Belajar merupakan kewajiban akademik yang dibutuhkan bagi setiap orang, apalagi di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Namun, belajar bukan hanya soal kewajiban akademik, tetapi proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku. Menurut McGeoch (lih.Bugelski.1956) belajar merupakan “learning is a change in performance as result of practice” yang berarti belajar membawa perubahan dalam perilaku (performance) dan perubahan itu disebabkan karena banyaknya latihan (practice).
Hampir semua perilaku, sikap, pengetahuan manusia dibuat, di ubah , dan di kembangkan melalui belajar. Karena itu, tidak mengherankan bahwa timbul beberapa masalah dalam proses belajar, baik dari faktor internal seperti kurangnya motivasi, minat belajar rendah, maupun kurangnya kepercayaan diri. Juga bisa dari faktor eksternal yaitu metode belajar yang kurang sesuai, lingkungan belajar yang kurang mendukung, atau kesulitan fisik seperti mudah lelah.
Terdapat juga kendala khusus bagi siswa terkait kesulitan dalam memahami pelajaran dan ketidakpahaman konsep awal yang menjadikan siswa bosan dan berhenti untuk berpikir. hal ini mengakibatkan siswa mengantuk, melamun, dan tidak fokus dengan pembelajaran. Lalu bagaimana cara menyikapi masalah ini dan apa yang sebaiknya dilakukan agar lebih mudah memahami pelajaran?
Sebelum membahas pembahasan inti dari tulisan ini, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu hal-hal yang harus dimiliki sebagai pencari ilmu. Konsep ini dikutip dari kitab ta’limul mutaallim Yang dikarang oleh Syaikh Az Zarnuji yang mana didalamnya terdapat syair yang berbunyi:
أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ # سَأُنْبِيكَ عَنْ مَجْمُوعِهَا بِبَيَانٍ
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ # وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانٍ
Artinya: “ingatlah kalian yang sedang mencari ilmu, tidak akan bisa kalian memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. pertama, ذكاء (cerdas). kecemerlangan akal atau kemampuan intelektual manusia untuk belajar dan memahami. kedua, حرص (Keinginan yang kuat). ketiga, اصطبار (kesabaran). keempat, بلغة (bekal atau modal).kelima, ارشاد استاذ (pembimbing atau guru). keenam, طول زمان (waktu yang panjang).
Sebagai pencari ilmu kita harus mempunyai enam hal di atas. Kecerdasan, maksudnya orang yang mempunyai akal yang lengkap, keinginan yang kuat, kesabaran, bekal, guru, dan pastinya waktu yang panjang.
Selain itu, untuk menghadapi berbagai permasalahan-permasalahan yang muncul dalam proses belajar seperti yang telah diterangkan di awal, menurut penulis kita harus mengenali diri kita dan memahami kebutuhan diri kita dalam pembelajaran. Karena pada dasarnya, belajar bukan hanya sekedar menghafal, memahami teori atau mengikuti metode orang lain tanpa penyesuaian diri, melainkan bagaimana cara belajar dan mengetahui titik lemahnya. Maka dari itu kenali gaya belajar dan identifikasi diri kita sendiri.
Menurut para psikologi yang dipopulerkan oleh Walter Burke Barbe dan Neil Fleming ada beberapa metode pembelajaran yang sesuai dengan potensi anak didik yang berbeda-beda, yaitu metode belajar visual, auditori,dan kinestetik (VAK).
Teknik belajar visual cocok untuk orang yang mudah memahami informasi melalui gambar, warna dan bentuk. Biasanya orang seperti ini lebih cenderung suka menonton video pembelajaran, suka mencatat informasi-informasi yang dilihatnya, menggaris bawahi poin-poin penting dengan menggunakan highlight warna yang berbeda-beda. Kelemahan utama pembelajar visual biasanya sulit memahami informasi yang didengar tanpa pendukung visual. Orang seperti ini juga cenderung kurang aktif dalam diskusi, presentasi, berbicara di depan umum, karena fokus mereka dengan apa yang dilihat bukan yang didengar.
Teknik auditori untuk orang yang mudah memahami informasi melalui suara. Orang tersebut lebih cenderung paham saat mendengar dibanding membaca. Ini bisa dilakukan dengan cara mendengarkan cerita, informasi atau penjelasan, kemudian menjelaskan kembali pelajaran yang telah didengarnya kepada orang lain, presentasi, atau berdiskusi dengan teman.
Teknik belajar kinestetik, gaya uni sangat cocok bagi orang yang belajar sambil bergerak tau melakukan praktik langsung. Orang seperti ini cenderung sulit untuk duduk diam terlalu lama. Lebih mudah memahami lewat praktik belajar dalam sesi pendek tetapi intens, dan mencatat informasi sambil bergerak atau berjalan.
Dari ini, kesimpulan yang bisa kita ambil adalah bahwa semua yang kita inginkan tidak memungkinkan bisa kita dapatkan secara instan dan harus dilewati dengan proses yang sangat panjang. Untuk kalian yang mudah bosan dalam belajar, jangan langsung menyerah. Identifikasi terlebih dahulu diri kalian dan apa yang kalian butuhkan. dengan begitu, proses belajar tidak hanya sekedar kewajiban yang harus kalian tunaikan, tetapi moment yang membuat kalian nyaman dan senang melakukannya.
Penulis: Iffah Madania Khamid, Santri Mansajul Ulum.










