Celaka…!
Kiamat sudah di negriku ini
Langit terasa mau terbelah
Alam mengamuk berhari-hari
Tumpah ruah air bah bagai tsunami
Hitam pekat awan itu
Menggulung-gulung menutupi bumi
Hamparan daratan luas nan kering
Kini basah kuyup penuh lumpur yang menggenang
Hujan yang kini turun
Bukan sekedar hujan yang kita pahami
Bencana datang silih berganti
Tak bisa dicegah dan diajak kompromi
Lalu siapa yang bisa kita salahkan saat ini?
3,5 abad penjajah datang menjajah negeri ini
Meninggalkan teknologi
Pembangunan tanah subur
Hutan lebat
Bangunan indah berseri-seri
80 tahun Indonesia merdeka
Usia yang masih sangat muda untuk sebuah negara
Tapi lihatlah
Kerusakan di mana-mana
Polusi, tanah longsor, bahkan banjir bandang
Tak pernah bisa kita pungkiri
Lantas siapa yang sebenarnya menjajah?
Ketika hutan tak lagi punya pepohonan
Semua ditebang hanya demi uang, uang, dan uang
Binatang pun kehilangan tempat tinggal
Tebang sini, tebang sana, tebang lagi
Tebang saja sekalian “keadilan”
Biar punah dan tak ada lagi kebijakan
Serakah…..
Ya Tuhan….
Tolong kami para rakyat jelata
Mereka tidur nyaman di depan sedangakan kami menanggung derita
Rumah kami terseret arus sedangkan rumah mereka semakin mulus
Kampung kami tenggelam sedangkan mereka berpesta malam
Kiamat sudah di negeriku
Tak ada lagi yang bisa dituju
Jangankan sesuap nasi untuk makan keluarga
Semua telah habis dibabat para “penguasa”.
Oleh: Azhar El-Miftah, Santri Mansajul Ulum.










