Menu

Mode Gelap

Opini Santri · 23 Des 2025 14:15 WIB ·

Evaluasi Kritis TKA 2025: Minim Sosialisasi, Maksimal Keresahan


 Evaluasi Kritis TKA 2025: Minim Sosialisasi, Maksimal Keresahan Perbesar

Kementerian Pendidikan era masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kini membuat geger. Setelah awal kepemimpinan kemarin, Kementerian Pendidikan dibagi menjadi dua kementerian, yaitu Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Setelah kurikulum yang lama, kurikulum tiga belas (kurtilas) diganti dengan kurikulum merdeka (kurmer), sekarang ditambah lagi dengan metode deep learning.

Gebrakan terbarunya adalah pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik atau popular dengan sebutan TKA, yang kemarin telah dilaksanakan pada tanggal 3-6 November 2025. Yang membuat isu ini mencuat ialah, banyaknya keresahan-keresahan yang dialami dan dirasakan peserta didik tahun ajaran 2025/2026 terkhusus bagi siswa kelas 3 SMA/SMK/MA/Sederajat yang menjuluki angkatannya sebagai “Angkatan Percobaan”.

Terbilang pelaksanaan TKA ini cukup singkat, yang hanya dilaksanakan 2 hari dengan 2 gelombang serta 3 sesi di tiap harinya. Dengan waktu tersebut peserta didik harus mampu mengikuti dan mengerjakan soal ujian TKA. Dengan rincian, 3 mata pelajaran wajib yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa inggris, dan Matematika, dihari pertama. Di hari kedua materi yang diujikan adalah 2 mapel pilihan sesuai peminatan yang diinginkan.

Pada dasarnya, pelaksanaan ujian yang umum dilakukan, itu harus banyak persiapan, mulai dari persiapan diri, materi, sampai dengan mental. Namun, ujian yang digadang-gadang menjadi pengganti dari Ujian Nasional (UN) yang dinilai kurang transparansi dan banyaknya kecurangan. Ujian TKA ini malah menjadi momok mengerikan bagi siswa. Dimulai dari waktu persiapan yang sangat singkat, sampai kurangnya bimbingan dari pihak sekolah. Padahal, partisipasi dari siswa dalam mengikuti ujian ini sangat banyak, yakni lebih dari 3 juta peserta. Meskipun,  ujian ini tidak bersifat wajib bagi peserta didik.

Hal yang menjadi masalah krusial pada saat pelaksanaannya adalah dalam hal waktu pengerjaannya. Pasalnya, pemerintah hanya memberikan waktu kurang dari 50 menit untuk mengerjakan 25 soal yang bagi peserta didik dirasa terlalu sulit dan butuh penalaran kritis untuk mengerjakannya.

Dengan masalah tersebut, Sebagian siswa merasakan putus asa dan berdampak pada tidak adanya rasa kesungguhan dalam mengerjakan soal ujian. Siswa menjadi awur-awuran dalam menjawab soal ujian dan muncul istilah “Tinggal Klik Aja”, karena dalam pengerjaannya yang berbasis komputer. Hal ini berdampak pada nilai TKA yang anjlok. Siswa merasakan kekecewaan di saat mereka harus bersemangat di akhir waktu pembelajaran, dan harus menentukan nasib mereka kedepannya.

Padahal nilai TKA ini, akan menjadi persyaratan untuk bisa masuk ke perguruan tinggi, terlebih melalui jalur beasiswa SNBP. Juga menjadi syarat untuk melamar pekerjaan di beberapa instansi perkantoran. Inilah yang menjadi momok pikiran dan keresahan mental bagi siswa Angkatan TKA perdana ini.

Dengan banyaknya permasalahan dan keluhan tersebut. Siswa berharap pada pemerintah yang berwenang yaitu Kemendikdasmen untuk bisa menangani masalah ini. TKA di tahun ini bisa dijadikan sebuah bahan pembelajaran untuk kedepannya. Peraturan Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah atau Perkemendikdasmen bisa disosialisasikan lebih awal dan matang, agar para siswa bisa mempersiapkannya lebih baik.

Jika nilai TKA ini memang menjadi suatu persyaratan untuk menempuh perkuliahan atau pekerjaan, siswa harus diberi bekal yang cukup agar mereka bisa mendapatkan nilai yang cukup sesuai standar yang diharapkan. Selain itu, sistem dari ujian ini harus bisa selalu mengikuti arus yang sesuai, baik dari pihak pemerintah maupun siswa. Semoga dengan program terbaru dan cemerlang di cabinet merah putih ini, bisa membawa para siswa nusantara menjadi tangguh menuju indonesia emas.

Oleh: Aqil Muchtar, Santri Mansajul Ulum.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 164 kali

Baca Lainnya

Mengapa Pesantren Disalahpahami?

13 Januari 2026 - 16:49 WIB

Mengikis Akar Kekerasan Seksual di Lingkungan Pesantren melalui Transformasi Kurikulum Pendidikan Pesantren

6 Januari 2026 - 14:37 WIB

Mimpi Indonesia Emas di Tengah Retaknya Kesejahteraan Pendidik

30 Desember 2025 - 16:36 WIB

Blockchain: Benteng Privasi atau Surga Kriminalitas?

16 Desember 2025 - 15:03 WIB

People Pleaser dan Krisis Identitas

9 Desember 2025 - 13:10 WIB

Begadang: Antara Risiko dan ‎Keutamaan

2 Desember 2025 - 14:12 WIB

Trending di Opini Santri