Menu

Mode Gelap

Opini Santri · 10 Feb 2026 13:28 WIB ·

FOMO Vs JOMO: Seni Menikmati Hidup Tanpa Takut Ketinggalan


 FOMO Vs JOMO: Seni Menikmati Hidup Tanpa Takut Ketinggalan Perbesar

Kehidupan remaja saat ini tidak lepas dengan smartphone, melalui benda canggih ini, mereka dengan mudah update hal-hal yang sedang trending, seperti halnya beragam gaya hidup orang lain yang tidak pernah konsisten. Gaya hidup yang tidak konsisten merupakan keadaan ketika seseorang tidak memiliki prinsip atau rutinitas yang kokoh. Mereka lebih mudah terombang ambing oleh tren yang lewat di layar ponsel. Seseorang yang gaya hidupnya tidak konsisten cenderung tidak memiliki identitas diri, karena gaya hidup yang selalu berubah-ubah mengikuti apa yang sedang viral. Mereka juga akan mengalami kelelahan mental, ketidakstabilan finansial, dan rusaknya kedekatan sosial nyata karena terlalu sibuk membangun citra digital yang berubah-ubah sehingga lupa membangun hubungan yang stabil di dunia nyata.

Perilaku di atas sering disebut dengan kata “FOMO”. Fomo adalah singkatan dari “fear of missing out” atau  rasa takut ketinggalan, ini adalah perasaan cemas atau khawatir karena merasa tidak mengikuti atau melewatkan suatu acara, pengalaman, atau informasi yang sedang populer. Fomo seringkali dipicu oleh media sosial dan perbandingan kehidupan orang lain.

Menurut artikel yang dikutip dari laman UNESA Surabaya yang berjudul “Fenomena Fomo di Kalangan Pengguna Medsos”, ada kaitan erat antara fomo dengan psikologi sosial:

  1. Teori perbandingan sosial (Social Comparison Theory)

Media sosial memudahkan seseorang untuk membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Hal tersebut banyak dialami oleh masyarakat, karena hampir 90% orang menggunakan media sosial. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri jika orang-orang melihat beberapa unggahan terkait kehidupan orang yang mempunyai value di atas mereka yang tentunya akan berujung membandingkan antara kehidupannya dengan kehidupan orang tersebut. Hal ini akan memunculkan rasa kurang puas terhadap apa yang ia miliki, rendah diri dan takut tertinggal.

  1. Kebutuhan penerimaan sosial

Fomo didorong oleh keinginan kuat untuk terhubung (need to belong) dan diakui oleh kelompok sosial. Jika ia tidak mengikuti hal yang sedang tren akan muncul rasa cemas akan dikucilkan di dalam kelompok. Orang yang memiliki gaya hidup fomo akan selalu mengecek media sosial untuk mencari tahu hal yang sedang tren dan menggali informasi baru yang sedang hangat dibicarakan oleh orang-orang. Hal semacam itu merupakan kebutuhan akan validasi agar ia merasa cukup dan relevan di mata orang-orang. Seseorang  yang mengalami gejala tersebut biasanya mengalami tingginya rasa rendah diri yang menyebabkan orang tersebut akan melakukan apapun agar diakui di dalam suatu kelompok.

  1. kecemasan sosial (social anxiety)

Fomo bertindak sebagai pemicu ketakutan akan ketinggalan tren, informasi dan momen bahagia di media sosial. Hal ini menciptakan kecemasan kronis di mana individu merasa kurang percaya diri, rendah diri dan merasa tertekan akibat perbandingan sosial yang konstan. Penggunaan media sosial yang berlebihan akan meningkatkan rasa kecemasan sosial karena paparan terus-menerus kehidupan sempurna orang lain. Hal ini berdampak pada penurunan kesejahteraan psikologis. 

Selain itu, media sosial bertindak sebagai akselerator utama rasa fomo melalui mekanisme desain dan psikologis yang sengaja dibuat untuk memicu keterlibatan pengguna. Media sosial menciptakan perspektif yang menyimpang tentang kehidupan orang lain, pengguna cenderung hanya mengunggah momen terbaik atau highlight reel seperti liburan, pencapaian karier, dan acara sosial. 

Akses informasi yang sangat cepat membanjiri pengguna dengan aktivitas orang lain setiap saat yang memicu perbandingan sosial yang konstan. Algoritma platform (Tiktok, Instagram, dan Facebook) dirancang untuk memprioritaskan konten yang sedang trending dan mendesak, seperti fitur stories yang menciptakan urgensi untuk terus mengecek aplikasi agar tidak ketinggalan momen eksklusif dan notifikasi real-time yang memperkuat rasa takut akan kehilangan informasi. Hal ini tidak bisa sepenuhnya kita hindari. Smartphone yang kita gunakan harus diimbangi dengan pengguna yang sama cerdasnya dalam menghindari dampak-dampak negatifnya.

Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain, fomo tidak hanya memberikan dampak buruk, tetapi fomo juga memberikan dampak positif terhadap kehidupan seseorang, seperti gaya hidup fomo menjadikan seseorang dapat memperluas jaringan dengan banyak orang karena banyaknya interaksi yang telah ia bangun dengan orang-orang yang ada di luar sana. Fomo juga menjadikan seseorang selalu up to date dengan tren dan berita-berita penting yang sedang hangat dibicarakan oleh banyak orang. 

Adapun di antara cara yang dilakukan untuk mengurangi gaya hidup fomo adalah belajar untuk beralih pada gaya hidup JOMO (joy of missing out), yaitu menikmati momen saat ini tanpa merasa perlu tahu apa yang dilakukan orang lain. Hal lain yang dapat kita lakukan adalah  membatasi penggunaan media sosial dan gadget, fokus pada momen saat ini dan hargai pencapaian sendiri (mindfulness dan bersyukur), fokus terhadap diri sendiri (self-focus) dan memprioritaskan interaksi di dunia nyata. Hal ini dikarenakan membangun koneksi dengan keluarga atau teman di dunia nyata mempunyai makna lebih yang lebih efektif untuk mengurangi kecemasan daripada interaksi virtual. Rasa syukur merupakan kunci untuk mengatasi fenomena fomo. Dengan bersyukur, kita akan lebih mudah menghargai diri kita sendiri, apa yang kita miliki, dan capaian-capaian kecil yang kita dapatkan. Momen ini akan menjadikan hidup kita lebih tenang, alih-alih fokus dan mengejar pencapaian orang lain. 

Penulis: Azka Maulidia Rahma, Santri Mansajul Ulum.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 112 kali

Baca Lainnya

“Shumu Tashihhu”: Puasa Menyehatkan Lahir dan Batin

3 Maret 2026 - 12:00 WIB

Ngabuburit Sebagai Ajang Maksiat atau Borong Pahala?

24 Februari 2026 - 13:39 WIB

Dari Marginal ke Sentral: Perempuan dan Peran dalam Kebijakan Publik

3 Februari 2026 - 12:36 WIB

Anak-Anak di Masjid: Mengganggu atau Ajang Tarbiyah bagi Anak?

27 Januari 2026 - 12:51 WIB

Mengapa Pesantren Disalahpahami?

13 Januari 2026 - 16:49 WIB

Mengikis Akar Kekerasan Seksual di Lingkungan Pesantren melalui Transformasi Kurikulum Pendidikan Pesantren

6 Januari 2026 - 14:37 WIB

Trending di Opini Santri