Menu

Mode Gelap

Resensi · 1 Mar 2026 07:22 WIB ·

Seni Berpikir Rasional ala Ferry Irwandi: Ulasan Buku Prinsipil Ekonomi


 Seni Berpikir Rasional ala Ferry Irwandi: Ulasan Buku Prinsipil Ekonomi Perbesar

Identitas Buku

Judul Buku                : Prinsipil Ekonomi

Penulis                       : Ferry Irwandi

Penerbit                     : PT. Malaka Pustaka Pergerakan

Halaman                   : 267 halaman

Tahun Terbit             : 2026

Bahasa                        : Indonesia

“Semua sumber daya di alam raya ini itu terbatas. Bahkan sinar matahari sekalipun akan habis dalam 5 miliar tahun lagi” adalah penggalan kalimat yang saya ingat saat pertama kali membaca buku Prinsipil Ekonomi oleh Ferry Irwandi. Ia merupakan salah satu tokoh publik yang familiar di kalangan anak muda. Keterlibatannya dalam aksi sosial dalam merespons bencana di Sumatra semakin meningkatkan popularitasnya di kancah nasional.

Ia merupakan founder Malaka, sebuah media edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan literasi dasar publik dan mengedepankan prinsip berpikir secara rasional dan ilmiah. Buku Prinsipil Ekonomi merupakan salah satu buku terbaru yang ia tulis dan rilis pada awal tahun 2026. Buku ini membahas teori dasar ekonomi. Hal menarik dari buku ini adalah Ferry Irwandi berhasil menyampaikan data dan menjelaskan teori ekonomi dengan bahasa yang sangat sederhana, mudah dipahami, bahkan bagi orang awam sekalipun.

Buku ini sangat cocok bagi orang awam yang ingin membangun sistem berpikir rasional dan argumentatif terkait dengan isu ekonomi, baik ekonomi mikro, makro dan ekonomi terapan. Lebih jauh, Ferry Irwandi secara tegas menyatakan bahwa seseorang yang membaca buku ini tidak akan membuatnya menjadi profesor bidang ekonomi, ahli ekonomi global. Walaupun demikian, ia berekspektasi pembaca dapat sampai di “tongkrongan”, sebuah istilah yang digunakan olehnnya untuk menggambarkan sebuah kondisi di mana seseorang mempunyai sudut pandang dan menggunakannya sebagai pisau analisis dalam melihat berbagai kebijakan publik. Sehingga ia akan mampu untuk membahas suatu kebijakan dengan padat, berisi dan tepat arah.

Di bagian awal, penulis membahas tentang dasar ekonomi. Di bagian ini, Ferry Irwandi menyampaikan bahwa hal yang paling fundamental dalam ekonomi tidaklah uang, kekayaan, atau angka, melainkan sebuah pilihan. Ia merefleksikan pengalaman pribadinya saat memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Keuangan. Menurutnya, ini adalah keputusan terbesar yang pernah ia buat dalam hidupnya dan pilihan tersulit yang pernah ia ambil  seumur hidupnya. Ia merasa bahwa ilmu ekonomi yang ia miliki membantu dalam menavigasi pilihan tersebut. Dalam bukunya, Ferry Irwandi menuliskan Cost Benefits Analysis yang ia terapkan dalam memutuskan pilihan resign dari pegawai Kemenkeu ini.

Selain itu, di bagian ini, ia meng-highlight tentang prinsip munculnya ekonomi, yaitu tentang pilihan. Pada dasarnya, semua orang perlu untuk membuat sebuah keputusan karena setiap manusia selalu berhadapan pada sebuah pilihan. Semua orang selalu dihadapkan pada sebuah pilihan karena mereka hidup dalam keterbatasan. Ia secara tegas mengatakan bahwa pilihan yang tepat memberikan kemanfaatan yang berkali-kali lipat, sama halnya pilihan yang tidak tepat akan menghancurkan segalanya. Hal ini dirasakan oleh FC Barcelona. Salah satu klub sepak bola terbesar di dunia ini membuat keputusan ekonomi yang buruk, sehingga menjerumuskan mereka ke dalam krisis finansial. Dalam analisisnya, salah satu persoalan krusial yang menyebabkan hal ini terjadi adalah utang yang mencapai 2,7 miliar euro dan di tahun 2025 diproyeksikan mencapai 3 miliar euro atau sekitar 50,8 triliun rupiah.

Selain itu, di bagian ini penulis berargumen tentang pengaruh politik terhadap ekonomi di Indonesia bahwa politik di Indonesia mempunyai sejarah panjang dalam membungkam pemikiran ekonomi yang dianggap “melawan arus”. Ia menyoroti politik pendidikan yang sangat konservatif dan sentralistik. Beberapa teori ekonomi alternatif seperti Marxian atau post-Keynesian sangat jarang dibahas, sekalipun di kampus-kampus besar seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gajah Mada (UGM).

Di bagian dua, penulis membahas mikroekonomi. Secara singkat, Ferry Irwandi menjelaskan mikroekonomi adalah keputusan sehari-hari yang diambil oleh individu, rumah tangga dan bisnis kecil. Dalam konteks ini, mikroekonomi tidak membahas terkait dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau kegiatan ekspor-impor. Ilmu ini mengkaji bagaimana perilaku individu dalam memutuskan sebuah pilihan dalam kondisi yang serba terbatas.

Di antara poin yang ia bahas adalah terkait Opportunity Cost, yaitu sebuah prinsip dasar dalam ekonomi: saat seseorang memilih sebuah pilihan, ada hal lain yang dikorbankan. Dengan memahami prinsip ini, maka tidak ada namanya Makan Bergizi Gratis (MBG). Everything has a cost! Ia juga menggambarkan konsep ini dengan sederhana. Ketika seorang mahasiswa menghadiri seminar di kampus dan mendapatkan makan siang gratis, meskipun mahasiswa tersebut tidak membayar, tetap ada “biaya” yang harus ia bayar, yaitu kehilangan waktu, energi dan kesempatan lain yang berpotensi lebih bermanfaat.

Di bagian ini penulis menjelaskan bahwa mengkalkulasi Opportunity Cost dalam setiap pengambilan keputusan menjadi hal yang sangat penting. Lebih lanjut, Decision Making yang rasional adalah pengambilan keputusan yang mempertimbangkan apa yang akan didapat dan apa yang akan dikorbankan. Menurutnya, banyak orang yang terjebak dalam pertimbangan manfaat dari pilihan yang mereka ambil, tanpa memikirkan hal yang mereka korbankan. Penulis mengakhiri pembahasan mikroekonomi dengan membahas secara singkat terkait Supply, Demand, dan Elastisitas sebagai poin utama dalam mikroekonomi.

Pada bagian tiga dalam buku ini, penulis menjelaskan istilah-istilah yang sering diasosiasikan dengan makroekonomi dan bagaimana sistem ekonomi berjalan dengan skala yang lebih besar, baik nasional atau global. Terdapat 4 tema yang dibahas oleh penulis, yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi dan pengangguran, kebijakan fiskal dan moneter, serta perdagangan internasional dan keseimbangan neraca.

Beberapa istilah yang dijelaskan oleh Ferry Irwandi di bagian ketiga ini di antaranya adalah PDB (Produk Domestik Bruto) dan PNB (Produk Nasional Bruto). Ia menambahkan tentang pentingnya pertumbuhan ekonomi. Ia menganalogikan ekonomi negara seperti halnya kue. Semakin besar pertumbuhan ekonomi sebuah negara, semakin besar pula kue yang dapat dibagikan ke setiap individu. Pertumbuhan ekonomi akan mendorong pendapatan per kapita, lapangan kerja akan terbuka dan pemerintah akan mendapatkan penerimaan lebih tinggi untuk pembangunan negara. Akan tetapi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi tidaklah sesuatu yang mudah, menurutya terdapat 4 faktor yang mendorong laju pertumbuhan ekonomi, yaitu investasi, tenaga kerja, teknologi dan inovasi, dan sumber daya alam.

Di bagian akhir dari buku ini, Ferry Irwandi menjelaskan tentang ekonomi terapan. Hal menarik di bagian ini adalah tentang ekonomi publik dan kebijakan negara. Penulis mengangkat problem yang sering terjadi saat membaca kebijakan publik. Ia menyebutkan kebanyakan dari kita hanya sibuk menilai niat, tanpa mempertimbangkan mekanisme kebijakan tersebut. Dalam hal ini, penulis mencoba memberikan insight baru agar kita mepunyai cara pandang yang lebih rapi dalam melihat kebijakan negara. Hal ini ia lakukan bukan bertujuan untuk menjadi pro atau kontra kepada pemerintah, melainkan agar kita memiliki pendirian pemikiran yang kuat, sehingga kita tidak mudah untuk dikelabui oleh retorika politisi.

Penulis pertama kali menanamkan konsep bahwa negara tidak mempunyai uang. Adapun istilah “Uang Negara”, “APBN”, dan “Dana Rakyat” pada akhirnya bersumber dari rakyat. Konsep ini harus selalu diingat setiap kali membaca berita kebijakan. Ia merumuskan tiga hal yang harus dipertanyakan fiskal saat melihat kebijakan publik, yaitu darimana uang tersebut berasal, akan kemana uang tersebut diberikan, dan apa yang akan dikorbankan. Dengan demikian, ketika melihat kebijakan kita harus melihat tentang mekanisme di balik kebijakan tersebut, bukan persoalan pro rakyat atau tidak.

Terlepas dari pembahasan yang mudah dipahami, buku ini tidak terlalu akademis, sehingga tidak cocok bagi orang yang sudah mempunyai background pemahaman tentang ekonomi karena pembahasan yang sangat singkat. Selain itu, dari aspek  bahasa, buku ini banyak menggunakan bahasa yang informal.

Oleh: Muhammad Ulil Albab, Pimpinan Redaksi EM-YU

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 48 kali

Baca Lainnya

Resensi Buku The Alpha Girl’s Guide, Menjadi Cewek Smart, Indipendent, dan Anti- Galau

26 Maret 2025 - 08:03 WIB

Mengetahui Perkembangan Hukum Islam Melalui Kitab Khulasoh Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islamiy

12 Maret 2025 - 16:03 WIB

Trending di Resensi