KOLOM JUMAT CLV
Jumat, 24 Juli 2026
Pada zaman yang serba cepat sekarang, banyak umat Islam yang mengerjakan sholat hanya sebagai bentuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim kepada Tuhannya. Banyak di antara mereka saat sholat tidak pernah memperhatikan kesempurnaan dalam gerakannya. Padahal dalam gerakan sholat jika dilakukan dengan benar dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh. Apalagi pada zaman modern saat ini, saat gaya hidup seseorang yang cenderung lebih sibuk, sehingga membuat mereka lupa untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan juga melakukan aktivitas fisik.
Seorang muslim mendapatkan panggilan sholat yang wajib dilakukan selama sehari semalam sebanyak lima kali. Sesibuk apapun aktivitas yang dilakukan, sesakit apapun keadaannya, umat muslim tetap mendapatkan hukum wajib sholat. Sholat merupakan sebuah ibadah yang diwajibkan untuk seluruh umat muslim selama nyawa masih bersemayam di dalam diri. Kewajiban ibadah ini diperintahkan sejak Nabi Muhammad Saw melaksanakan isra’ mi’raj setelah diangkat menjadi nabi selama 10 tahun lebih 3 bulan.[1]
Dalam melaksanakan sholat, menyimpan berbagai macam gerakan yang harus dipenuhi bagi orang yang mampu menjalankannya. Seperti halnya dalam gerakan rukuk dan sujud di selain sholat jenazah. Gerakan ini sebenarnya menyimpan makna untuk mengagungkan kuasa Allah SWT sebagai Sang Pencipta. Juga menjadi bukti bahwa kita sebagai seorang manusia merupakan makhluk yang lemah di hadapan-Nya.[2]
Namun siapa sangka, rukuk dan sujud ini tidak hanya sebagai perbuatan seorang hamba untuk menunjukkan kebesaran Tuhannya. Tanpa disadari ternyata rukuk dan sujud juga menyimpan obat yang akan kembali untuk kesehatan seorang hamba. Gerakan yang tersimpan di dalam sholat bukanlah sekedar rutinitas tanpa arti, melainkan mengandung pelajaran dan hikmah yang sangat banyak bagi orang yang melaksanakannya.
Dalam sebuah hadist Rasulullah pernah bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: هَجَّرَ النَّبِيُّ ﷺ فَهَجَّرْتُ فَصَلَّيْتُ ثُمَّ جَلَسْتُ، فَالْتَفَتَ إِلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: «اشِكَمَتْ دَرْدْ؟»، قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ الله، قَالَ: قُمْ فَصَلِّ؛ فَإِنَّ فِي الصَّلَاةِ شِفَاءً
Artinya: “Dari Abu Hurairah dia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ketika matahari sedang terik, lalu aku datang dan shalat. Setelah itu aku duduk dan menoleh ke arah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun bersabda: “Apakah kamu sakit perut.” Jawabku, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Shalatlah, karena dalam shalat terdapat kesembuhan.” (HR. Ibnu Majah)[3]
Kemanfaatan untuk kesehatan tubuh di dalam sholat dapat diperoleh jika kita sudah melakukan gerakan sholat dengan benar. Di antaranya seperti menyempurnakan dalam gerakan rukuk dan sujud. Masih banyak orang yang jarang memperhatikan hal yang perlu dipenuhi dalam melakukan gerakan rukuk dan sujud. Sehingga hal ini tidak hanya membuat sholat seseorang tidak sah, tapi juga dapat menghilangkan kemanfaatan dari gerakan itu sendiri.
Dalam melaksanakan rukuk, seseorang harus memenuhi beberapa hal agar bisa mendapatkan manfaatnya. Di antaranya adalah:
1. Memegang kedua lutut dengan keadaan jari tangan direnggangkan.
2. Siku dijauhkan dari badan, lalu merenggangkan perut dengan kedua paha bagi laki-laki. Siku dirapatkan ke badan, serta merapatkan perut dengan kedua paha bagi perempuan.[4]
3. Punggung dan leher diluruskan, serta posisi kepala tidak terlalu naik atau turun.
4. Tidak meletakkan tangan di antara kedua lutut.
5. Terakhir, hal yang paling penting adalah tuma’ninah atau berhenti sebentar sekiranya ucapan subhanallah.[5]
Jika kita melakukan gerakan tersebut dengan benar, kita dapat memperoleh kemanfaatan di antaranya:
1. Gerakan rukuk dapat membuat tulang belakang tetap lurus tidak melengkung. Hal ini dikarenakan seluruh urat yang berada di kaki tertarik dan terjadi peregangan di urat-urat kaki.
2. Saat rukuk posisi jantung sejajar dengan otak, sehingga membuat aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Hal ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf.
3. Dalam kajian kedokteran, saat rukuk terjadi yang namanya proses mengejan. Posisi ini dapat meningkatkan tonus parasimpatis yang melawan efek penyempitan pembuluh darah dan membuat sel trombosit darah kita jadi bertambah liar. Saat rukuk, tubuh manusia memproduksi NO Nitrit oksida, zat yang terdapat pada sel bagian dalam pembuluh darah yang mampu mengembangkan atau melebarkan pembuluh darah untuk melawan peningkatan kadar zat adrenalin tersebut (At-Tarbiyah, 2024).[6]
Setelah rukuk, hal yang paling bermanfaat untuk kesehatan adalah sujud. Di dalam sujud juga terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi. Di antaranya:
1. Menempelkan jidad ke tanah.
2. Meletakkan bagian dalam telapak tangan kiri dan kanan ke tanah dengan menjauhkan siku dari badan, serta merenggangkan perut dengan kedua paha bagi laki-laki, dan untuk perempuan merapatkan siku ke badan, serta merapatkan perut dengan kedua paha.[7]
3. Meletakkan lutut kiri dan kanan di tanah.
4. Meletakkan bagian dalam kedua jari kaki kiri dan kanan ke tanah.
5. Lalu ditambah satu hal yang paling penting lagi dalam melakukan sujud yang menjadi syarat sahnya sholat, yaitu tuma’ninah atau berhenti sebentar sekiranya mengucapkan subhanallah.[8]
Sujud selain menjadi gerakan rukun sholat yang paling disukai Allah, -sebab gerakan ini secara lahiriah merupakan sikap untuk merendahkan diri di hadapan-Nya dan mengakui bahwa hanya Allah SWT Tuhan yang layak disembah. Sujud juga menjadi salah satu gerakan yang sangat berpengaruh untuk kesehatan seorang hamba. Gerakan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan sikulasi darah pada otak.
Dalam sebuah penelitian dijelaskan bahwa seseorang waktu melakukan sujud detak jantung akan melambat, sehingga pembuluh darah vena akan tertekan. Dalam posisi sujud, aliran darah balik menjadi lebih lancar setelah sebelumnya terhambat oleh gravitasi. Ketika sujud otak bekerja paling keras menerima lebih banyak aliran darah (Rahmatullah, I. 2019).[9]
Sujud menjadi tempat terjadinya peningkatan volume darah di kepala, hal ini disebabkan karena letak jantung yang lebih tinggi dari posisi kepala. Keadaan ini menyebabkan lebih banyak zat makanan yang masuk ke otak dan lebih sedikit zat makanan yang keluar dari otak saat kepala kembali ditegakkan. Dalam posisi sujud, urat saraf dapat berfungsi lebih baik karena pada posisi tersebut urat saraf di seluruh otak terisi oleh darah yang memungkinkan fungsi otak menjadi lebih baik (Herawati., 2005 dalam Andriannor et al., 2023).[10]
Prof. Dr. Wan Azman Wan Ahmad, konsultan spesialis jantung di UM Medical Centre, dalam penelitiannya menjelaskan detak jantung dapat berkurang kecepatannya hingga 10 kali dalam satu menit saat sujud, di mana kening, hidung, tangan dan lutut kaki menyentuh tanah. Ini tentunya dapat memberikan rasa rileks dan kenyamanan bagi seseorang. Hal itu disebabkan aliran darah yang membawa oksigen secara otomatis masuk ke dalam pembuluh-pembuluh darah otak kita, kemudian pengalirannya terjadi sampai ujung-ujung pembuluh darah kapiler (At-Tarbiyah 2024).[11]
Dengan sujud ini tentunya dapat menjadi media relaksasi seseorang yang murah untuk menghilang stres karena banyaknya beban yang tersimpan di pikiran. Sebenarnya Islam sudah memberikan obat atas penyakit di dalam kehidupan kita melalui kewajiban dari perintah syariatnya. Tidak mungkin suatu hal wajib dilakukan tanpa mengandung hikmah di baliknya. Baik hikmah tersebut untuk kehidupan saat ini di dunia ataupun di akhirat kelak.
Ibadah sholat merupakan ibadah wajib yang tidak hanya sebagai pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Allah SWT, tetapi di dalamnya juga menyimpan kemanfaatan yang tak terduga untuk kesehatan tubuh. Di antaranya yang paling berpengaruh untuk kesehatan tubuh adalah dalam gerakan rukuk dan sujud. Oleh karena itu, dalam menjalankan sholat sudah seharusnya kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan disertai rasa khusu’ karena sedang berhadapan dengan Sang Pencipta. Agar kemanfaatan dari ibadah yang kita lakukan dapat kita peroleh di dunia dan akhirat kelak. Wallahu’alam.
Oleh: Muhammad Sholihul Huda, Redaktur Em-Yu.
[1] فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين ١/٣٦ — زين الدين المعبري (ت ٩٨٧)
[2] التعليقة للقاضي حسين ٢/٦١٢ — القاضي الحسين (ت ٤٦٢)
[3] شرح سنن ابن ماجه للهرري = مرشد ذوي الحجا والحاجة إلى سنن ابن ماجه ٢٠/٢٣٣ — محمد الأمين الهرري (ت ١٤٤١)
[4] فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب ١/٨٣ — محمد بن قاسم الغزي (ت ٩١٨)
[5] البيان في مذهب الإمام الشافعي ٢/٢٠٧ — العمراني (ت ٥٥٨)
[6] Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam Vol. 2 Nomor 1, Oktober 2024 – Perspektif Hadist Tentang Gerakan Shalat dan Dampaknya pada Kesehatan.
[7] فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب ١/٨٣ — محمد بن قاسم الغزي (ت ٩١٨)
[8] كاشفة السجا ص ٦٠ – دار العلم
[9] Rahmatullah, I. (2019). “Sujud dalam Perspektif Fisiologi dan Kesehatan”. Jurnal Kedokteran Islam Indonesia, 5(3), 120-130.
[10] Herawani. (2024). Korelasi Shalat Terhadap Kesehatan Tubuh. JK: Jurnal Kesehatan, 2(7), 435. https://jurnalkesehatan.joln.org/index.php/health/article/download/149/156/291
[11] Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam Vol. 2 Nomor 1, Oktober 2024 – Perspektif Hadist Tentang Gerakan Shalat dan Dampaknya pada Kesehatan.










