Salah satu sosok Ibu Nyai yang dikenal sangat sabar adalah Mbah Salamah. Beliau adalah putri keempat dari pasangan Mbah KH. Muhammadun dan Mbah Nyai Hj. Nafisatun. Ia lahir dari keluarga yang sederhana di Desa Pondowan Kecamatan Tayu Kabupaten Pati Jawa Tengah. Ia dibesarkan orang tuanya dengan didikan nilai-nilai keagamaan yang kuat dan akhlak luhur yang luar biasa. Karena itu, meski ia tak sempat mengenyam pendidikan di sekolah sebagaimana anak-anak lain, tetapi akhlak dan budi pekertinya dikenal sangat mulia.
Nyai Hj. Salamah menjalani masa kecilnya di desa Pondowan bersama sebelas saudaranya. Konon katanya beliau dilahirkan tepat di hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Keterangan itu saya dapatkan dari Mbah Salamah sendiri yang dituturkan dari cerita salah satu santri Mbah Muhammadun, yaitu KH. Ahmad Zuhdi, Kayen. Kiai Zuhdi dulu adalah santri ndalem yang momong Mbah Salamah kecil.
Putri ke-empat Mbah Muhammadun ini dikenal sangat anggun dan santun sejak kecil. Wajahnya yang manis dengan hidung yang mancung dan perawakan tinggi langsing, membuat Mbah Salamah konon menjadi idola para santri. Meski demikian tidak menjadikan ia bangga dan mudah tebar pesona. Salamah kecil menjalani kehidupannya sebagai perempuan pingitan yang tidak diperbolehkan untuk keluar rumah dengan bebas. Bahkan ia tak diperbolehkan untuk sekolah. Mbah Muhammadun tidak mengijinkan semua putrinya untuk ikut Sekolah Rakyat. Karena keyakinannya bahwa anak perempuan tidak aman untuk keluar sekolah. Meski demikian bukan berarti Mbah Muhammadun tidak mendidik putri-putrinya.
Mbah Salamah mengisahkan bahwa sejak kecil ia telah diajarkan Fashalatan oleh Ibunya, Nyai Hj. Nafisatun. Setelah menyelesaikan Fashalatan, kemudian ia mengaji Al-Quran hingga khatam. Setelah itu juga belajar ilmu tajwid dasar serta kitab Majmu’ah al-Syari’ah karya Kiai Shalih Darat. Kitab ini berisi tentang pedoman dasar untuk memahami fiqh ubudiyah dengan Bahasa Jawa pegon. Kitab tersebut bahkan masih terus dibaca oleh Mbah Salamah hingga masa tuanya.
Memasuki usia 16 tahun, beliau dinikahkan oleh Mbah Muhammadun dengan salah satu santrinya yang terkenal alim, Mbah Abdullah Rifa’i. Pemuda asal Jepara ini diminta oleh Mbah Muhammadun langsung untuk menjadi menantunya. Tanpa ba-bi-bu, ia pun menerimanya dengan penuh ketaatan. Saat itu ia diminta untuk menikah secara sirri terlebih dahulu dengan alasan menghormati kakak laki-laki Mbah Salamah yang belum menikah. Karena konon kakak laki-lakinya, KH. Badrudin Muhammadun, tidak berkenan dilangkahi. Karenanya, pernikahannya dilakukan secara sirri. Kemudian Mbah Abdullah Rifa’i pun masih melanjutkan tinggal di pondok mertuanya hingga pernikahan diresmikan setelah hampir dua tahun.
Setelah pernikahan sirri itu, Mbah Salamah hanya ketemu suaminya saat menyiapkan makan di dapur. Selain itu suaminya kembali ke pondok menjalani kehidupannya sebagai santri dari mertuanya. Setelah hampir dua tahun, pernikahannya baru diresmikan dan tercatat di KUA Tayu bersamaan dengan pernikahan kakak sulungnya, KH. Badrudin Muhammadun.
Di usia 18 tahun ia baru melahirkan putra pertamanya, Muhammad A’lam yang wafat di usia 1,5 tahun, Dari pernikahannya itu ia dikaruniai tujuh putra-putri. Tiga diantaranya wafat di usia anak-anak. Sehingga yang masih tinggal empat orang, yaitu Ulil Abshar Abdalla, Khiyarotun Nisa, Umdatul Baroroh, dan Malja’ul Abror.
Mbah Salamah bersama suaminya mendidik anak-anaknya dengan penuh kedisiplinan dan kesabaran. Dua orang pasangan suami-istri ini dikenal memiliki sifat yang bertolak belakang. Mbah Abdullah Rifa’i, suaminya, adalah seorang laki-laki yang dikenal tegas, keras, disiplin, bahkan teguh dalam pendirian. Sementara Mbah Salamah adalah perempuan yang sangat lembut, anggun, sabar, dan penyayang. Sekilas keduanya memiliki perbedaan yang sangat tajam dan sulit dipertemukan. Tetapi perpaduan antara keduanya telah disatukan dalam ikatan pernikahan yang saling melengkapi. Perbedaan sifat keduanya yang seperti bumi-langit itu bisa menyatu dalam satu sifat yang sama-sama mencintai ilmu.
Meskipun Mbah Salamah tidak pernah mengenyam bangku sekolah, tapi minat belajar dan kecintaanya terhadap ilmu sangat tinggi. Ia selalu rajin mengikuti pengajian suaminya meskipun hanya dengan ‘nguping’. Ia sering duduk di samping putrinya yang ikut mengaji dengan khusyuk untuk menyimak pengajian suaminya. Tidak jarang setelah selesai mengaji pun ia mengajukan pertanyaan kepada suaminya tentang hal-hal yang tidak ia pahami.
Bahkan ia selalu berkata kepada anak-anaknya, terutama anak-anak perempuannya, “Mbe’e aku ora sekolah, tapi anak-anak wedokku kudu sekolah sing duwur. Dadi wong bodo iku ora enak. Cukup aku wae sing ngerasakno. Kowe do sekolah sing pinter.” (meski aku tidak sekolah, tapi anak-anak perempuanku harus sekolah setinggi-tingginya. Jadi orang bodoh itu tidak enak. Cukup saya saja yang merasakan. Kalian pada sekolah yang pinter.) Karena itu ia selalu mensupport anak-anak perempuannya untuk belajar setinggi-tingginya.
Sosok Ibu Penyabar dan Bersahaja
Mbah Salamah dikenal sebagai Ibu Nyai yang sangat penyabar. Watak sabarnya itu disaksikan oleh semua orang. Bukan hanya anak-anak dan santri-santrinya. Tetapi juga oleh tetangga dan masyarakat di sekitarnya. Mbah Salamah tidak pernah terdengar bersuara tinggi dalam berbicara. Mungkin hanya kepada anak-anaknya saja yang terkadang agak bersuara tinggi ketika mereka sulit diarahkan. Selain itu, beliau hampir tidak pernah bersuara tinggi. Bahkan saat menghadapi watak ‘keras’ suaminya yang terkadang berlebihan. Mbah Salamah mampu menghadapinya dengan tegar dan sabar.
Kesabaran Mbah Salamah bukan karena putus asa. Tetapi ia menjalaninya dengan penuh kesadaran hati dan pertimbangan yang matang. Bahkan suatu ketika beliau pernah menyatakan kepada penulis dalam salah satu perbincangan curhatannya. “Bapakmu itu meski galak, tapi ngalim lan ora seneng dunyo. Ora kabeh wong koyok ngono. Akehe wong iku podo seneng dunyo. Dulur-dulurku akeh sing senengane ngomongno dunyo yen kumpul. Aku gak seneng ngono iku. Bapakmu yen kumpul wong sing diomongno ngelmu.” (Bapakmu itu meskipun galak, tapi alim dan tidak menyukai harta. Tidak semua orang bisa seperti itu. Kebanyakan orang itu pada mencintai harta. Saudara-saudaraku banyak yang suka membicarakan harta saat berkumpul. Saya tidak suka seperti itu. Bapakmu ketika kumpul dengan orang yang dibicarakan adalah ilmu.)
Kesabarannya menjalani kehidupannya bersama suaminya itu dilakukan dengan penuh kesadaran hati karena beliau mencintai ilmu. Beliau lebih memilih ilmu dari pada harta. Bahkan ia juga sabar menjalani kehidupan yang miskin sepanjang hayat bersama suaminya. Seluruh hidup mereka khidmahkan untuk ilmu, belajar dan mengajar anak-anak dan para santri. Mbah Salamah dengan Ikhlas menerima suaminya yang tidak memiliki kesempatan untuk bekerja demi meningkatkan ekonominya. Hidupnya hanya bergantung pada hasil bumi tempat ia tinggal.
Mbah Salamah tidak malu mengundang bakul atau pedagang untuk menjual kelapa, buah-buahan, atau palawija hasil panen dari sepetak tanah yang ia tinggali. Meski hidup miskin dan hidup sangat pas-pasan, tetapi Mbah Salamah bersama suaminya tidak pernah merasa hina dengan kemiskinannya. Beliau juga tidak pernah mengeluhkan kemiskinannya dengan siapapun.
Bahkan keduanya masih sempat memikirkan tetangga dan saudara-saudaranya. Mbah Salamah sangat rajin bersedekah kepada tetangga sekitar. Beliau sangat dermawan, meski tak memiliki banyak harta. Sebagai anak perempuan terakhir, penulis sering diajak membagi-bagi makanan maupun hasil bumi kepada para tetangga. Bahkan beberapa kerabat yang nyantri juga dibebaskan dari biaya pondok.
Mbah Salamah bersama suaminya menikmati kehidupannya dengan berkhidmah kepada ilmu. Keberaniannya untuk memilih kehidupan sederhana demi Khidmah ilmu ini menjadikannya sebagai orang yang bersahaja. Di antara kesahajaannya yang menarik bagi penulis, adalah konsistensinya menerapkan ilmu dalam kehidupannya. Mbah Salamah meskipun tidak berpendidikan tinggi, tetapi beliau banyak mengajarkan ilmu syariat dan akhlak dalam praktek yang nyata. Salah satu kesaksian yang penulis dapatkan adalah saat beliau memasak di dapur. Bekal ngajinya dari kitab Majmu’ Mbah Sholeh Darat, benar-benar ia praktekkan dalam kehidupan nyata. Beliau sering mengajari anak-anak dan para santri ndalem tentang praktek mensucikan najis sesuai dengan ilmu fiqh yang telah ia pelajari. Bahkan tak jarang beliau mengkritik para santri yang sudah ngaji kitab besar-besar, tapi tidak tahu prakteknya dalam kehidupan.
Mbah Salamah selalu menjaga makanan apapun ia sajikan untuk keluarga maupun santri-santrinya benar-benar terhindar dari campuran barang najis, haram, maupun syubhat. Tidak jarang beliau selalu mewanti-wanti tentang najis yang nyiprat pada makanan ataupun pakaian. Beliau juga mewanti-wanti anak-anaknya untuk tidak mengambil barang apapun dari tempat yang bukan miliknya. Bahkan dulu saat masih kecil penulis sempat dimarahi saat pulang membawa buah ‘puki’ yang penulis dapatkan dari kebun tetangga bersama anak-anak yang sedang bermain. Beliau tak mengijinkan anaknya mengambil buah yang bukan miliknya meskipun itu sudah terjatuh di bawah pohon.
Pun demikian dalam akhlak kesehariannya. Beliau merekam setiap ilmu tasawuf yang pernah diajarkan oleh ayahnya, Mbah Muhammadun Pondohan. Tak jarang beliau mengutip kata-kata Mbah Muhammadun saat menasihati anak-anak maupun para santri ndalem yang sering berinteraksi dengannya. Akhlak tentang qana’ah, zuhud, wara’, sakha’, sabar, dan lain-lain. Salah satu kata-kata yang sering penulis dengar adalah “Nek jare Bapak, wong iku ojo nuruti nafsu. Yen nuruti nafsu mengko dadi wirang. Awakmu nek dadi wong iku kudu iso mendem jero segoro ombo.” (Menurut Bapak, – Mbah Muhammadun -, orang itu jangan menuruti hawa nafsu. Kalau menuruti hawa nafsu nanti akan malu. Kamu jika sudah dewasa harus bisa menahan diri dan berlapang dada.)
Mbah Salamah juga sangat istiqomah dalam menjalankan ibadah apapun yang dilakukan. Beliau istiqomah dan rutin membaca Alquran setiap hari. Selain itu juga istiqomah dalam bertahajud dan menjaga wirid-wirid yang diajarkan ayah maupun ibunya. Keistiqomahan itu benar-benar menyatu dalam kehidupannya. Bahkan hingga ia bawa sampai akhir hayatnya. Diceritakan oleh seorang santriwati ndalem, Mbak Muaidah, yang menunggui beliau di Rumah Sakit menjelang wafatnya, bahwa beliau masih membaca seluruh wirid setelah shalat subuh dengan fasih sebagaimana hari-hari biasa sebelum ajal datang menjemputnya di pagi itu. Karenanya, Mbak ndalem itu tidak sadar jika beliau sudah mendekati ajalnya. Tetiba saat diperiksa oleh dokter jaga, nadinya telah tiada dengan sangat tenang sebagaimana orang yang tertidur pulas. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Beliau dipanggil kembali oleh Allah di hari Sabtu, 11 Dzul Hijjah 1422 atau bertepatan dengan 23 Februari 2002.
Kesedihan menyelimuti seisi rumah kami. Kepergiannya menyisakan duka yang mendalam bagi banyak orang, termasuk para tetangga. Meskipun Mbah Salamah bukan Ibunyai yang banyak berkiprah di masyarakat, tetapi ternyata beliau ada di hati mereka. Para Ibu-Ibu sangat kehilangan. Mereka datang bertakziyah dengan meneteskan air mata. Bahkan saat acara tahlil, pemimpin tahlilnya terbata-bata menahan isak tangisnya mengenang Mbah Salamah. Padahal seingat penulis, beliau tidak pernah ikut aktif di mana-mana. Mbah Salamah hanya mengikuti forum RT-nan dan sesekali mengikuti jam’iyah Muslimat di Ranting. Tetapi semua yang mengenalnya, selalu mengakui akhlaknya yang mulia. Mereka mengenalnya sebagai perempuan yang sabar dan baik. Semoga kita bisa meneladani akhlak mulianya.
Cebolek Kidul, 11 Dzul Hijjah 1447 H/28 Mei 2026
Oleh: Umdah El Baroroh, Pendamping santri Mansajul Ulum sekaligus Editor Redaksi EM-YU.










