Di sebuah teras bangunan pondok pesantren sederhana di tepian sungai lindur, seorang santri bernama Hadi tampak tengah merenung. Wajahnya terlihat muram layaknya mentari yang tertutupi awan mendung. Dulu, ia dikenal sebagai santri yang rajin dan sopan. Ia selalu datang lebih awal saat sholat berjamaah akan dimulai, bahkan juga sering ikut membangunkan teman-temannya yang masih tertidur. Ia hampir tidak pernah terlambat untuk semua kegiatan yang ada di pondoknya.
Di madrasah, Hadi juga terkenal sebagai santri yang giat belajar. Ia selalu mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh dan tidak malu bertanya jika ada pelajaran yang belum dipahaminya. Pernah pada acara haflah akhir tahun, namanya disebut sebagai murid terbaik di kelas. Ketika mendengar namanya dipanggil, kedua orang tuanya yang hadir saat itu tampak sangat bahagia. Mereka tidak menyangka anak yang dahulu sulit bangun pagi kini tumbuh menjadi santri yang disiplin dan berprestasi.
Setiap kali orang tuanya menjenguk, mereka selalu bangga melihat perkembangan Hadi. Teman-temannya pun sering menjadikannya sebagai contoh dalam hal kedisiplinan dan kerajinan. Jika ada santri baru yang bertanya tentang aturan pondok, pengurus sering berkata, “Lihat saja Hadi, ikuti kebiasaannya yang baik.”
Karena sikap dan kedisiplinannya itu, pada tahun ketiga mondok Hadi mendapatkan amanah menjadi salah satu pengurus. Ketika namanya diumumkan sebagai pengurus, ia merasa sangat bersyukur. Baginya, amanah tersebut bukanlah kebanggaan semata, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sekuat tenaga.
Pada awal masa kepengurusannya, Hadi menjalankan tugas dengan penuh semangat. Ia membantu membangunkan santri untuk salat berjamaah, mengingatkan teman-temannya agar mengikuti kegiatan pondok, serta membantu menyampaikan berbagai informasi dari pengurus kepada santri lainnya. Banyak ustadz yang menaruh harapan kepadanya. Santri-santri junior juga turut menghormatinya karena melihat kesungguhannya dalam menjalankan amanah.
Mendengar kabar bahwa putranya dipercaya menjadi pengurus, kedua orang tua Hadi semakin bangga. Mereka selalu mendoakan agar Hadi tetap istiqamah dalam belajar dan mengabdi di pondok.
Namun seiring waktu berjalan. Pujian dan kepercayaan yang diberikan kepadanya perlahan membuat Hadi merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Tanpa disadari, muncul rasa bangga yang berlebihan di dalam hatinya. Ia mulai merasa bahwa dirinya sudah cukup baik dan tidak perlu lagi berusaha sekeras dulu.
Memasuki tahun keempat mondok, perubahan mulai terjadi. Hadi tidak lagi seantusias dulu dalam mengikuti kegiatan. Ia mulai sering menunda-nunda pekerjaan dan menganggap aturan pondok sebagai sesuatu yang biasa saja.
Awalnya perubahan itu terlihat kecil. Ia sesekali terlambat datang untuk salat jamaah. Kadang ia memilih berdiam di kamar ketika teman-temannya berangkat mengikuti kegiatan wajib belajar. Saat pengurus menegur, Hadi hanya mengangguk tanpa benar-benar memperhatikan.
Lambat laun, kebiasaan itu semakin sering terjadi. Hadi mulai senang berkumpul dengan beberapa teman yang juga gemar melanggar aturan, terutama aturan dari sie. Keamanan. Ia sering mengobrol sampai larut malam sehingga bangun kesiangan melewatkan salat subuh. Sesekali mereka mencari alasan agar tidak mengikuti kegiatan tertentu.
“Ah, sekali-kali tidak ikut tidak apa-apa,” kata salah seorang temannya.
Kalimat seperti itu sering didengar Hadi hingga akhirnya ia menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Akibatnya, semangat belajarnya menurun. Nilai madrasahnya tidak lagi sebagus dulu. Hafalannya bertambah lambat. Bahkan beberapa kali ia mendapat catatan dari pengurus karena melanggar tata tertib keamanan pondok.
Yang lebih disayangkan, Hadi juga mulai lalai terhadap amanah yang diembannya sebagai pengurus. Ia masih mengingatkan orang lain, tetapi lupa mengingatkan dirinya sendiri. Kadang ia menegur santri yang terlambat berjamaah, padahal dirinya sendiri beberapa kali tidak ikut.
Beberapa pengurus senior mulai memperhatikan perubahan sikap Hadi. Mereka berusaha menasehatinya dengan baik.
“Di, jangan sampai amanah membuatmu lupa tujuan mondok. Menjadi pengurus bukan berarti lebih tinggi dari yang lain. Justru tanggung jawabnya lebih besar,” ujar salah seorang pengurus senior.
Namun saat itu nasihat tersebut belum benar-benar masuk ke dalam hatinya. Hadi masih menganggap semua baik-baik saja.
Hingga suatu hari, karena pelanggaran yang semakin sering dilakukan dan menurunnya tanggung jawab yang ia emban, Hadi dipanggil oleh pengurus harian dan beberapa ustadz. Dalam pertemuan itu, ia diberi banyak nasihat.
Peristiwa itu menjadi pukulan yang cukup berat bagi Hadi. Untuk pertama kalinya ia merasa kecewa terhadap dirinya sendiri. Amanah yang dahulu diperoleh karena kepercayaan kini hampir hilang karena kelalaiannya sendiri.
Meski begitu, para ustadz tidak pernah menutup pintu baginya untuk berubah. Mereka tetap membimbing dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri.
Tidak lama setelah itu, pondok sedang mengadakan renovasi pembangunan gedung baru untuk para santri. Bangunan lama sudah tidak mampu menampung jumlah santri yang terus bertambah setiap tahun. Pengasuh pondok meminta beberapa santri untuk ikut membantu sebagai bentuk khidmah. Salah satu nama yang ditunjuk adalah Hadi.
Awalnya Hadi merasa keberatan. Ia mengira pekerjaan itu hanya akan melelahkan dan mengurangi waktu istirahatnya.
“Kenapa harus saya?” gumamnya dalam hati.
Namun karena tidak enak menolak, akhirnya ia ikut serta.
Setiap hari setelah mengaji, Hadi membantu mengangkat batu bata, membersihkan area pembangunan, mengangkut pasir, dan menyiapkan kebutuhan para tukang. Pada awalnya ia menjalani semua itu dengan setengah hati. Ia hanya ingin menyelesaikan tugas yang diberikan.
Akan tetapi, hari demi hari, ada banyak hal yang mulai menarik perhatiannya.
Ia melihat beberapa santri senior bekerja tanpa mengeluh meskipun tubuh mereka penuh keringat. Ia juga melihat para ustadz yang tetap ikut membantu setelah mengajar seharian. Bahkan beberapa santri ndalem juga ikut membantu, padahal seharian habis masak untuk para santri.
Pemandangan itu membuat Hadi bertanya-tanya.
“Kenapa mereka begitu semangat?” pikirnya.
Suatu siang yang terik, ketika sedang mengangkut batu bata, Hadi melihat pengasuh pondok berjalan perlahan di sekitar pembangunan. Padahal usia beliau sudah tidak muda lagi. Dengan langkah yang tenang, beliau memeriksa setiap sudut bangunan sambil sesekali memberikan arahan.
Wajah beliau terlihat lelah, tetapi senyumnya tidak pernah hilang.
“Semua ini untuk kalian, para santri,” tutur beliau.
“Di, teruslah jadi orang yang bermanfaat. Pondok ini adalah miniatur masyarakat. Ujian yang ada di pondok tidak seberapa dibandingkan ujian ketika nanti terjun ke masyarakat. Lebih baik merasa berat dulu ketika mencari ilmu daripada nanti terjun ke masyarakat tanpa ilmu.” sambung beliau di sela-sela Hadi tengah istirahat bersama beberapa temannya.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat dalam bagi Hadi. Sejak hari itu, kata-kata sang kiai terus terngiang di benaknya.
Malam harinya, Hadi duduk sendirian di dekat bangunan yang belum selesai. Ia memandangi tumpukan bata yang siang tadi ia susun. Angin malam berembus pelan, sementara suasana pondok mulai tenang.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa pondok yang selama ini ia tempati tidak berdiri begitu saja. Ada pengorbanan yang besar di baliknya. Ada doa para kiai, jerih payah para pekerja, dan sedekah dari banyak orang yang bahkan tidak pernah dikenalnya.
Ia teringat bagaimana para santri bisa belajar dengan nyaman karena ada orang-orang yang berjuang tanpa banyak bicara.
Di tengah kesibukannya, sang kiai juga selalu memperhatikan keadaan santri. Bahkan beliau hampir tidak pernah meninggalkan pengajian. Ketika harus bepergian sekalipun, beliau masih menyempatkan mengajar secara online agar para santri tetap mendapatkan ilmu.
Hadi merasa malu kepada dirinya sendiri.
Selama ini ia tinggal di pondok, menikmati fasilitas yang ada, belajar dari para guru, tetapi justru sering mengabaikan aturan yang dibuat untuk kebaikannya sendiri. Ia juga teringat amanah kepengurusan yang pernah diberikan kepadanya. Amanah yang seharusnya menjadi jalan untuk berkhidmah justru hampir ia sia-siakan.
Malam itu ia banyak merenung. Ia mengingat kembali perjalanan hidupnya selama mondok. Ia teringat semangatnya saat pertama kali datang, doa kedua orang tuanya ketika mengantarnya ke pondok, serta harapan besar yang mereka titipkan. Perlahan air matanya menetes.
Sejak saat itu, Hadi mulai berusaha memperbaiki diri. Ia kembali membiasakan datang lebih awal dalam mengikuti semua kegiatan. Ia mulai rajin kembali dan lebih serius saat mengaji. Jika mendapat tugas dari pengasuh, ia melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Ia juga mulai membantu teman-temannya yang kesulitan dalam belajar.
Perubahan itu tentu tidak langsung mudah. Ada kalanya ia merasa malas. Ada kalanya ia ingin kembali pada kebiasaan lamanya. Namun setiap kali semangatnya menurun, ia teringat nasihat sang kiai dan pengalaman selama ikut pembangunan pondok.
Beberapa temannya sampai merasa heran melihat perubahannya tersebut.
“Sekarang rajin sekali, Di,” kata salah seorang temannya sambil bercanda.
Bahkan ada yang mengolok-oloknya dan mengatakan bahwa perubahan itu tidak akan bertahan lama.
Namun Hadi hanya tersenyum. Ia memahami bahwa berubah memang tidak selalu mendapat dukungan dari semua orang. Ia juga sadar bahwa memperbaiki diri adalah perjuangan yang harus dilakukan setiap hari.
Dalam hati ia berkata, “Berubah memang berat pada awalnya, terasa kacau di tengah-tengahnya, tetapi akan indah pada akhirnya.”
Beberapa bulan kemudian, renovasi gedung pondok akhirnya selesai. Bangunan itu berdiri kokoh dan siap digunakan oleh para santri. Hadi berdiri memandangi bangunan tersebut dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa bukan hanya gedung yang telah dibangun selama beberapa bulan terakhir, tetapi juga dirinya sendiri.
Ia teringat sebuah nasihat yang sering didengar dari sang kiai,
“Orang yang khidmah kepada pesantren bukan hanya membangun pondok, tetapi sedang membangun hatinya sendiri.”
Kini Hadi benar-benar memahami makna dari nasihat tersebut. Ia menyadari bahwa ilmu tidak hanya didapat dari kitab yang dibaca atau pelajaran yang dihafal, tetapi juga dari pengabdian, kerja keras, keikhlasan, dan rasa syukur.
Dari khidmah itulah Hadi belajar tentang arti perjuangan. Dari khidmah itu pula ia belajar menghargai jerih payah orang lain. Dan melalui khidmah itu, ia akhirnya menemukan kembali jalan yang sempat ia tinggalkan.
Sejak hari itu, Hadi bertekad untuk menjaga semangatnya dalam menuntut ilmu. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia ingin menjadi santri yang tidak hanya pandai dalam ilmu, tetapi juga memiliki hati yang tulus untuk mengabdi.
Dari perjalanan tersebut ia menemukan suatu pelajaran berharga untuk bekal hidupnya. Seseorang bisa saja tersesat di tengah perjalanan, tetapi selama masih mau memperbaiki diri dan kembali kepada jalan yang benar, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Karya: Muhammad Khoirun Niam, santri Mansajul Ulum.










