Deburan ombak menghantam keras karang di tepian pantai, memecah keheningan yang tercipta. Matahari yang kini mulai tergelincir ke ufuk barat menciptakan rona senja yang elok dipandang. Seperti salah seorang gadis penikmat senja yang tengah duduk di atas pasir pantai putih, ia terus menatap kagum ke arah senja.
Namun dalam sekejap tatapan mata kagum itu berganti tatapan sendu dan hembusan napas gusar yang mulai terdengar keluar dari mulutnya. Matanya tak lepas dari senja yang akan segera menghilang. Kedua belah bibirnya bergetar, matanya yang indah kini berlinang air mata. Bibirnya bergetar terus menggumamkan kata ‘Ayah’ yang sekarang tak akan pernah kembali.
“Ayah, andai Ayah di sini, dunia Namira pasti lebih tertata,” gumamnya lirih.
“Aku rindu Ayah. Aku ingin memutar kembali waktu agar bisa terus bersama Ayah,” gumamnya lagi.
Air matanya turun semakin deras, ingatannya memutar kembali kejadian-kejadian di masa lalu seperti kaset rusak.
***
Seorang laki-laki paruh baya dengan badan tegap tinggi, tengah menatap senja ditemani kesunyian. Dari arah belakangnya netra seorang gadis kecil berusia 12 tahun tengah menatap punggung tegap yang ada di depannya. Ada sedikit rasa tak terima jika pemilik punggung tegap itu harus pergi jauh dari jangkauannya.
Pria itu menoleh kala ia merasa terus diperhatikan. “Namira? Ngapain di situ? Sini temani Ayah,” ucap pria itu.
“Kenapa Ayah harus pergi?” Bukannya mendekat, gadis itu justru malah bertanya. Sang Ayah mengangkat sebelah alis nya demi mendengar pertanyaan putrinya.
“Kamu ini bicara apa, Namira? Ayah itu bekerja untuk kamu, ibu, kakak,dan juga adik,” balas pria itu dengan lembut.
Namira berjalan perlahan mendekati sang Ayah, menatapnya dengan tatapan yang berkaca-kaca. Ayah membungkuk guna mensejajarkan tinggi badannya dengan Namira, ia usap pula kepala Namira dengan lembut. “Ayah harus kembali bertugas Namira, doakan saja Ayah tidak akan lama, dan segera kembali dengan selamat,” tutur Ayah pelan.
“Tapi kenapa harus laut?” tanya Namira dengan suara yang bergetar.
“Karena ini sudah menjadi bagian dari tugas Ayah untuk menjaga perbatasan laut yang Ayah emban. Sesuai dengan sumpah dan dedikasi Ayah sebagai seorang tantara angkatan laut. Maka di setiap langkah yang Ayah ambil, sudah menjadi jalan yang talah ditentukan oleh Allah. Entah Ayah akan kembali dengan selamat atau justru Ayah harus syahid dalam misi menjaga dan mempertahankan hak kaum yang lemah dan tak berdaya.”
Ayah kembali menegakkan punggungnya, menatap senja yang akan segara menghilang. Namira duduk di atas pasir dengan memeluk kedua lutut seraya menggigit bibir bawah guna menahan tangisnya. Ayah kemudian menyusul di sampingnya, hingga keduanya kini duduk bersisian menatap hamparan laut luas dalam keheningan.
“Boleh Ayah tanya sesuatu?” Ayah memulai pembicaraan.
Gadis itu tak menjawab, tatapan matanya tertuju pada hamparan ombak di hadapannya.
“Ayah mau tanya, kalau Ayah naik pangkat, apa Namira bakal bahagia?” tanya Ayah tanpa menoleh.
“Aku nggak butuh pangkat, Ayah. Aku cuma butuh Ayah.” Ucapan Namira berhasil membungkam mulut Ayah. Namun setelahnya Ayah tersenyum kecil mendengar jawaban putrinya.
“Namira, Ayah percaya kalau kamu itu gadis yang kuat dengan atau tanpa Ayah. Jadi, kalau Ayah tidak ada kamu harus sekuat dan setegar karang. Walau ia diterjang ombak laut yang besar, dia tetap kuat dan kokoh dalam menghadapi terpaan dan amarah ombak setiap saat. Kamu juga harus seperti karang itu, harus kuat dan kokoh dalam menghadapi semua masalah dan cobaan yang diberikan kepadamu. Walau itu membuatmu sakit dan terluka tak apa, kamu boleh menangis, boleh beristirahat sejenak, tapi setelah itu kamu harus kembali bangkit.” Ayah menatap putri tengahnya itu dengan tatapan dan senyuman yang lembut.
“Dan untuk minggu depan Ayah mau minta maaf, maaf jika Ayah tidak datang di hari ulang tahunmu yang ke 13, tapi Ayah ada kado spesial buat kamu, nanti Ayah kasih saat Ayah pulang bertugas tidak apa-apa? Sekarang Ayah pamit, Ayah harus pergi besok pagi.” Ayah mengusap puncuk kepala Namira dengan sayang, air matanya dengan cepat meluru dan dengan cepat tubuhnya tertarik dalam rengkuhan hangat sang Ayah.
Gadis penikmat senja itu menutup erat mata seraya menggigit bibir bawahnya kuat, pundaknya kini juga turut naik turun dan isakannya mulai terdengar dengan jelas.
Angin kencang dan ombak yang cukup besar, menghantarkan kelebat masa lalu yang menyakitkan. Jeritan dan tangisan memilukan terdengar memasuki indra pendengarannya.
“Nggak! Ayah! Ayah nggak mungkin ninggalin aku!! Ibu! Ayah aku, Bu!” jerit Namira yang ada dalam pelukan sang Ibu.
Kapal tempur tentara Angkatan Laut Dirgantara 031 telah diserang di tengah laut, yang mengakibatkan kapal kehilangan kendali dan tenggelam ke dasar laut. Tak banyak awak kapal yang selamat, justru hampir seluruh tentara dan awak kapal dinyatakan tewas dan dalam pencarian. Salah satunya adalah Letnan Kolonel Arya Adinata Ayah dari Namira.
Letnan Kolonel Arya Adinata, dinyatakan hilang, sampai pada pencarian hari Ketiga, tepat pada tanggal 31 Oktober Letnan Kolonel Arya Adinata ditemukan tewas mengenaskan, dengan banyaknya peluru yang masih bersarang di beberapa bagian tubuhnya, tangan kanannya patah, salah satu matanya hilang dengan ditandai satu matanya terlihat cekung, tangan kanannya terlihat memeluk sebuah kotak kayu yang tak terlalu besar bertuliskan nama Namira.
Jerit dan tangis pilu dari keluarga mengiringi prosesi pemakaman sang Letkol Angkatan Laut itu. Namira gadis kecil berusia 12 tahun yang tepat hari ini, hari saat sang Ayah ditemukan. Sedang berulang tahun yang ke 13. Gadis kecil itu memeluk erat kotak kayu yang ditemukan oleh tim evakuasi.
Kotak kayu tersebut berisikan surat terakhir dari Ayah, serta kotak beludru berisi kalung berbandul ukiran ombak di sebelah kanan surat, sedangkan di sebelah kiri surat terdapat sebuah bingkai foto keluarga yang mereka ambil dua bulan lalu saat sang Ayah pulang bertugas.
***
Assalamualaikum
Dear anak Ayah, Namira
Nak, selamat ulang tahun, semoga putri Ayah yang satu ini selalu dijaga Allah, selalu bahagia, dan selalu kuat dalam menghadapi semua masalah dan cobaan saat kamu telah memasuki dunia remaja dan dewasamu.
Nak, jika suatu saat Ayah harus gugur dan syahid dalam mengemban tugas mulia menjaga dan mempertahankan hak kehidupan rakyat kecil, janganlah kamu berlarut dalam kesedihan yang mendalam, tetap bahagia dan lanjutkan hidupmu dengan atau tanpa Ayah. Karena Ayah percaya kamu itu kuat, tangguh, dan setegar karang yang ada di laut. Ingat pesan Ayah tadi saat di pantai?
Kamu harus sekuat dan setegar karang, walau ia diterjang ombak laut yang besar, dia tetap kuat dan kokoh dalam menghadapi terpaan dan amarah ombak setiap saat. Kamu juga harus seperti karang itu, harus kuat dan kokoh dalam menghadapi semua masalah dan cobaan yang diberikan kepadamu suatu saat, walau itu membuatmu sakit dan terluka tak apa, kamu boleh menangis, boleh beristirahat sejenak, tapi setelah itu kamu harus kembali bangkit.
Maaf jika di hari ulang tahunmu, hari bahagiamu, Ayah justru harus kembali bertugas dan itu selalu terjadi setiap tahun. Untuk tahun depan insyaallah akan Ayah usahakan untuk meminta cuti di tanggal 31 Oktober.
Untuk sementara, kado spesial ini saja dulu yang sampai. Ayah akan kembali secepatnya. Doakan saja Ayah cepat pulang ya.
Kamu tau? Ayah dulu pernah kecewa karena tak memiliki satupun anak laki-laki, dan tak ada yang bisa meneruskan karir Ayah sebagai seorang abdi negara. Tapi kalian berhasil mematahkan kekecewaan Ayah. Ayah beruntung memiliki tiga anak perempuan yang kuat dan pandai. Termasuk Namira, kamu berhasil membuat Ayah kagum karena sikap dewasa yang kamu miliki. Jujur, Ayah kurang tahu tentang kalian bertiga, hampir segalanya tentang kalian bertiga Ayah tahu dari Ibu yang setiap minggu mengirim surat ke tempat Ayah bekerja. Tentang keseharian, tingkah lucu, dan kelakuan nakal kalian yang membuat Ibumu hampir setiap hari mengomel.
Nak, kamu adalah anak yang penurut dan untuk kali ini Ayah ingin kamu bebas memilih apa yang kamu mau.
Sudah cukup kamu menjadi seekor kepompong, saatnya kini kamu tunjukkan kepakan sayap indahmu.
Jika kamu keberatan, katakan kamu keberatan. Jika kamu tak mau, katakan kamu tak mau. Jangan jadi orang yang gak enakan.
Ayah akan terus menemani kamu. Sampai kapanpun, mau sedewasa apapun, kamu akan tetap menjadi putri kecil Ayah.
Salam sayang dari Ayah.
Tertanda
Letnan Kolonel Arya Adinata.
***
“Ayah, maafkan Namira, maaf jika sampai saat ini Namira belum bisa mematuhi beberapa permintaan Ayah di bagian aku yang harus bebas, dan Namira juga sangat sulit untuk ikhlas, tapi insyaallah Namira akan ikhlasin Ayah. Namira janji akan jadi lebih kuat dari sebelumnya.” Gadis dengan gamis ungu dan jilbab berwarna senada itu kini mulai bangkit.
“Ayah, Namira kini akan mulai bangkit dari keterpurukan. Namira yang dulu patah akan kembali pulih. Karena Namira ingat dengan pesan dalam surat terakhir Ayah. Aku harus tetap kuat walau depresi dan trauma terus menghampiri. Aku harus tetap perkasa dalam menghadapi dunia yang tak ada usai dengan candaannya yang kejam,”
Rona indah senja telah digantikan oleh taburan kerlipan Bintang. Gadis itu terus menatap hamparan laut luas, meski dalam lubuk hati yang paling dalam masih ada harapan sang Ayah keluar dari laut dan memeluk putrinya. Sekarang gadis itu tahu bahwa Ayah ingin mengabdi dan setia menjaga laut. Seperti ikrar yang ia lakukan untuk tetap menjadi abdi laut yang setia.
Sekarang jiwa Ayah telah tenang dan bahagia dalam pelukan laut luas. Gadis itu tersenyum, tangannya terulur ke arah leher jenjangnya yang tertutup hijab yang ia kenakan, menyembunyikan kalung berbandul ukiran ombak yang menggantung di lehernya.
Gadis itu berbalik, meninggalkan bibir pantai, meninggalkan seluruh kenangan yang pernah tercipta di sana. Cerita telah usai, buku pun tertutup, dengan segala kisah Ayah, selamat telah abadi dalam tulisan Namira, dan selamat menjalankan tugas menjaga lautan.
Karya: Purple_Na, Santri Mansajul Ulum.










