Menu ✖

Mode Gelap

Cerpen · 25 Sep 2026 09:51 WIB ·

Air Mata di Balik Pena


 Air Mata di Balik Pena Perbesar

Namaku Farel, atau setidaknya begitulah orang-orang memanggilku. Di usiaku yang menginjak tujuh belas tahun, aku menjalani hari-hari sebagai seorang santri di salah satu pondok pesantren di tanah surabaya. Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang sederhana di Kota Padang, tempat ke mana rinduku selalu bermuara di sana bersama orang yang istimewa.

Suatu hari, waktu liburan tiba. Aku berkesempatan pulang ke tanah kelahiranku. Malam itu, jarum jam telah menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Suasana begitu sunyi, hanya nyanyian jangkrik yang terdengar bersenda gurau dengan angin malam pada kala itu. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, aku masih terjaga, merangkai kata demi kata untuk menyelesaikan naskah novelku. Namun, keheningan yang menenangkan itu mendadak pecah, mengubah malamku menjadi salah satu malam yang paling menyakitkan seumur hidupku.

“Farel! Malam-malam begini bukannya tidur malah bergadang tidak jelas. Bikin boros listrik!” Suara lengkingan Ibu menggelegar bersamaan dengan pintu kamarku yang didorong kasar. “Kerjaanmu cuma coret-coret kertas, terus apa gunanya?!”

Aku menunduk takzim, menahan debar jantung yang mendadak kencang. “Maaf, Bu, Farel cuma lagi nulis naskah novel, sedikit lagi selesai, Bu,” jawabku sepelan mungkin.

Ibu mendengus sinis. “Novel, novel terus! Otakmu itu sudah tercuci sama khayalan kosong! Coba kamu lihat anak Pak RT, baru saja lulus pesantren langsung bisa bantu kerja di kantor kelurahan. Dapat gaji tetap setiap bulannya. Lah, kamu? Badan kurus, kering kerontang kayak lilin, kerjaannya melamun sambil nulis cerita fiksi. Bikin malu keluarga saja!”

Tak berselang lama, derap langkah kaki lain terdengar mendekat. Ayah, yang sepertinya baru saja menyelesaikan salat tahajudnya, ikut masuk ke kamarku dengan wajah memerah menahan amarah.

“Ada apa lagi ini malam-malam kok ribut?!” sahut Ayah memotong suasana tegang itu.

“Ini lho,Yah. Anakmu, dibilangin malah membangkang,” adu Ibu.

“Dia bilang mau jadi penulis terkenal. Penulis apaan kalau makan saja masih minta sama orang tua! Kalau kamu terus-terusan begini, berhenti saja jadi santri! Habis-habisin uang saja!”

Mataku mulai berkaca-kaca. Hatiku terasa amat perih. “Ayah, Ibu… Farel tidak pernah meminta uang pondok buat foya-foya. Farel hemat uang jajan buat ditabung. Farel cuma ingin bikin Ayah dan Ibu bangga lewat jalan tulisan ini.”

Bukannya luluh, raut wajah Ayah justru semakin geram. Beliau melangkah maju, merampas kertas-kertas naskahku dari atas meja, lalu meremasnya tanpa ampun di depan mataku.

“Bangga?! Pakai apa bangganya? Kertas buram ini? Punya otak enggak kamu, Farel!” bentak Ayah. “Ternyata semua uang yang Ayah berikan selama ini kamu gunakan untuk beli kertas ini! Farel, sadar dirilah jadi anak. Kamu itu layaknya anak beban, yang kerjaannya sakit-sakitan terus. Semisal nanti kamu tiba-tiba pingsan atau bahkan mati di kamar, kami kan yang akan repot!”

Jantungku seakan dihantam oleh batu. Dadaku terasa begitu sesak. Aku ingin berteriak detik itu juga, mengatakan bahwa selama ini aku menabung uang jajan bukan untuk membuang-buang kertas, melainkan untuk biaya menebus obat-obatan rutinku. Jika aku sampai lupa meminumnya, akibatnya pada tubuhku akan sangat fatal. Namun, tak ada satu patah kata pun yang mampu keluar. Terpaksa kutelan mentah-mentah rasa sakit itu.

“Baik, Pak. Maafin Farel, Farel memang anak yang tidak berguna buat kalian,” ucapku bergetar.

Setelah Ibu dan Ayah memalingkan wajah lalu keluar dari kamar, aku segera mematikan lampu. Aku berbaring di atas kasur dalam kegelapan yang terasa lebih pekat dari biasanya. Kupeluk bantal erat-erat, menangis tanpa suara demi menahan kepedihan di hati dan rasa sakit yang mulai menusuk-nusuk di bagian kiri perutku.

Liburan telah usai, dan aku kembali ke rutinitasku semula. Suasana pesantren berjalan seperti sediakala. Tepat pada siang hari yang terik, aku duduk sendirian di bangku panjang di bawah pohon yang rindang. Di atas pangkuanku bertengger sebuah buku dan pulpen yang selalu setia menemaniku. Hatiku termangu, memikirkan rentetan kepahitan hidupku selama ini, lalu perlahan menuangkannya ke dalam lembaran kertas. Entah mengapa, selalu saja ada orang yang tidak menyukai keberadaanku, padahal aku terus berjuang mati-matian demi kelangsungan hidupku, bahkan mereka.

“Wihhh… lihat nih, kawan-kawan. Sang pujangga galau kita lagi merenung. Mau bikin puisi cinta buat siapa, Rel?” ejek Azka, salah seorang teman sepondokku yang tiba-tiba datang menghampiri.

“Hahaha… jangan salah, Ka,” sahut temannya, Ahtar, menimpali.

“Siapa tahu dia lagi berkhayal jadi penulis terkenal. Padahal umurnya sudah tua tapi masih saja duduk di kelas 8!”

Aku menghela napas, berusaha menahan sabar. “Azka! Ahtar! Aku lagi pengen sendirian dulu, jangan ganggu!”

Namun Azka justru tertawa meremehkan. Dengan kasar, ia merampas buku dari pangkuanku. “Widiiihhh, keras banget dah orang ini. Ayo kita baca ceritanya!” Ia mulai membaca tulisanku dengan nada mengejek yang dibuat-buat.

‘Matahari tenggelam membawa luka yang tak pernah diobati oleh kata-kata’ “Hahaha, cemen banget dah orang ini!”

“Azka! Kembalikan buku itu… jangan rusak bukunya!” seruku panik.

Melihat keributan tersebut, kang Jalla, salah satu santri senior, segera menghampiri dan menghentikan kerumunan itu. “Ada apa ini kok ribut-ribut tidak jelas?!” tegurnya tegas.

“Eh, Kang. Enggak, Kang, ini cuma lagi bercanda sama Farel, biar dia…” Ahtar mencoba berkilah.

“Hah! Bercanda kau bilang?!” potong kang Jalla dengan suara membentak.

“Sampai bikin dia menangis?! Sekarang kalian kembalikan buku Farel… dan pergi ke kamar kalian! Jangan ganggu Farel lagi!”

Azka dan Ahtar yang ketakutan langsung melemparkan bukuku yang sudah sedikit lecek, lalu lari terbirit-birit pergi dari sana.

Kang Jalla menatapku prihatin. “Farel… kamu tidak apa-apa?”

Aku menyeka air mata yang sempat menetes. “Farel tidak apa-apa, Kang, makasih sudah menolong Farel.”

“Tetaplah menulis dengan niat karena Allah, Farel. Tapi ingat, kesehatanmu juga titipan yang perlu kamu jaga. Jangan sampai tubuhmu hancur sebelum impianmu tercapai,” nasihat kang Jalla lembut.

“Kang, kenapa terkadang Farel merasa tidak ada seseorang yang bisa menghargai Farel? Tidak ada yang percaya sama Farel.” tanyaku lirih.

Kang Jalla hanya tersenyum teduh sambil menepuk pundakku. “Sabar ya, Farel, tetap semangat menjalani kehidupan ini.”

***

Waktu terus bergulir. Aku terus berjuang melawan skenario penderitaanku dengan landasan kesabaran yang tersisa di tubuhku. Hingga akhirnya, doa-doaku menembus langit. Cita-citaku tercapai. Aku berhasil menjadi seorang penulis terkenal. Aku meraup banyak penghasilan dari karya-karyaku yang laris manis di pasaran.

Saat waktu liburan kembali tiba, aku memutuskan untuk memberanikan diri pulang ke rumah. Ini adalah waktu yang tepat, bungkusan hadiah terakhir dan pembuktian puncakku untuk kedua orang tuaku.

***

Sesampainya di ruang tamu rumah, aku melihat Ibu tampak sibuk melipat pakaian, sementara Ayah fokus menatap layar ponselnya. Tubuhku terasa sangat ringan, dan rasa nyeri di perutku semakin menjadi-jadi, namun kutahan sekuat tenaga. Dengan suara serak, aku mengucap salam.

“Assalamu’alaikum…“

Ibu menoleh dengan tatapan sinis yang sama seperti dulu, tanpa basa-basi. “Apa lagi tujuan kau pulang, Farel? Lalu apa yang kamu bawa itu? Apakah sampah kertas lagi? Atau kamu pulang mau minta uang jajan? Ayahmu baru saja bayar tagihan listrik, Nak!”

Aku tersenyum tipis. “Ibu, Ayah, Farel ke sini cuma mau kasih sesuatu buat kalian.”

“Kasih sesuatu?” Ayah mendengus kesal tanpa menoleh.

“Apa, mau kasih kita surat tunggakan pembayaran pondokmu?!”

Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku melangkah maju dan meletakkan satu amplop besar serta dua amplop kecil di hadapan mereka. “Ini, hasil dari novel Farel yang sudah diterbitkan, Ayah, Ibu.”

Ayah meraih amplop besar itu dan membukanya. Matanya seketika terbelalak melihat tumpukan uang tunai di dalamnya.

“I… ini… uang apa, Farel? Kok… banyak sekali?” tanyanya dengan suara terbata-bata.

Ibu yang ikut melihatnya langsung terkejut dan panik. “Ya Allah, Nak! Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?! Kamu enggak lagi mencuri uang bank, kan?!”

Aku tersenyum getir, menatap wajah kedua orang tua yang sangat kusayangi. “Farel tidak pernah berbuat perbuatan seperti itu, Bu. Ini semua murni hasil jerih payah Farel selama ini, dari novel yang dulu Ibu bilang khayalan kosong. Dari kertas yang Ayah bilang bikin boros uang dan jadi sampah keluarga. Dan tiket di amplop kecil itu, Farel berikan untuk Ayah dan Ibu pergi umrah, berangkat satu bulan lagi.”

Ibu menutup mulutnya tak percaya. Air matanya perlahan menetes membasahi pipi. Ia menatap lekat ke arahku, menelusuri tubuh ringkihku dari atas ke bawah. “Umrah…?! Kamu belikan tiket pesawat untuk umrah? Tapi, kenapa dengan badanmu, Nak? Kenapa kamu kurus sekali? Kenapa kamu tidak pernah cerita kepada kami kalau selama ini kau menderita di pondok?!”

Napasku mulai tersengal. Pandanganku perlahan mengabur, namun aku harus menyelesaikan kalimatku.

“Bu, kalau Farel ngadu, Ibu cuma bakal bilang Farel cengeng. Kalau Farel bilang sakit, pasti Ayah cuma bilang Farel cari-cari alasan buat minta uang, Farel menahan semuanya sendiri, karena Farel hanya ingin buktikan, kalau anak yang selalu kalian salahkan ini, bisa membanggakan kalian.”

Setelah kalimat terakhir itu terlepas dari bibirku, pertahananku runtuh. Tubuhku ambruk menghantam kerasnya lantai ruang tamu. Sayup-sayup kudengar jerit histeris Ayah dan Ibu, disusul kehangatan pelukan mereka yang diiringi isak tangis penyesalan yang menghancurkan relung hati.

Namun segalanya telah usai. Rasa sakit di perutku perlahan menghilang. Di detik pembuktian terbesarku, aku menghembuskan napas terakhir, memejamkan mata untuk selamanya dengan tenang, karena aku tahu, aku telah berhasil membanggakan mereka.

Karya: Muhammad Alif, Santri Mansajul Ulum.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 29 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pahlawan yang Diremehkan

28 Agustus 2026 - 15:25 WIB

Surat Terakhir dari Ayah

31 Juli 2026 - 13:16 WIB

Mengeja Ulang Peta Takdir

3 Juli 2026 - 12:57 WIB

Penyakit

5 Juni 2026 - 13:03 WIB

Jaga Alam Kita

8 Mei 2026 - 12:35 WIB

Ibu dan Tiga Kurcaci

10 April 2026 - 09:52 WIB

Trending di Cerpen