Tetapi, di tengah keberagaman itu, isu santri disabilitas dan anak berkebutuhan khusus masih menjadi pembahasan yang jarang disoroti secara mendalam.

Bukan karena pesantren menolak keberadaan mereka, melainkan karena sebagian besar pesantren memang tumbuh dengan sistem pendidikan umum. Pendidikan yang belum sepenuhnya mengenal pendekatan inklusif. Akibatnya, ketika ada santri penyandang disabilitas masuk ke pesantren, lingkungan belajar yang tidak inklusif menjadi polemik baru bagi mereka.

Dilansir dari Mubadalah.id, kritik tentang bagaimana isu standar “normal” sering kali membuat penyandang disabilitas tersisih. Kutipan yang memperkuat pandangan ini ialah: “Apa yang kita sebut sebagai “normal” sering kali tidak sesederhana yang kita kira. Ia bukan sekadar kondisi umum, tetapi perlahan berubah menjadi standar yang menghakimi. Dalam banyak situasi, “normal” menjadi ukuran untuk menilai siapa yang layak kita anggap utuh, dan siapa yang kita anggap kurang. Dari sinilah awal ketimpangan itu diam-diam tumbuh dan terus mengakar” 

Kutipan di atas menjadi pengingat bahwa tidak semua anak tumbuh dengan kemampuan dan ritme yang sama. Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada anak yang mudah beradaptasi, ada pula yang memerlukan pendekatan khusus agar merasa nyaman dalam belajar.

Sehingga pesantren harus bisa menyediakan wadah pendidikan untuk keberagaman santri yang ada, karena pada dasarnya pendidikan bukan hanya milik mereka yang dianggap mampu mengikuti sistem dengan mudah, tetapi juga hak bagi mereka yang membutuhkan pendekatan berbeda dalam belajar.

Dalam kehidupan pesantren yang telah tumbuh dengan sistem pendidikan umum. Bagi penyandang disabilitas tertentu, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Namun, tantangan itu tidak harus dipandang sebagai hambatan, melainkan kesempatan untuk menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif dan manusiawi.

Pendidikan Inklusif dari Kesederhanaan

Pesantren tidak harus langsung menjadi lembaga pendidikan khusus untuk mulai bersikap inklusif. Sikap inklusif justru bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang tumbuh dalam keseharian santri. Seperti membangun budaya tidak mengejek kekurangan antarsantri, membiasakan santri untuk saling membantu, memberikan ruang bagi santri yang membutuhkan waktu belajar lebih lama serta mengedepankan pendekatan sabar dibandingkan dengan penilaian yang terburu-buru.

Pemahaman semacam ini sangat urgent untuk membangun lingkungan pendidikan yang inklusif, karena sering kali yang paling dibutuhkan oleh anak berkebutuhan khusus bukan perlakuan istimewa, melainkan perlakuan dan penerimaan yang wajar dari lingkungan di sekitarnya.

Selain itu, pengurus, musyrif/musyrifah dan ustaz/ustazah juga dapat mulai membangun pemahaman dasar tentang pendidikan inklusif ini. Tidak harus dengan sistem yang rumit, tetapi dengan kesadaran bahwa setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Pendekatan seperti ini akan membantu pesantren lebih bijak dalam menentukan cara mendidik tanpa harus menghilangkan nilai kedisiplinan yang sudah menjadi budaya pondok.

Di sisi lain, teman sebaya di pesantren juga memiliki peran penting. Lingkungan sosial yang sehat dapat membantu santri disabilitas merasa dihargai dan tidak terasing. Sebab terkadang luka terbesar tidak berasal dari keterbatasan yang dimiliki, melainkan dari perasaan tidak diterima di tengah lingkungan belajar. 

Sehingga di dalam pesantren, di mana kehidupan santri berlangsung hampir tanpa sekat. Makan bersama, belajar bersama, hingga menjalani aktivitas harian dapat membuat para santri belajar saling memahami manusia secara langsung, bukan hanya melalui kitab dan pelajaran. Dari kedekatan inilah tumbuh kesempatan untuk melatih kepekaan: memahami bahwa tidak semua orang mampu merespons, berpikir, atau menjalani kehidupan dengan cara yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan belajar yang adil dan manusiawi. Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai keagamaan memiliki peluang lebih besar untuk menghadirkan hal tersebut melalui budaya akhlak, empati, dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Dalam Al-Qur’an sendiri, Allah Swt mengingatkan agar manusia tidak merendahkan atau memandang rendah orang lain hanya karena perbedaan yang dimiliki. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْن ۝١١

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim”.(QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang larangan mengejek secara lisan, tetapi juga mengajarkan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Dalam konteks pendidikan, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui lingkungan belajar yang tidak mengucilkan, tidak memberi stigma, dan mampu menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan.

Karena itu, pendidikan disabilitas di pesantren seharusnya tidak hanya dipahami sebagai persoalan fasilitas, tetapi juga persoalan perlakuan dan cara pandang. Setiap anak memiliki hak untuk belajar, dihormati, dan diperlakukan dengan layak.

Pesantren mungkin tidak dapat mengubah semuanya secara instan. Namun, langkah sederhana dari membangun empati, memperbaiki cara berkomunikasi, hingga menciptakan lingkungan yang lebih ramah sudah menjadi bagian penting dari pendidikan inklusif itu sendiri.

Sering kali pendidikan terlalu sibuk mengejar keseragaman hingga lupa bahwa manusia tidak diciptakan dalam bentuk yang sama. Ketika pendidikan hanya mengakui satu bentuk kemampuan, maka tanpa sadar banyak anak tumbuh dengan perasaan tertinggal dan tidak diterima. Di sinilah pentingnya pesantren menghadirkan pendidikan yang bukan hanya mendidik akal, tetapi juga memuliakan manusia.

Pada akhirnya, keberhasilan pesantren bukan hanya tentang seberapa banyak santri yang unggul dalam pelajaran, tetapi juga tentang seberapa luas pesantren mampu merangkul mereka yang tumbuh dengan cara berbeda. Sebab pendidikan sejati tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan bagaimana sikap memanusiakan manusia.

Penulis: Yulia Selviana , Santri Ponpes Mansajul Ulum.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 75 kali

Baca Lainnya

Hari Bhakti Adhyaksa: Refleksi Kritis atas Integritas Kejaksaan

21 Juli 2026 - 13:33 WIB

Pentingnya Membangun Pertemanan yang Positif

14 Juli 2026 - 11:09 WIB

Bukan Sekadar Game: Manfaat Edukasi di Balik Minecraft 

7 Juli 2026 - 12:49 WIB

Adab di Atas Ilmu: Mengembalikan Makna Pendidikan di Era Teknologi 

30 Juni 2026 - 12:52 WIB

Skandal BGN dan Rapuhnya Tata Kelola Program MBG 

16 Juni 2026 - 10:41 WIB

Menghidupkan Ibadah dengan Tasawuf 

9 Juni 2026 - 13:16 WIB

Trending di Opini Santri