Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang secara umum berfokus kepada pengembangan santri dalam bidang ilmu agama dan karakter moral. Maka di dalam pesantren tentu tidak bisa terlepas dari yang namanya transfer of knowledge atau kegiatan pengajaran.
Dalam konteks pedagogis, pesantren sejatinya memiliki metode pengajaran yang unik sekaligus klasik. Yaitu metode pengajaran sorogan dan bandongan. Kedua metode ini telah bertahan selama ratusan tahun yang lalu. Sehingga kedua metode ini seakan sudah mengakar kuat dan menjadi salah-satu ciri khas dari eksistensi Pendidikan pondok pesantren.
Secara deskriptif, bandongan merupakan metode pengajaran di mana guru aktif menjelaskan atau membacakan materi yang disampaikan, sedangkan santri mendengar sekaligus mencatat secara kolektif. Metode ini yang paling sering digunakan di dalam pesantren. Terkhusus pesantren-pesantren salaf yang sudah memiliki ribuan santri. Karena metode ini sangat sesuai untuk pembelajaran yang bersifat kolektif.
Sedangkan, sorogan merupakan metode pembelajaran di mana santri lebih aktif menyampaikan materi yang dipahami, kemudian guru akan mendengarkan sekaligus mengoreksi pemahaman santri. Sehingga santri mendapatkan bimbingan secara individual dari guru. Metode ini sering digunakan dalam konteks kajian seperti Qiraatul Kutub dan Qiraatul Qur’an.
Keberadaan kedua metode ini yang masih terus eksis di tengah zaman kontemporer, tentu tidak bisa terlepas dari efek keuntungan metode tersebut. Sehingga pesantren lebih memilih untuk mempertahankan pengajaran klasiknya. Hal ini terjadi karena metode bandongan dan sorogan tidak hanya memberikan keuntungan bagi para santri saja, tetapi juga menguntungkan bagi para guru. Mengapa demikian, karena metode ini dapat memberikan transmisi keilmuan secara langsung dari guru ke murid. Sehingga metode ini dapat memperdalam pemahaman wawasan para santri.
Sedangkan keuntungan bagi guru mereka dapat memiliki lebih banyak kesempatan murajaah atau review materi yang telah mereka pelajari, serta melatih skil mengajar kepada santri. Sehingga guru bisa belajar untuk menyampaikan materi yang runtut dan mudah di pahami oleh santri dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu metode ini dapat memberikan impact simbiosis mutualisme antara guru dan murid
Sementara itu metode bandongan ini secara tidak sengaja juga membangun disiplin komunal dan budaya literasi kolektif santri, dimana ritme belajar di gerakan secara bersama dalam satu frekuensi pembelajaran yang sama.
Sedangkan untuk metode sorogan, hal yang dapat menguntungkan bagi santri yaitu melatih skil menyampaikan materi secara jelas dan benar. Terkhusus dalam ilmu bahasa Arab. Seperti dalam pengajaran Qiraatul Qur’an dan kutub. Dimana para santri akan membacakan bacaanya kepada guru, dan sang guru akan memberikan koreksi dan catatan atas bacaan santrinya.
Sedangkan kebermanfaat metode ini bagi sang guru yang menyimak tentu mereka akan menganalisa lebih teliti dan kritis dalam mengoreksi materi yang disampaikan para santrinya. Hal tersebut sangat efektif untuk menguji kualitas pemahaman supaya santri bisa lebih menguasai apa yang telah disampaikan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode bandongan dan sorogan di pesantren memiliki benefit simbiosis yang saling menguntungkan. Dalam artian metode ini tidak hanya menguntungkan satu belah pihak saja, tetapi juga saling menguntungkan kedua belah pihak. Karena keduanya juga belajar tentang bagaimana mempraktekkan materi dengan baik dan memahami pemaparan materi dengan baik pula. Sehingga kedua elemen, antara guru dan santri sama-sama belajar dan saling memberikan keuntungan.
Oleh: Miftahus Shofi Kamal, Santri Ponpes Mansajul Ulum.










