Menu

Mode Gelap

Puisi · 30 Jan 2026 13:13 WIB ·

Kiamat di Negeriku


 Kiamat di Negeriku Perbesar

Celaka…!

Kiamat sudah di negriku ini

Langit terasa mau terbelah

Alam mengamuk berhari-hari

 

Tumpah ruah air bah bagai tsunami

Hitam pekat awan itu

Menggulung-gulung menutupi bumi

Hamparan daratan luas nan kering

Kini basah kuyup penuh lumpur yang menggenang

 

Hujan yang kini turun

Bukan sekedar hujan yang kita pahami

 

Bencana datang silih berganti

Tak bisa dicegah dan diajak kompromi

Lalu siapa yang  bisa kita salahkan saat ini?

 

3,5 abad penjajah datang menjajah negeri ini

Meninggalkan teknologi

Pembangunan tanah subur

Hutan lebat

Bangunan indah berseri-seri

 

80 tahun Indonesia merdeka

Usia yang masih sangat muda untuk sebuah negara

Tapi lihatlah

Kerusakan di mana-mana

Polusi, tanah longsor, bahkan banjir bandang

Tak pernah bisa kita pungkiri

 

Lantas siapa yang sebenarnya menjajah?

Ketika hutan tak lagi punya pepohonan

Semua ditebang hanya demi uang, uang, dan uang

Binatang pun kehilangan tempat tinggal

 

Tebang sini, tebang sana, tebang lagi

Tebang saja sekalian “keadilan”

Biar punah dan tak ada lagi kebijakan

 

Serakah…..

 

Ya Tuhan….

Tolong kami para rakyat jelata

Mereka tidur nyaman di depan sedangakan kami menanggung derita

Rumah kami terseret arus sedangkan rumah mereka semakin mulus

Kampung kami tenggelam sedangkan mereka berpesta malam

 

Kiamat sudah di negeriku

Tak ada lagi yang bisa dituju

Jangankan sesuap nasi untuk makan keluarga

Semua telah habis dibabat para “penguasa”.

 

Oleh: Azhar El-Miftah, Santri Mansajul Ulum.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 55 kali

Baca Lainnya

Singa yang Menjadi Harimau          

2 Januari 2026 - 13:05 WIB

Malam

5 Desember 2025 - 12:15 WIB

Sang Pahlawan

7 November 2025 - 10:42 WIB

Kembali Pulang

10 Oktober 2025 - 10:41 WIB

Kutu

19 September 2025 - 10:08 WIB

Tikus Serakah

22 Agustus 2025 - 11:02 WIB

Trending di Puisi