Pahlawan tanpa tanda jasa, itulah istilah yang disematkan kepada guru. Istilah ini ditujukan kepada mereka bukan tanpa alasan, guru dinilai selalu menjadi garda terdepan dalam mengusir kebodohan dan pendorong kemajuan. Namun, sangat disayangkan sampai saat ini kesejahteraan mereka di Indonesia masih tergolong rendah, tergeser oleh program prioritas pemerintah yang tidak lebih penting bagi kemajuan pendidikan. Dari pandangan seorang murid sekaligus santri, problem ini merupakan masalah serius dimana guru yang seharusnya mendapat jaminan kesejahteraan hidup karena telah mendidik bangsa justru dikesampingkan oleh negara yang lebih memilih proyek dengan anggaran jumbo yang masih diragukan keberhasilannya.
Alasan mengapa kehidupan guru di Indonesia masih dikatakan belum sejahtera adalah karena gaji yang diterima seorang guru khususnya guru honorerpada tahun 2026 masih berkisar antara Rp.300.000 – Rp.1.500.000 per-bulan, sementara itu gaji UMR terendah yang didesain untuk sekedar bertahan hidup berada pada kisaran Rp.2.300.000, padahal beban moral yang berada di pundak guru lebih berat dibandingkan dengan karyawan biasa. Selain itu, mengutip dari Detik Finance, standar gaji ideal untuk hidup di selain kota besar biasanya berkisar antara Rp.5.500.000 – Rp.8.500.000 per-bulan untuk skala keluarga kecil, sementara untuk gaji individu standar idealnya berada di rentang Rp.3.500.000 – Rp.5.000.000 per-bulan, angka ini memang dihitung lebih tinggi dari upah minimum regional karena mencakup tabungan pensiun, dana darurat dan kebutuhan sosial, bukan hanya sekedar bertahan hidup.
Ini adalah bukti data bahwa gaji guru honorer masih belum bisa dikatakan sanggup untuk sekedar bertahan hidup apalagi menyejahterakan kehidupan mereka. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap stabilitas kehidupan mereka, sehingga mau tidak mau mereka harus mencari pekerjaan sampingan untuk menutupi kekurangan finansial yang ada, hal itu terbukti dalam data dari Detik Finance dimana sebanyak 55,8% guru terpaksa mengambil pekerjaan sampingan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Tidak hanya dalam tinjauan finansial, dari sisi psikologi guru juga memiliki beban tanggung jawab pekerjaan yang berat sehingga seringkali menimbulkan stres. Mengutip dariJurnal Bersama, tingkat resiko stres yang dialami guru berkisar 30,27% untuk kategori stres kerja berat, 48,11% untuk kategori stres kerja sedang, 21,62% untuk kategori stres kerja ringan, ada juga catatan studi lain yang mencatatkan hingga 87% untuk kategori stres sedang. Adapun untuk penyebab stres yang dialami ada bermacam-macam, namun dari Kemendikdasmen memaparkan bahwa penyebab stres guru didominasi oleh lingkungan pendidikan, bisa karena jam kerja padat yang berada pada kisaran 24 – 40 jam per-minggu, beban administratif, kesulitan dalam menyeimbangkan waktu kerja dan kehidupan pribadi.
Kompilasi dari berbagai masalah di atas membuat banyak guru mengalami kelelahan emosional (burnout), hal ini dapat menurunkan motivasi mereka untuk mengajar dan juga menurunkan kualitas interaksi guru dengan murid. Berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan pada awal tahun 2026, guru sekolah dasar di Indonesia menghabiskan lebih dari 40% waktu kerja mereka hanya untuk mengurus dokumen dan urusan administratif di luar kegiatan mengajar, hal ini memberikan dampak yang signifikan terhadap psikologi mereka, tingginya beban kerja dalam pendidikan dan administratif berdampak langsung terhadap peningkatan resiko stres. Selain itu, kurangnya dukungan dan apresiasi dari orang sekitar yang juga membuat motivasi mereka untuk mengajar menurun.
Dapat kita simpulkan, kesejahteraan guru di Indonesia ternyata belum mencapai tingkat standar karena terbukti oleh minimnya pendapatan yang berbanding terbalik dengan beban stres yang tinggi. Dengan kacamata ini, pemerintah seharusnya dapat serius mengambil langkah bijak dalam mengambil keputusan mengingat jasa mereka dalam mencerdaskan anak bangsa.
Oleh: Muhammad Rosyid Saputra, Santri Mansajul Ulum










