Kicauan burung terdengar bersahut-sahutan di ranting-ranting pohon yang berdiri di gunung yang luas, seolah-olah mereka saling bertukar cerita atas keadaan yang dialaminya. Ditambah suara gemericik air sungai yang mengalir di bawahnya membuat indahnya surga seperti pindah di sana. Tak jauh dari sungai tersebut, sebuah bangunan yang kokoh berdiri di sana. Tidak besar dan kecil, tapi orang yang memandang dan memasukinya akan senang. Bangunannya terbuat dari kayu-kayu tua dengan ukiran yang indah.
Tertulis di sana tulisan besar berkata, “Padepokan Chandra Dimuka”. Padepokan ini dikenal sebagai padepokan untuk menempa seseorang agar bermental baja, tahan banting, dan bersikap kesatria. Di sini seseorang akan belajar menjadi kepribadian diri sendiri. Diajarkan berbagai ilmu agama, ilmu sosial, bela diri, dan banyak lainnya. Padepokan ini diasuh seseorang sepuh bernama Ki Paraba. Seseorang yang berhati lembut, baik, dan berwibawa. Ia mengelola padepokan tanpa mengharapkan imbalan. Menerima terbuka semua orang yang ingin belajar di sana.
Padepokan Chandra Dimuka telah menghasilkan banyak tokoh hebat yang menjadi orang penting di luar sana. Tapi sayangnya, Padepokan Chandra Dimuka ini belum mendapat penerus untuk meneruskan Ki Paraba. Hingga suatu waktu,
“Kalian, Nak. Contoh Nata dan Arya, mereka telah menjadi diri sendiri, mereka telah menguasai bela diri tinggi di usia terbilang muda, mumpuni dalam ilmu sosial dan paham soal agama. Suatu saat semoga padepokan ini mereka teruskan.” Ki Paraba bicara, sambil memandangi anak asuhnya yang belajar padanya.
Nata dan Arya menunduk ketika namanya tadi diucapkan gurunya. Siapa yang tidak kenal mereka, bibit muda Chandra Dimuka yang hampir telah menguasai ilmu sang guru. Di usia terbilang muda mereka menjadi orang kepercayaan dalam mengurus padepokan dan di luar padepokan, murid kesayangan Ki Paraba dari murid-murid lebih tua lainnya.
Tapi dari sekian banyak orang di Chandra Dimuka, hanya satu orang yang tidak terima dengan semua itu. Pasalnya orang ini merasa lebih tua dari yang disebut gurunya, merasa bahwa dirinya yang pantas. Diam-diam dirinya merencanakan sesuatu yang jahat terhadap Arya dan Nata. Iri hati telah menguasainya hingga orang itu ingin membunuh mereka dan menyingkirkan mereka dari padepokan.
“Nata, Arya, tunggu saja arah mainku, kalian akan aku bunuh dan singkirkan dari padepokan. Nikmati dulu nama kalian yang dibangga-banggakan, hingga kalian nanti tidak akan menyadari telah terjerat dalam permainanku.” batin orang itu, wajahnya tersenyum sinis.
Dari omongan Ki Paraba tadi, semua orang di padepokan mendukung keduanya, berpecah dua kelompok antara ingin membela Nata dan Arya. Bersorak-sorak hanya mereka berdua yang pantas memegang padepokan. Lalu di situlah orang tinggi hati itu tersenyum mengetahui suasana pendukung, diam-diam dia mulai melakukan permainannya.
“Haha, Nata, Arya. Siaplah dengan permainanku.” Orang tersebut tersenyum palsu di tengah dukungan dan sorak-sorai.
“Hai, kalian sedang apa?” Terdengar ucapan seseorang di tengah sekumpulan orang yang berbincang-bincang.
“Wah, Nata, pas nih kita ngomongin kamu.” jawab salah satu orang.
“Lah, ngomongin tentang apa?” Nata mengambil posisi duduk.
“Iya, ngomongin tentang penerus padepokan, kami merasa bahwa kamulah yang mendudukinya.” ucap seseorang lain, umurnya terlihat lebih tua dari gerombolannya, dia semangat dalam bicara.
“Pantas gimana itu?” tanya Nata tersenyum.
“Ya pantaslah, kamu sudah jago banyak hal, dari mengolah masyarakat, paham agama, apalagi punya ilmu bela diri yang sangat hebat.” kelakar seseorang langsung dapat sorakan setuju semua orang. Nata geleng-geleng sambil tersenyum.
Lalu di kubu sebelah juga terlihat gerombolan banyak orang, suasana terlihat ramai dan panas. Sorak-sorai terdengar kencang.
“Tidak bisa, pokoknya kamu yang pantas, Arya.” Dengan nada menggebu-gebu orang tersebut bicara.
“Pantas apanya, Kang?” tanya Arya tak mengerti.
“Ah, kamu Ar. Kamu itu cocok menjadi penerus padepokan, ilmu sosialmu luas banget, kamu juga telah menguasai bela diri apalagi paham agama. Lalu kamu juga murid kesayangan guru. Itu semua cocok buat kamu memegang padepokan.” Nada orang itu masih menggebu-gebu, kalau dilihat usianya lebih tua dari Arya.
“Doakan saja, Kang Bagas.”
“Pasti, pasti Arya kudukung.” ucap keras seorang bernama Bagas yang langsung disoraki banyak orang. Arya tersenyum senang.
***
Di tengah semua orang padepokan yang saling mendukung mereka, ia menginginkan mereka tampuk kekuasaan. Tentu saja Nata dan Arya sama-sama berpikir ingin memegang padepokan. Pikiran itu tentu terlintas di kepala mereka masing-masing. Hingga keduanya yang dulu akrab dan selalu bersama terlihat sekarang renggang hubungannya, mereka sama-sama bersaing ingin merebutkan tanah padepokan, lalu dampak itu semua merusak kebersamaan mereka.
Seseorang yang dengki hatinya melihat perkembangan itu dengan senyum yang jahat, tak bersabar ingin memainkan mereka berdua. Dia tertawa bahagia karena hal itu akan membuat semua misinya mudah berhasil, untuk membunuh dan menyingkirkan mereka.
Suara ramai dan berisik membuat Nata menyingkir ke tempat lebih sepi, di sana dia diam merenungi hal yang terjadi akhir-akhir ini di padepokan. Dukungan dua belah pihak membuat hubungannya dengan Arya merenggang.
“Suasana ini tidak boleh membuat aku dan Arya merenggang, kami harus bersama lagi.” batin Nata berbicara.
Sekejap renungan Nata buyar ketika dia melihat langkah seseorang yang mendekat kepadanya, orang itu tergesa-gesa dalam melangkah.
“Aku beri kamu informasi, entah percaya atau tidak aku tidak mau buang-buang waktu, ini demi kebaikanmu. Seseorang yang menonjol di sana telah menjelek-jelekkan dirimu, dia juga ingin menyingkirkan kamu dari padepokan ini. Kuharap kamu mulai berhati-hati, karena dia mengatakan kamu tidak pantas di sini disetujui oleh teman-temannya.” ucap orang itu yang lebih tua dari Nata tersebut. Nata sekilas tahu namanya tapi tidak pernah bicara dengannya, dia masih bingung.
“Kamu tahu maksudku, kan?” tanya orang itu, Nata mengangguk.
“Tentu saja aku kenal dia.” pikir Nata.
“Itu saja, aku pergi dulu.” ucap orang itu sambil berlalu. Nata hanya memandangi kepergiannya. Informasi dari orang itu membuat dirinya kaget dan tak menyangka dengan semuanya, emosinya kalut antara marah dan bingung, pikirannya perang antara percaya dan tidak percaya. Dia menghembuskan napas kesal.
***
Di malam hari saat terangnya cahaya rembulan bersinar, seseorang duduk sendirian. Hal yang dilakukannya hanya memandang bulan, lalu sesekali menghela napas panjang. Pikiran orang itu sama seperti pikiran Nata, dia menyayangkan hubungannya dengan Nata yang berantakan karena situasi saat ini.
“Tidak bisa, aku harus baikan lagi dengan Nata.” pikir orang itu. Dia mulai mencari solusi untuk berbaikan.
“Hai, Ar, ini penting.” Lamunannya putus karena mendengar panggilan seseorang, ternyata Bagas.
“Ada apa, Kang?” tanya Arya.
“Nata, Ar, Nata!!” bicaranya putus-putus sebab napasnya naik turun.
“Kenapa dengan Nata?” tanya Arya tak sabaran, dia panik.
“Aku tadi mendengar dia bicara dengan orang lain, dia menjelek-jelekkan kamu, mengatakan bahwa kamu tidak pantas di sini. Dia ingin menyingkirkan kamu.” jelas Bagas.
“Beneran, Kang? Kurang ajar!” Arya mulai tersulut emosinya, tangannya terkepal menahan marah.
“Tapi kamu jangan marah dulu, Ar, tanya dulu ke Nata. Siapa tahu aku yang salah mendengar.” ucap Bagas.
“Ah, tidak usah, Kang. Pendengaranmu sudah jadi bukti. Akan kuberi tahu dia nanti, siapa yang pantas disingkirkan.” jawab Arya kalap, marah telah menguasai dirinya, membuat dia sudah tidak bisa berpikir jernih.
“Eh, mau ke mana, Ar?” Bagas bertanya, melihat Arya berdiri.
“Tidur, Kang. Aku berpikir untuk menyingkirkan Nata besok.”
Bagas diam memandangi tubuh Arya yang semakin hilang ditelan kegelapan. Lalu ikut pergi meninggalkan suasana malam yang semakin larut.
***
Langit pagi bersinar terang, ditambah semilir angin yang sejuk menyambar-nyambar kulit. Tapi suasana itu berbanding terbalik dengan isi kepala Nata dan Arya. Pikiran mereka sama-sama panas karena kejadian kemarin, mereka berkeinginan untuk cepat bertemu, mata mereka saling mencari di setiap gerombolan orang yang belajar dengan Ki Paraba.
Ketika pembelajaran selesai, akhirnya mata mereka saling bertemu, segera mereka saling menghampiri. Kaki mereka bertemu berhadapan, mata saling memandang, tapi sikap mereka diam yang menambah suasana menjadi tegang.
“Jangan sok kamu, Nat, mentang-mentang lebih lama sedikit di sini dariku, perlu kamu ketahui aku tidak takut padamu.” ucap pelan Arya, tapi terdengar jelas di telinga Nata.
“Apa maumu, Ar? Aku layani!” nada Nata meninggi, dia sudah tersulut emosinya mendengar omongan Arya.
“Kita bertarung di Lembah Sengkala, kita buktikan siapa dari kita yang pantas di sini. Sesuai perkataanmu.” Arya bicara sambil berlalu melewati Nata.
“Sesuai perkataanku? Aku berkata apa? Ah, sudahlah. Akan kusiapkan nanti tenagaku untuk bertarung dengannya.” batin Nata, dia juga tidak dapat berpikir jernih ketika emosi menguasainya.
Seseorang yang mengamati keduanya dari jauh tak tahan untuk menyeringai senang, dia tak sabar menanti keduanya mati. Jiwanya melayang-layang senang melihat musuhnya akan binasa.
“Hahaha, berhasil. Aku berhasil membuat kalian masuk permainan indahku. Aku tak perlu repot-repot mengotori tanganku, karena amarah sendiri telah menguasai kalian.” batin orang itu menyimpan penuh bahagia.
Padahal ketika bicara sedikit lagi, pertarungan mereka tidak akan terjadi, dalang di balik informasi yang mereka dapatkan juga akan terungkap. Tapi amarah dan informasi yang didapatkan dari orang lain telah membutakan mereka. Nyatanya ilmu agama yang telah dipelajari belum cukup untuk mengendalikan diri mereka, hingga membuat mereka lupa mencari penjelasan dan berpikir dingin menanggapi itu semua.
***
Lembah Sengkala, lembah yang terlihat di barat Padepokan Chandra Dimuka. Posisinya lumayan jauh. Seseorang jika ke sana harus menyeberangi dahulu sungai yang deras airnya. Orang yang ke sana akan kesusahan jalan karena jalannya yang terjal penuh bebatuan. Namun rintangan itu tidak menyulitkan Nata dan Arya, atas ilmu bela diri tinggi yang dikuasai, mereka dengan mudah menyelesaikan semuanya. Dengan berlari mereka melewati medan tanpa hambatan apapun. Melompat dari pohon ke pohon, bergelantungan di kayu, dan banyak lainnya hingga membuat mereka akhirnya cepat sampai di lapangan yang luas dengan rumput-rumput yang tinggi, yang lokasi ini dikenal dengan Lembah Sengkala.
Mereka tiba bersamaan, keduanya melangkah ke tengah-tengah tanah yang luas. Berdiri saling berhadapan dengan jarak delapan langkah. Di belakang punggung Nata terlihat pedang panjang, lalu di belakang punggung Arya ada sebilah tombak. Mereka mulai bersiap bertarung. Mata mereka saling memandang satu sama lain.
“Kamu mau kita bertarung pakai senjata atau tangan kosong?” Nata memulai pembicaraan di tengah suasana yang tegang.
“Terserah, yang mudah saja buat kamu.” ejek Arya.
“Oh, kalau begitu pakai senjata saja, biar terkena langsung membuat kamu terkapar mati.” tawa Nata membahana keras.
“Jangan banyak omong, pecundang!” teriak Arya emosi. Nata menghentikan tawa, mencabut pedangnya, bersiap bertarung.
Dia bergerak maju, lalu mengayunkan pedang dari samping. Arya menangkis dengan tombaknya, lalu menyerang menusuk dengan tombaknya. Nata mengelak ke samping. Arya menyerang lagi memutar gagang tombaknya, Nata menangkisnya. Arya mengayunkan tendangan, membuat Nata terpental tiga langkah.
Arya cepat menyerang. Dia bergerak memutar lalu menusuk. Nata menundukkan kepalanya, pedangnya dibabatkan pada kaki Arya. Arya melompat, kakinya menendang dada Nata yang kosong pertahanannya. Nata terjatuh. Dia berguling-guling menghindari tusukan tombak Arya yang mengejarnya, lalu segera melompat memasang kuda-kuda. Tak berhenti, Arya terus menyerang. Dia mengayunkan tombak menggunakan jurus Air Deras, jurus yang terlihat beribu-ribu tusukan, jurus yang menggunakan kecepatan tinggi di atas rata-rata.
Nampaknya Nata siap. Dia juga bergerak dengan jurus Kilat, jurus cepat dalam menghindar, langkahnya gesit, sesekali juga mengirim balasan. Dan jadilah pertarungan epik dan seru, pertarungan jarak dekat yang sulit diikuti mata yang berlangsung dua menit. Pertarungan yang salah sedikit bisa membuat nyawa hilang dari tubuh. Pedang dan tombak mereka bertemu memercikkan percikan api, lalu bersamaan mereka mundur menjaga jarak. Terlihat dada Nata bersimbah darah, sedangkan Arya wajahnya tergores garis panjang lurus dari mata ke dagu. Napas mereka menderu panjang, mata tajam saling menatap, gagang senjata yang dipegang erat.
“Menyerahlah!” ucap lantang Nata.
“Kalau tidak mau, kenapa? Hah!” tantang Arya, matanya melotot.
“Oh, oke. Kalau itu maumu.” Nata mulai mengeluarkan pisau terbang.
Arya menggeram panjang, tidak takut sama sekali.
Nata bergerak, pedang di tangan kiri, pisau terbang di tangan kanan. Dia berputar sembilan derajat, melempar pisaunya. Pisau terbang menuju Arya. Arya siap. Dia mengelak ke samping. Setelah menghadap kembali, pedang Nata menyambutnya. Arya cepat menangkis. Nata ganti berputar menendang menggunakan tumit. Arya terpental. Belum sempurna berdiri tegak, pisau terbang mengarah padanya. Arya refleks menunduk. Tapi pisau menggores leher Arya, membuat darah mengalir di sana.
“Hahaha, kamu ingin mati?” tawa Nata keras meremehkan Arya.
“Oh iya, kita belum selesai. Aku masih sanggup.” balas Arya tajam, lalu bergerak cepat menyerang.
Dia berlari cepat. Nata segera melemparkan pisaunya. Pisau terbang mengarah ke Arya. Segera Arya melompat ke depan, berguling ke tanah. Nata menyambut, mengayunkan pedangnya. Arya berguling ke samping lalu menendang. Nata oleng. Dia menyerang membabatkan pedangnya. Arya menangkis, menancapkan tombaknya di tanah, lalu berpegangan dengan tombak dan melompat ke depan menerjang. Tendangannya membuat Nata roboh ke belakang dan berguling-guling di tanah.
“Kamu kira aku mudah kalah, hah!” ucap lantang Arya. Nata berdiri merapikan pakaiannya yang berdebu, menepuk-nepuknya.
“Oh, kamu merasa menang ya?” senyum sinis Nata.
“Oke, kita tingkatkan levelnya,” lanjutnya.
“Siapa takut, pecundang, hahaha!” tawa Arya membahana kencang.
Nata bersiap, tangannya masih memegang pisau dan pedang.
“Ini pisau terakhir. Aku harus bisa membuatnya kalah,” pikir Nata. Dia segera berlari mengarah ke Arya. Tangannya siap melempar pisau. Ketika sudah berhadapan dan pisau siap diayunkan, tiba-tiba Arya melemparkan tombaknya. Gerakan itu membuat Nata kaget tak menyangka. Cepat kepalanya diolengkan ke samping. Berhasil, tombak tidak membunuhnya, tapi hanya menggores pipinya.
Ketika Nata menghadapkan kepalanya lagi, Arya melompat.
“BUK!”
Lutut Arya menghantam wajah Nata, membuatnya terhenyak sakit hingga menjatuhkan pedang dan pisau terbangnya. Tak berhenti, dengan brutal Arya melayangkan beribu-ribu pukulan di wajah Nata di bawahnya, cepat dan bengis. Dengan cepat darah sudah mengotori tangannya karena wajah Nata yang sudah berlumuran darah. Dia menghentikan pukulan ketika merasa orang yang dipukul tidak bergerak lagi. Lalu berdiri, merapikan pakaiannya yang kotor.
“Lemah,” ucapnya, lalu melangkah pergi dengan tubuh yang sempoyongan.
“Aku belum kalah!” Langkah Arya berhenti ketika mendengar teriakan itu. Dia menoleh, menghadapkan lagi tubuhnya.
Terlihat Nata sudah bangun dari robohnya, kondisinya mengenaskan dengan wajah yang tertutupi darah, hanya mata kanannya yang terbuka.
“Kamu yakin?” ejek sinis Arya melihat Nata yang melangkah dengan tubuh sempoyongan berdiri tujuh langkah di depannya.
“Kamu tahu, aku tidak akan mati sebelum membunuhmu,” ucap dingin Nata.
“Keparat!” teriak Arya marah. Dia langsung berlari menyerang Nata tanpa memedulikan rasa sakit. Segera dia melancarkan pukulan yang dialiri tenaga dalam murni. Tangannya terkepal menahan keras kekuatannya.
Nata yang melihat Arya menyerang juga ikut menyerang, tubuhnya berlari menerjang. Tangannya juga dibaluti tenaga dalam murni untuk sebuah pukulan. Tubuhnya menggeram keras menahan daya tubuhnya.
Tanpa mereka sadari, pengeluaran tenaga dalam murni mereka adalah batas terakhir dengan daya kekuatan pamungkas. Jadi saat pukulan mereka yang dibaluti kekuatan pamungkas tadi berbenturan, otomatis karena daya besar bertabrakan, serangan itu berbalik mengarah ke pemiliknya sendiri, membuat mereka sama-sama jatuh karena daya tubuh diserang kekuatan sendiri.
Bersamaan dengan tubuh saling berhadapan, mereka roboh ke tanah dengan kondisi pingsan karena menahan rasa sakit luar biasa akibat kondisi organ dalam yang hancur dan rusak.
***
“Ah, pada akhirnya kita akan sama-sama mati,” ucap seseorang yang terkapar menahan rasa sakit, tubuhnya hancur, organ dalamnya rusak. Dengan terbata-bata dia bicara menyesuaikan sisa tenaganya. Sedangkan orang di sebelahnya yang sama-sama terkapar hanya diam sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.
“Kamu tahu, ini tidak akan terjadi jika kita tidak bertarung.” ucap orang itu lagi, napasnya naik turun karena tubuhnya semakin sakit.
“Sudahlah, ini adalah takdir.” Jawab pelan orang di sebelahnya.
“Ini semua kamu pemicunya, Nat.”
“Apa maksudmu, Arya? Apa bukan malah kamu yang memulai semua ini?” balas Nata tidak mau kalah, nadanya mulai marah.
“Kamu duluan, Nat, kamu bilang aku lemah dan tidak pantas di padepokan.” ucap Arya tinggi.
“Hah! Kapan aku bilang begitu, Ar? Sumpah, selama hidupku tidak pernah terucap kata-kata hina itu.” jawab Nata lunak dengan hati yang kaget.
“Kamu bohong, Nat, kamu pasti tidak suka —”
“Siapa yang bilang begitu, Ar? Siapa!” bantah Nata cepat, napasnya naik turun karena mengimbangi tenaganya. Hening mereka terdiam. Nata menunggu jawaban Arya yang tiba-tiba diam.
“Siapa, Ar?” kejar Nata.
“Bagas,” jawab Arya dengan satu nama.
Nata membeku, tak menyangka dengan semua ini. Pasalnya orang yang memberitahu Arya juga memberi tahu dia. Informasi dari Bagas, seseorang yang menemui dia tentang Arya menjelek-jelekkan dirinya.
“Oh, sekarang aku tahu tujuan dirinya mengadu aku dengan Arya. Untuk sekarang aku pastikan dari Arya dulu penjelasannya.” Batin Nata.
“Ar, aku mau tanya,” kata Nata. Arya hanya diam.
“Apakah kamu mengatakan kalau aku tidak pantas mengambil padepokan?” Pelan ucapan Nata, tapi bagai sengatan listrik untuk Arya yang mendengar. Nata menilik wajah Arya yang terkejut, berusaha mencari kebohongan, dan ternyata tidak ada. Dia menghela napas.
“Berani mati aku, Nat, jika bilang begitu.” jawab Arya.
“Ah, aku sudah tahu siapa dalangnya, Ar.”
“Maksudmu?”
“Bagas yang memberi tahu kamu juga memberi tahu aku.” jelas Nata sambil menahan sakit.
Arya yang mendengar kaget untuk kedua kalinya, membuatnya hanya diam.
“Dan tujuannya adalah menyingkirkan kita dari padepokan.” ucap Nata lagi.
“Sialan, kenapa aku tidak menyadari?” umpat Arya di sela-sela napasnya yang naik turun.
“Aku juga salah, Ar, kenapa tidak mencari kejelasan dulu.”
“Pasti sekarang dia tersenyum senang melihat kita terkapar mau mati,” adu Arya.
“Jika kita mati, Bagas juga harus disingkirkan agar tidak hancur.” Napas Nata naik turun, dia mulai emosional.
“Caranya bagaimana, Nat? Tenaga kita sudah terkuras habis.”
“Kayaknya tenagaku masih bisa, Ar, untuk telepati dengan guru.” terang Nata.
“Kamu yakin, Nat?”
“Yakin, biar ini menjadi yang terakhir sebelum maut menjemputku.” Napas Nata semakin naik turun.
“Kamu sebegitu baiknya, Nat. Aku bangga memiliki teman seperguruan seperti kamu. Dan aku juga menyesal karena memusuhi kamu tadi.” ucap Arya.
“Tidak masalah, Ar. Akulah yang menyesal karena kamu yang lebih muda ikut-ikutan mati. Padahal generasi seperti kamu dibutuhkan.” ucap Nata terbata. Arya yang melihat tak kuasa menahan air matanya yang mulai menetes.
“Kau tahu, Ar, kita seperti domba tanpa penggembala. Padahal ada guru kita, kita ikut hasutan dari orang lain yang menceritakan sesuatu entah benar atau tidaknya, tanpa memikirkan penggembala kita atau guru yang mengajar kita. Kita sama-sama terhasut, lupa kendali, dan melupakan ajaran sang guru. Maka seperti inilah kita. Dua domba termakan hasutan yang saling menyingkirkan karena cerita dari orang lain.”
“Semoga apa yang kita alami ini menjadi ajaran bagi adik-adik kita di padepokan: mencerna dan mencari informasi dulu sebelum mengambil tindakan. Agar tidak salah jalan dan berakhir seperti kita. Semoga setelah aku telepati dengan guru, beliau cepat ke mari dan kamu sempat untuk diselamatkan.” Nata bicara panjang dengan napas semakin berat. Arya diam mendengarkan, aliran air matanya semakin deras.
“Nah, tunggu sebentar, Ar. Aku konsentrasi dulu.” ucap Nata sesaat. Setelah itu matanya terpejam, tubuhnya berhenti bergerak, hanya napasnya yang terlihat hampir tidak ada. Arya melihat dengan hati yang begitu sedih, menanti-nanti apakah Nata bisa bangun lagi dengan tenaga yang sudah terkuras habis. Sekarang dirinya menyesal karena bertarung tadi. Semoga pertolongan guru cepat datang, lalu dia dan Nata terselamatkan dan bisa tertolong untuk bisa bersama lagi.
Karya: Dimas Yoga, Alumni Mansajul Ulum 2026










