Di balik jendela kamar
Hatiku termangu
Hanya ditemani bisikan anila yang selalu berbicara
Bersama mega senja yang akan menyapu habis semua kenangan kita
Pawana itu datang dari pulau seberang
Membawa sebuah kabar
Tentang kumpulan diksi yang mulia
“Kapan kamu pulang, Nak? Semua orang sudah rindu bersamamu.”
Diksi itu menusuk hingga ke kalbu
Mukaku seketika mengembara seperti hujan
Merasakan pedihnya kehidupan
Kenapa semua ini kulakukan dengan nafsu?
Selama ini pergi kemana hatiku?
Jujur
Kalbuku terpaut hanya padamu
Asmaralokaku akan selalu menyertaimu
Walau kita tak bertemu
Ingatlah, semua memori kita
Kita pernah makan bersama setiap sahur dan berbuka
Dengan sensasi air hangat yang direbus dengan tungku kayu
Juga hangatnya nasi uduk yang kau sajikan sebelum fajar shodik menyapa
Tapi aku tak bisa
Menuruti semua dambamu
Keadaan belum mengijinkan hatiku
Bertandang bersamamu, di bulan yang mulia
Sanubariku kotor
Dipenuhi oleh noda yang sulit hilang
Dan sekarang
Biarkan aku sendiri di sini
Biarkan sepi yang akan menemani
Semua kulakukan demi mengurangi beban di tubuhmu nanti
Biarkan doa yang jadi kendaraan melintasi bumi
Menembus bukit, menyeberangi lautan
Ia akan mengetuk pintu langit
Meminta kepada Tuhan untuk menjagamu
Hingga tiba masa takdir mengizinkanku kembali memelukmu
Ramadhan ini
Biarkan aku berbuka dengan hujan
Menelan rindu sebagai lauk pauknya
Meneguk air agar selalu bersabar
Tunggulah aku, saat musim berganti
Aku akan pulang membawa rindu yang terpendam dalam hatiku
Sekarang
Dengarlah bisikanku padamu, angin
Kirimkan pesan ini padanya
Bahwa jarak tidak akan mengurangi kasih sayangku
Bukannya aku tak ingin mengukir senyum bahagia orang tua
Tapi khusus tahun ini aku ingin menjauh darinya dahulu
Mencari jati diri sendiri
Terimalah, ikhlaskanlah
Maafkanlah yang selalu melemparimu batu selama ini.
Karya: Muhammad Alif, Santri Mansajul Ulum.










