Saat ini generasi muda sudah tidak terpisahkan lagi dari dunia maya, terutama Gen Z. Generasi ini pada dasarnya sudah tumbuh dalam ekosistem digital di mana validasi sosial sering diukur melalui angka likes, followers, dan konten yang terakurasi sempurna. Fenomena “perbandingan sosial” ini menciptakan standar hidup dan kecantikan yang sering kali semu, namun berdampak nyata pada psikis mereka.
Standar kecantikan modern yang berkembang dalam masyarakat saat ini tidak dapat dipahami sebagai suatu hal yang alami, melainkan terbentuk melalui proses sosial yang dibangun dalam masyarakat. Dalam kaitannya dengan standar kecantikan, masyarakat Indonesia banyak menjadikan influencer dan artis k-pop, dan biasanya standar tersebut meliputi kulit yang tampak putih, bersih, dan cerah, baik pada wajah maupun tubuh, dan lagi standar itu juga terus disebarkan oleh industri kecantikan melalui iklan yang sering kita lihat dalam keseharian kita, hal tersebut mengakibatkan perempuan Indonesia kadang mengalami yang disebut dengan “insecure” atau minder, di mana mereka merasa tidak percaya diri dengan penampilan yang mereka miliki.
Tidak hanya pada standar penampilan, tetapi juga pada standar gaya hidup Gen Z yang selalu ingin hasil secara instan tanpa mau melewati proses, dan juga mereka cenderung haus akan validasi atau pengakuan dari orang lain. Selain itu, “Fomo”turut menjadi salah satu penyakit mental yang mereka alami di mana mereka merasa cemas, takut tertinggal tren seru yang sedang dinikmati orang lain .
Hal-hal ini dapat mengganggu keberlangsungan negara kita sendiri. Jadi tidak hanya dampak negatif yang kita rasakan sendiri, tetapi dampak itu juga menjalar sampai ke lingkungan kita, sehingga dapat menghambat kemajuan kita sendiri.
Langkah-langkah Pencegahan Dampak Negatif Media Sosial
Adapun kita sebagai generasi penerus bangsa harus menciptakan upaya-upaya pencegahan terhadap dampak negatif tersebut. Terdapat beberapa cara yang dapat kita lakukan di antaranya:
1. Membatasi akses dunia maya. Hal ini dikarenakan media sosial adalah tempat untuk berinteraksi dengan semua orang secara online dan memungkinkan kita melihat standar kehidupan orang lain, yang notabene belum tentu relevan dengan nilai-nilai yang kita ikuti. Mulailah dengan menata waktu, lalu lengkapi dengan melatih kesadaran diri (mindfulness) serta rasa syukur agar hari terasa lebih bermakna.
2. Meningkatkan rasa percaya diri dan skill. Gen Z biasanya sering merasa minder atau malu apabila pencapaiannya lebih rendah dari orang lain. Untuk mengatasi hal tersebut, kita dapat fokus pada jalur atau alur kita sendiri. Dengan mindset melihat diri kita pada masa lalu dan berusaha menjadi lebih baik di masa depan. Berikutnya adalah dengan meningkatkan kompetensi diri, peningkatan ilmu pengetahuan dan skill upgrade, karena rasa percaya diri itu muncul jika kita mampu menguasai suatu hal yang kita inginkan.
Adapun pandangan Islam menanggapi Gen-Z yang terkena penyakit-penyakit mental seperti di atas sangat banyak. Kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama, tasawuf khususnya, mengajarkan banyak sekali cara menjaga diri dari penyakit-penyakit hati. Seperti kitab Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali, namun di sini kita akan memilih beberapa metode yang dapat kita coba. Pertama, qana’ah, sikap merasa cukup atas pemberian Allah atas apa yang sudah kita miliki. Dengan pandangan ini dapat membantu kita untuk meminimalisir penyakit fomo dan kehilangan rasa percaya diri, karena kita sudah merasa cukup dan tentunya sadar akan apa yang sudah kita miliki. Kedua, muhasabah atau evaluasi diri. Ini sering dilakukan ulama-ulama terdahulu untuk merenung dan menimbang diri atas kejadian yang terjadi. Ini dapat meningkatkan nilai spiritual kita dan tentunya baik untuk menjaga mental kita agar selalu terjaga dari pikiran negatif.
Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa Gen-Z masih punya kesempatan untuk sembuh dari penyakit mental down, baik secara self-improvement maupun secara islami , dan tentunya ada banyak cara lebih dari yang sudah tercantum di atas. Semoga kita dapat menjadi lebih baik lagi, karena secara tidak langsung kita adalah generasi penerus Islam dan negara. Wallahu ‘a’lam.
Penulis : M. Rosyid Syahputra, Santri Pondok Pesantren Mansajul Ulum










