Al-Qur’an seperti yang umat Islam ketahui merupakan salah satu dari 4 kitab yang diturunkan Allah kepada insan pilihan-Nya. Menariknya, dari keempat kitab tersebut Al-Qur’an tetap relevan dan tidak tergerus zaman sebagaimana yang terjadi pada kitab lainnya. Sehingga salah besar jika berpikir bahwa Al-Qur’an ketinggalan zaman karena telah ada berabad-abad lalu. Justru di dalam Al-Qur’an banyak sekali variabel menakjubkan yang menantang nalar untuk menguak kebenaran didalamnya.
Menurut Via Novelia Najmi dan Alwizar, isi pokok Al-Qur’an mencakup akidah, ibadah, akhlak, hukum, dan kisah-kisah yang berisi hikmah. Jika kita perhatikan, al-qishah mengambil porsi yang besar, bahkan mampu mengisi sepertiganya. Tentu saja itu semua bukan kisah fiktif belaka berdasarkan pada khayalan yang jauh dari realitas. Pertanyaannya, mengapa Allah mengulang kembali kisah mereka bahkan mengabadikannya? Jawabannya adalah sebagai ibrah (pelajaran) untuk menguatkan hati Rasulullah SAW dan umat Islam tentang eksistensi Nabi itu sendiri, dan sebagainya.
Pada kali ini, penulis akan mengambil salah satu kisah menarik dari al-Qur’an, yaitu kisah Ashabul Kahfi. Tentu bukan sekadar repetisi sejarah tanpa makna, melainkan untuk menggali hikmah yang mungkin tanpa kalian sadari selaras dengan pejuang-pejuang agama Islam yaitu seorang santri.
Siapa Ashabul Kahfi?
Ashabul kahfi secara harfiah dapat diartikan sebagai para penghuni gua. Mereka adalah para pemuda pejuang iman. Sebagaimana Allah mengisahkannya dalam surat Al-Kahfi ayat 13:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًى
Artinya: “Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka.”
Orang-orang pada zaman Nabi berselisih pendapat tentang bilangan pemuda itu. Ada yang mengatakan tiga orang keempat anjingnya, lima orang keenam anjingnya, atau tujuh kedelapan anjingnya. Namun, merujuk Tafsir Jalalain kedua pendapat yang pertama disifati dengan istilah Ar-Rajmi yaitu terkaan, berbeda dengan pendapat ketiga yang menunjukkan pendapat yang shahih dan dibenarkan. Allah berfirman: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka. Tidak ada yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit.” Sahabat Ibnu Abbas RA mengatakan, “Saya adalah salah seorang daripada orang-orang yang sedikit itu.” Selanjutnya ia menuturkan bahwa jumlah mereka ada tujuh orang.
Sementara itu, kisah ini berlatar belakang pada masa Raja Diqyanus di Romawi, di mana tujuh pemuda tersebut bersembunyi dari persekusi karena keimanan mereka dan ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun. Allah bersabda:
وَلَبِثُوْا فِيْ كَهْفِهِمْ ثَلٰثَ مِائَةٍ سِنِيْنَ وَازْدَادُوْا تِسْعًا
Artinya: “Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.”
Ashabul Kahfi dan Santri
Tanpa disadari, ternyata kisah ini berhubungan erat dengan santri; para pemuda pejuang Agama Islam. Terdapat poin menarik dari Ashabul Kahfi yang dapat kita kaitkan dengan santri, yaitu tentang pelarian Ashabul Kahfi dalam gua sebagai bentuk untuk menghindari kemaksiatan. Sebagaimana halnya seorang santri yang menetap di pondok pesantren agar terjaga dari lingkungan yang negatif.
Mungkin ada beberapa orang yang mengartikan tindakan Ashabul Kahfi sebagai pengecut karena lari dari masalah. Namun menurut penulis sikap tersebut bertujuan untuk menjauhkan mereka dari hal buruk yang dapat mempertaruhkan keselamatan diri dan iman mereka. Hal tersebut terjadi atas kehendak Allah yang Maha Kuasa.
وَاِذِ اعْتَزَلْتُمُوْهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ فَأْوٗٓا اِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهٖ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِّنْ اَمْرِكُمْ مِّرْفَقًا
Artinya: “Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu. (Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.”(QS. Al- Kahfi: 16)
Maka ini identik sekali dengan santri. Jika Ashabul Kahfi menjadikan gua sebagai tempat berlindung, para santri menjadikan pondok mereka sebagai tempat ‘berlindung’. Berlindung dari pengaruh buruk sekitar mereka. Setidaknya meminimalisir untuk tidak tenggelam dalam pergaulan bebas yang kian marak dan berbagai godaan maksiat lainnya.
Tidur selama 3 abad lebih secara harfiah memang tidak masuk akal. Ratusan tahun tanpa makan dan minum, serta risiko diserang hewan-hewan selama mereka tidur. Tapi Maa Syaa Allah, itu mudah saja bagi Allah. Allah bolak-balikkan tubuh mereka ke kanan dan kiri supaya daging mereka tidak dimakan oleh tanah. Lantas Allah bangunkan mereka dengan utuh dan mempertemukan mereka dengan manusia agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat-hari kebangkitan tidak ada keraguan padanya.
Oleh sebab itu, patutlah santri bersyukur, diberikan nikmat untuk memperdalam ilmu agama yang dapat menambah iman mereka. Meskipun tidak dapat dipungkiri, hari-hari terkadang dikunjungi dengan kejenuhan, kerinduan akan keluarga dan rumah, masalah pembelajaran, pertemanan, perekonomian, dan sebagainya. Sungguh, percayalah Allah tidak akan menyia-nyiakan segala perjuangan itu. Dalam Surah Al-Kahfi disebutkan:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِيْعُ اَجْرَ مَنْ اَحْسَنَ عَمَلًاۚ
Artinya: “Sesungguhnya mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik.”
Bahkan Allah berjanji banyak hal atas orang-orang yang beriman: Kehidupan Baik dan Pahala (QS. An-Nahl: 97), Pertolongan Allah (QS. Ar-Ruum: 47), Perlindungan dan Pembelaan (QS. Al-Hajj: 38), Kekuasaan dan Ketenangan di Bumi (QS. An-Nur: 55), Pahala Tanpa Putus (QS. Al-Kahf: 7, Al-Inshiqaq: 25), Diangkat Derajatnya (QS. Al-Mujadilah: 11), dan Petunjuk Jalan Lurus (QS. Al-Hajj: 54).
Sehingga tidak perlu khawatir dan hanya bersabar atas kerikil-kerikil yang kita lalui. Sebagaimana bersabarnya Ashabul Kahfi atas kekhawatiran iman mereka akan dipengaruhi oleh kaumnya yang kafir. Mereka justru berdoa:
اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
Artinya: “(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.”” (QS: Al-Kahfi:10).
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Ashabul Kahfi mengajarkan kita bahwa iman lebih berharga dari kenyamanan apapun itu, dan bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang menjaga iman mereka.
Penulis: Dyasahrin Khaszahra, Redaktur EM-YU.










