Menu

Mode Gelap

Kolom Jum'at · 18 Sep 2026 15:38 WIB ·

Mengapa Logis Dianggap Benar?


 Mengapa Logis Dianggap Benar? Perbesar

KOLOM JUMAT CLIX
Jumat, 18 September  2026  

Seumur hidup pengetahuan manusia, logika telah bertengger sebagai hakim tertinggi kebenaran di samping empirisme sebagai penguji kebenaran dalam realitas fisik, sesuatu yang bertentangan dengan logika diadili dengan menyematkan status salah pada hal tersebut. Namun, ketika bertanya apa yang menyebabkan logika menjadi barometer kebenaran? Seratus persen jawabannya adalah sebuah jalan buntu mengingat manusia mengangkat logika sebagai hakim kebenaran bukan karena mereka  mengetahui bahwa logika itu benar secara mutlak melainkan karena tidak menemukan metode lain yang lebih baik dari logika.

Masalah Penalaran Melingkar

Jika ditelisik, pembuktian kebenaran logika seperti hukum non-kontradiksi ataupun hukum yang lain selalu akan terjebak dalam masalah penalaran melingkar, salah satu dari kesalahan logika itu sendiri. Untuk membuktikan bahwa logika itu benar adanya, diharuskan menggunakan aturan main logika itu sendiri dalam proses pembuktian kebenarannya.

Pernyataan mengapa seseorang tidak bisa di dalam sekaligus di luar rumah pada saat bersamaan (hukum non-kontradiksi) adalah benar karena tidak menabrak aturan logika. Jika ditarik lebih dalam, muncul pertanyaan “Kenapa suatu hal yang tidak menyalahi aturan logika adalah kebenaran?”, di sinilah letak celah pada metode logika karena logika adalah tolak ukur kebenaran teoritis itu sendiri. Pada akhirnya muncul penalaran melingkar di mana aturan logika dibenarkan oleh logika itu sendiri.

Logika Sebagai Titik Henti

Dalam kisah masyhur Turtles All the Way Down terdapat konsep regresi tak terhingga, hal itu terjadi ketika kita berusaha untuk mencari kebenaran hingga pada akar rumputnya untuk mencoba membuat suatu kesimpulan atau argumen menjadi lebih solid tetapi justru berakhir dengan serangkaian penjelasan tak terhingga tanpa sebuah argumen final. Dengan kata lain, tidak ada satupun tempat di mana kita berhenti mencari tahu mengapa segala sesuatu terjadi dengan cara tertentu.

Dilema tersebut juga bertengkar di dalam aturan logika, jika kita menolak logika sebagai titik henti dan menuntut argumen pendukung logika, kita adakan berada dalam kondisi kontradiksi performatif karena dalam pembuktian diperlukan aturan penalaran dan pembedaan status benar dan salah, di saat itulah sebenarnya kita juga sedang menggunakan aturan berlogika. Dilema ini membuat kita berpikir tentang keberadaan suatu landasan absolut yang tidak membutuhkan argumentasi lebih lanjut. Mungkin memang tidak ada karena logika – landasan berpikir yang digunakan selama ribuan tahun umur manusia – juga masih memiliki celah, mau tidak mau kita harus menerima logika sebagai titik henti sebagai batas kemampuan berpikir.

Argumen Aksiomatik

Saat penalaran dipaksa untuk mundur terus menerus proses tersebut terpaksa untuk dihentikan agar tidak terjadi regresi tak terhingga, hal tersebut menyebabkan penggunanya menyatakan bahwa logika memang benar karena dirinya sudah jelas secara independen dan menjadi dogma umum yang diterima berdasarkan kesepakatan bersama. Dalam konsep logika murni, argumen aksiomatik ini adalah sebuah kecacatan karena telah menyelipkan kepastian tanpa penalaran. Artinya, logika yang selama ini diyakini oleh masyarakat ataupun para pemikir sebagai tolak ukur kebenaran yang objektif justru adalah hal yang bersifat subjektif karena disepakati berdasarkan keyakinan bersama dan bukan pada apa yang benar.

Apakah Logika Masih Layak Dipertahankan?

Jawaban atas beragam masalah di atas bukanlah “iya” karena logika itu sempurna, melainkan dia adalah pisau bedah yang paling pas secara fungsi yang kita miliki saat ini. Kita sedang berada di dalam jebakan setan, untuk meruntuhkan logika, kita terpaksa menggunakan metode logika itu sendiri, sebuah kekalahan telak atas pengetahuan kita sendiri yang tidak dapat dihindari. Jika kita menghapuskan logika secara total, maka gagasan tentang benar-salah, tidak masuk akal, atau gagasan runtut juga akan runtuh seketika, akhirnya tersisalah kekacauan berbahasa dan komunikasi.

Logika mungkin tidak dapat dibuktikan kebenarannya dari sudut pandang metafisika murni, tetapi logika terbukti secara realistis di medan lapangan. Peradaban, sains, hukum, ataupun yang lain dapat berdiri kokoh bukan karena logika memiliki pondasi yang juga kokoh, melainkan logika dapat menyelesaikan berbagai masalah secara konsisten.

Dengan mencari celah pada logika, pada akhirnya kita justru semakin memperjelas batas kemampuan berpikir manusia. Kita menyadari bahwa logika ternyata bukan sebuah kebenaran absolut tapi sebuah kacamata yang disediakan otak agar kita dapat memahami dan memproses berbagai pengetahuan secara konsisten dan terstruktur. Mempertahankan logika meski mengetahui kecacatannya bukanlah sebuah kebodohan, tapi sebuah kerendahan hati. Logika mungkin bukanlah hakim maha benar, tetapi tanpanya kita akan tenggelam dalam jurang kehampaan tak berarti. Wallahu ‘alam.

Oleh: Muhammad Arul Efansah, Redaktur EM-YU.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 249 kali

Baca Lainnya

Rekayasa Genetika dan Syariat: Analisis Hukum Xenotransplantation

4 September 2026 - 15:25 WIB

Ultra-Processed Food, Kawan atau Lawan?

21 Agustus 2026 - 13:14 WIB

Jebakan Paylater: Kebanyakan Hutang Langsung Kena Diabetes Finansial

7 Agustus 2026 - 15:07 WIB

Hikmah yang Tersembunyi di Balik Rukuk dan Sujud

24 Juli 2026 - 15:02 WIB

Benarkah Sholat Dapat Mencegah Perbuatan Mungkar?

10 Juli 2026 - 13:01 WIB

Menemukan Tradisi Ulama di Negeri Tirai Bambu 

26 Juni 2026 - 16:37 WIB

Trending di Kolom Jum'at